Rupiah di atas Rp17.000 per dolar AS bukan sekadar angka psikologis. Buat investor yang masih pegang saham-saham berbiaya impor tinggi, ini alarm.
Sepanjang 2025 hingga kini, IHSG sudah tergerus 19,40% secara year-to-date. Bersamaan dengan itu, asing melepas saham senilai neto Rp37,60 triliun dari bursa domestik. Angka yang tidak kecil.
Efek dominonya langsung ke nilai tukar. Setiap kali asing keluar, mereka mengkonversi rupiah ke dolar, eh, maksudnya, mereka menukar posisi rupiah ke dolar, dan tekanan ke kurs pun makin berat. "Apalagi ketika outflow terjadi bersamaan di pasar saham dan pasar obligasi, efeknya ke rupiah bisa menjadi lebih signifikan," ujar Head of Equity Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi.
Di pasar Surat Berharga Negara, situasinya tak kalah suram. Asing sudah menarik Rp23,79 triliun sepanjang Januari hingga April 2026, menyisakan posisi Rp856,14 triliun. Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI Salvian Fernando menyebut SBN selama ini jadi pintu masuk utama modal asing. "Ketika investor asing melakukan penjualan SBN dalam jumlah besar, maka proses repatriasi dana dari rupiah ke dolar AS otomatis meningkatkan permintaan valas dan menekan nilai tukar rupiah," katanya.
Dua pasar, satu arah. Semua mengarah ke luar.
Salvian mengingatkan bahwa tekanan ini bukan semata soal dalam negeri. Suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama dari ekspektasi, ditambah ketegangan geopolitik Iran-AS yang mendorong perburuan aset safe haven, membuat modal asing enggan masuk kembali ke emerging market seperti Indonesia. Kondisi eksternal itu agaknya belum akan reda dalam waktu dekat.
Lalu apa yang seharusnya dilakukan investor?
Wafi memproyeksikan paruh kedua 2026 masih diwarnai volatilitas, dengan IHSG cenderung bergerak sideways dan rebound terbatas, selama stabilitas rupiah belum pulih dan suku bunga global belum turun. "Arah market masih sangat bergantung pada flow asing dan stabilitas makro," katanya. Dalam kondisi seperti ini, pilihan sektor jauh lebih krusial ketimbang mencoba menebak arah pasar.
Paling rentan: aviasi, petrokimia, otomotif, dan sebagian konsumer. Eksposur besar ke utang dolar membuat setiap pelemahan rupiah langsung menggerogoti margin mereka. Bukan waktu yang tepat untuk averaging down di sana tanpa kalkulasi yang matang.
Sebaliknya, Wafi merekomendasikan saham dengan fundamental solid dan risiko kurs minimal. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masuk dalam daftarnya. Buat yang ingin lindung nilai terhadap pelemahan rupiah, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dinilai menarik sebagai instrumen hedging berbasis komoditas.
Kalau rupiah terus bertahan di atas Rp17.000, investor asing akan makin defensif. Return mereka terlalu mudah tergerus oleh kurs sebelum sempat menikmati kenaikan harga saham. Entah kebetulan atau tidak, skenario itu persis yang sedang kita jalani sekarang.