SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  MSCI Coret 6 Emiten RI, OJK: Short-Term Pain yang...

Ekonomi

MSCI Coret 6 Emiten RI, OJK: Short-Term Pain yang Sudah Diperhitungkan

MSCI Inc. mengeluarkan 6 emiten Indonesia dari Global Standard Index dan 13 dari Small Cap Index pada review Mei 2026. OJK menyebut ini konsekuensi yang sudah diantisipasi dari reformasi integritas pasar modal.

Mirip RI, MSCI Pernah Mendepak Ratusan Saham Negara Lain: China Parah!

Enam emiten Indonesia resmi dicoret dari MSCI Global Standard Index, ditambah 13 saham lainnya yang keluar dari MSCI Global Small Cap Index. Pengumuman itu terbit dini hari Rabu (13/5/2026), langsung menyedot perhatian pelaku pasar. OJK sudah menduganya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menegaskan hasil rebalancing ini bukan kejutan. Reaksi harga saham yang terdampak, katanya, adalah konsekuensi yang sejak awal masuk dalam kalkulasi. "Secara struktural ini tentu akan memiliki implikasi jangka pendek berupa penurunan dan reaksi penyesuaian harga-harga saham yang terdampak. Sehingga istilah short-term pain, bahwa kita harus menghadapi tingkat penurunan di jangka pendek ini menjadi konsekuensi yang sudah kita perhitungkan dan perkirakan sejak awal," ujar Hasan.

Pemicunya bukan semata tekanan makro. Masalah Indonesia lebih ke dalam: rendahnya transparansi free float dan tingginya konsentrasi kepemilikan. Banyak emiten mengaku punya free float tinggi, tapi data yang diterima MSCI tidak sesuai. Akibatnya, pencoretan otomatis tak terhindarkan, pembekuan sementara pun diberlakukan sampai standar transparansi dipenuhi.

Indonesia tidak sendirian kena tampar. Malaysia juga kehilangan 6 emiten dari indeks standar, tanpa satu pun penambahan. Jepang melepas 14 emiten, Taiwan 7, Korea Selatan 3. Bahkan China yang menambah 22 emiten sekalipun tetap kehilangan 24 saham lain dari indeks yang sama.

66 berbanding 5. Itulah angka pemangkasan China pada Februari 2024, murni akibat krisis sektor properti, dilanjutkan 56 keluar dan 10 masuk tiga bulan berselang. Jepang punya kisah berbeda: depresiasi tajam Yen menggerus valuasi pasar hingga 22 saham amblas sekaligus pada Mei 2022. MSCI memang tidak mengenal kompromi.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi memilih framing yang lebih tenang. Perubahan komposisi indeks, kata Friderica, adalah mekanisme review berkala berbasis parameter objektif seperti kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, dan dinamika harga. "Kami memandang ini sebagai momentum untuk terus memperkuat integritas dan pendalaman pasar modal Indonesia," ungkapnya.

Hasan menambahkan bahwa rebalancing kali ini semestinya membentuk baseline baru bagi pasar modal domestik. Tujuannya: mendorong kualitas saham-saham tercatat di Bursa Efek Indonesia agar makin kredibel di mata investor.

Sebagai penyangga jangka pendek, OJK memperpanjang kebijakan buyback saham tanpa melalui RUPS. PER IHSG yang kini bertengger di kisaran 16 kali, ditambah pertumbuhan pendapatan dan laba emiten yang positif di kuartal I-2026, diklaim sebagai bukti pasar modal Indonesia masih kompetitif secara valuasi. Kalau data ini bisa dipercaya, setidaknya fondasinya belum retak.

Pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat emiten Indonesia bisa membenahi standar transparansi yang selama ini jadi ganjalan? Selama itu belum tuntas, status "investable" di mata investor institusional global masih pekerjaan rumah yang menggantung.