SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Oil Shock Hantam ASEAN: Inflasi Membakar, Bank Sen...

Ekonomi

Oil Shock Hantam ASEAN: Inflasi Membakar, Bank Sentral Tersudut

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak yang kini mulai menggerogoti pertumbuhan ekonomi ASEAN. Filipina jadi korban pertama yang terasa nyata: GDP meleset, inflasi tertinggi dalam tiga tahun.

ASEAN Dikepung Inflasi, Bank Sentral Bersiap Naikkan Bunga - Market

Lebih dari dua bulan sejak guncangan pasokan energi mulai membakar pasar global, kawasan ASEAN kini berdiri di persimpangan yang tidak nyaman. Harga minyak bertahan di atas US$100 per barel. Negara-negara yang selama ini bergantung pada impor energi mulai merasakan efeknya satu per satu, dan tidak semuanya punya amunisi yang sama untuk bertahan.

Filipina jadi contoh paling gamblang. Ekonominya hanya tumbuh 2,8% secara tahunan di kuartal pertama 2026, jauh di bawah ekspektasi ekonom yang memasang angka 3,5%. Secara kuartalan, angkanya bahkan cuma 0,9%, meleset dari proyeksi 1,5%. Bersamaan dengan itu, inflasi April menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, terbakar lonjakan biaya BBM akibat konflik Iran yang belum juga mereda.

Dua data yang keluar hampir bersamaan ini menempatkan Bangko Sentral ng Pilipinas pada posisi yang, jujur saja, serba salah.

Dari sisi permintaan domestik, kondisinya tidak lebih baik. Konsumsi rumah tangga melambat ke 3,3% dari 3,8% di kuartal sebelumnya, sinyal bahwa daya beli kelas menengah mulai terkikis. Investasi juga terseret, hanya tumbuh 3,3%, sebagian karena persetujuan anggaran yang tertunda di awal tahun menahan kepercayaan investor. Yang menopang GDP agar tidak amblas lebih dalam adalah belanja pemerintah, naik ke 4,8% dari 3,7% di periode sebelumnya. Tanpa bantuan fiskal itu, angkanya bisa jauh lebih buruk.

Pola ini bukan cuma soal Filipina.

Bloomberg Economics memperingatkan bahwa perbedaan arah kebijakan antar bank sentral ASEAN tidak akan bertahan lama. Singapura dan Filipina memang sudah lebih dulu mengetatkan kebijakan moneternya sejak April. Tapi Indonesia, Thailand, dan Malaysia masih memilih menahan suku bunga, agaknya menimbang risiko pelemahan pertumbuhan yang lebih dalam. Pertanyaannya, berapa lama posisi itu bisa dijaga?

Kalau harga energi tetap bertengger di atas US$100 per barel hingga pertengahan tahun, hampir seluruh bank sentral di kawasan bisa dipaksa masuk ke fase pengetatan baru, mau tidak mau. Hampir semua negara ASEAN sangat sensitif terhadap inflasi energi dan pangan. Ruang untuk bersabar pun kian tipis.

Di hari yang sama ketika data GDP Filipina dirilis mengecewakan, pasar ekuitas Asia lain justru rally pasca-libur Golden Week, terutama diangkat saham-saham teknologi dan semikonduktor yang relatif tidak terekspos harga energi. Kontras yang cukup mencolok. Sekaligus mengingatkan bahwa dalam episode oil shock seperti ini, bukan semua sektor atau negara menanggung beban yang sama.

Negara-negara dengan defisit transaksi berjalan perlu kewaspadaan ekstra. Pelemahan mata uang jadi risiko lanjutan yang bisa memperparah tekanan inflasi impor, membentuk lingkaran setan yang sulit diputus hanya dengan kebijakan moneter semata.

Satu pertanyaan yang kini diperhatikan investor regional: apakah pola yang dialami Filipina ini akan berulang di negara ASEAN lain dengan profil makro serupa? Indonesia dan Thailand punya struktur impor energi yang berbeda, sehingga eksposurnya tidak identik. Tapi selama harga minyak belum turun, tidak ada yang benar-benar aman dari tekanan ini. Bak gayung bersambut yang salah waktu, oil shock dan perlambatan domestik kini bergerak beriringan, dan bank sentral kawasan tampaknya mulai kehabisan alasan untuk diam.