KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Market  ›  Kospi Cetak Rekor, Pasar Asia Terbelah di Tengah K...

Market

Kospi Cetak Rekor, Pasar Asia Terbelah di Tengah Krisis Hormuz

Bursa Asia bergerak bervariasi di awal pekan, dengan Kospi Korea Selatan melesat ke rekor baru sementara pasar global menahan napas menyusul penolakan Trump atas proposal damai Iran.

Bursa Asia Dibuka Variatif, Kospi Lanjut Cetak Rekor

Senin pagi, Kospi bikin kejutan. Indeks saham Korea Selatan itu dibuka melonjak 3,67% dan langsung mencetak rekor tertinggi baru, pencapaian yang terasa ganjil di tengah suasana pasar global yang sesungguhnya sedang was-was.

Kosdaq ikut bergerak tipis ke zona hijau. Nikkei 225 naik 0,81%, Topix menguat 0,32%. Tapi tidak semua ikut pesta: S&P/ASX 200 Australia tergelincir 0,71%, dan kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong bertengger di 26.250, di bawah penutupan terakhirnya di 26.393,71.

Apa yang bikin pasar tidak kompak? Iran.

Pekan lalu, Teheran mengajukan proposal tandingan kepada negosiator AS, yang mencakup penghentian perang di seluruh front sekaligus pencabutan sanksi. Tawaran yang, agaknya, tidak disambut baik. Trump langsung menolak lewat unggahan di Truth Social, menyebut respons Teheran "TOTALLY UNACCEPTABLE!". PM Israel Benjamin Netanyahu pun mempertegas posisinya bahwa perang "belum berakhir", tepat menjelang kunjungan Trump ke China untuk bertemu Xi Jinping pekan ini.

Ketegangan ini bukan sekadar drama diplomatik. Iran menutup Selat Hormuz, dan konsekuensinya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak melesat. West Texas Intermediate untuk kontrak Juni naik 3,39% ke US$98,65 per barel. Brent kontrak Juli menguat 3,37% ke US$104,66 per barel. Harga bensin di AS ikut terpukul.

Bukan angka kecil.

Di sisi futures AS, suasananya lebih suram. Dow Jones Industrial Average futures turun 143 poin atau 0,3%. S&P 500 dan Nasdaq 100 futures masing-masing terkoreksi 0,3% juga. Ini terjadi setelah Wall Street baru saja merayakan reli panjang: S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melesat lebih dari 2% dan 4% sepanjang pekan lalu, membukukan enam pekan penguatan beruntun untuk pertama kalinya sejak 2024. Dow Jones sendiri naik 0,2% pekan lalu, penguatan mingguan kelima dalam enam pekan terakhir.

Skenarionya kini cukup klasik, kalau bisa disebut begitu: reli panjang Wall Street bertemu tekanan geopolitik yang belum ada ujungnya. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bisa bertahan? Bagi investor yang sudah riding the wave sejak beberapa pekan terakhir, entah kebetulan atau tidak, tepi itu mulai terasa licin.