Jumat lalu seharusnya jadi hari biasa. Tapi bagi pemegang saham di Bursa Efek Indonesia, angka penutupan itu cukup bikin dada sesak.
IHSG amblas 204,92 poin atau 2,86%, menutup sesi di level 6.969. Bukan cuma turun, tapi turun paling dalam. Dari 34 bursa saham lain yang dipantau, total 35 bursa, tidak ada satu pun yang nyungsep sedalam IHSG pada hari itu. Bursa-bursa Asia memang kompak melemah, tapi IHSG seolah berlomba sendiri ke bawah.
Angka yang besar. Dan bukan pertama kalinya.
Nilai transaksi sesi Jumat itu mencapai Rp36,09 triliun, dengan 56,34 miliar saham berpindah tangan dan frekuensi perdagangan 2,82 juta kali. Dominasi penjualan terlihat jelas, bak air bah yang susah dibendung.
Pertanyaannya: kenapa selalu IHSG yang paling babak belur?
Kalau mau jujur, ini bukan semata soal sentimen global yang memburuk. Pasar lain pun kena dampak eksternal yang sama, tapi koreksi mereka jauh lebih terkendali. Ada sesuatu yang agaknya memang berbeda, dan tidak terlalu menyenangkan, dalam struktur pasar modal Indonesia dibanding bursa-bursa tetangganya.
Likuiditas tipis jadi tersangka lama. Basis investor domestik yang belum cukup dalam membuat IHSG rentan digoyang arus keluar asing. Ketika foreign flow berbalik arah, tidak ada bantalan tebal untuk meredam kejatuhan. Investor ritel yang harusnya jadi penyeimbang justru sering ikut panik, memperparah tekanan jual.
Belum lagi soal komposisi indeks yang masih didominasi sektor lama: perbankan dan komoditas. Emiten teknologi dan ekonomi digital yang jadi magnet investor global porsinya masih kecil. Entah kebetulan atau tidak, bursa-bursa yang bertahan lebih baik dari badai global umumnya punya eksposur lebih besar ke sektor-sektor itu.
Solusi jangka panjangnya? Bukan rahasia. Pendalaman pasar modal, mendorong lebih banyak perusahaan berkualitas untuk melantai di bursa, memperkuat basis investor institusi domestik, membenahi ekosistem agar investor asing tidak mudah kabur begitu ada guncangan. Semuanya sudah berulang kali disebut. Yang kurang adalah eksekusi. Selalu eksekusi.
Level 6.969 itu bukan sekadar angka. Cermin retak dari pekerjaan rumah yang belum selesai.