Cadangan devisa India sudah terkikis sekitar 38 miliar dolar AS sejak perang Iran pecah. Bukan angka kecil, dan pemerintah New Delhi agaknya sudah tidak punya banyak ruang untuk berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Narendra Modi turun tangan langsung. Dalam acara publik di Hyderabad pada 10 Mei lalu, perdana menteri itu meminta warga bekerja dari rumah bila bisa, mengurangi perjalanan luar negeri, membeli lebih sedikit emas, dan menghemat bahan bakar. Seruan semacam ini terakhir kali terdengar saat pandemi Covid-19, ketika Modi mengandalkan mobilisasi moral massal untuk menghadapi krisis. Bedanya kali ini: musuhnya bukan virus, melainkan defisit devisa dan harga minyak yang tak mau turun.
Beberapa hari setelah pidato itu, perusahaan minyak negara India menaikkan harga bensin dan solar sebesar 3 rupee per liter, atau lebih dari 3 persen. Di New Delhi, bensin kini dijual 97,77 rupee per liter dari sebelumnya 94,77 rupee. Solar naik ke 90,67 rupee dari 87,67 rupee. Kenaikan pertama dalam empat tahun. Datang setelah perusahaan-perusahaan itu berulang kali mencatat kerugian karena menjual BBM di bawah harga keekonomian.
Penyebabnya tidak sulit dilacak. Selat Hormuz, jalur laut yang melayani sekitar separuh impor minyak mentah India, praktis tersumbat lebih dari dua bulan akibat konflik Iran. India, konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, sangat rentan terhadap gangguan ini karena sekitar 90 persen kebutuhan minyak mentahnya dipasok dari luar negeri, begitu pula setengah kebutuhan gas alamnya. Harga minyak global kini bertengger di sekitar 100 dolar AS per barel, menggerus anggaran energi yang sudah tegang sejak awal.
India memang sudah menggenjot impor minyak dari Rusia untuk menambal kekurangan pasokan Timur Tengah. Tapi substitusi itu tidak sepenuhnya menutup celah. Tekanan pada neraca pembayaran tetap terasa. Defisit neraca pembayaran India disebut sudah melampaui 70 miliar dolar AS, sementara investor asing menarik sekitar 22 miliar dolar AS dari pasar saham India dalam beberapa waktu terakhir.
Uday Kotak, bankir senior India, tidak memakai kata-kata lunak. Dalam forum pemimpin industri pekan ini, ia mengatakan, "Kita harus bersiap untuk paranoia sebelum kejadian. Kita harus bersiap untuk yang terburuk." Kotak juga memperingatkan bahwa transmisi harga energi ke konsumen belum sepenuhnya terjadi. "Kita belum melihat dampak dua bulan terakhir perang Timur Tengah dalam hal transmisi harga energi. Itu akan datang dan akan datang dengan besar dan konsumen sama sekali belum merasakan tekanannya," tegasnya.
Ekonom Nomura membaca seruan Modi bukan sebagai kampanye moral biasa. Mereka menafsirnya sebagai sinyal bahwa tekanan fiskal sudah mendekati titik kritis, bahwa pemerintah semakin enggan membiarkan rupee tergerus lebih jauh, dan bahwa beban penyesuaian mulai digeser secara bertahap ke pundak konsumen. Nomura memproyeksikan defisit fiskal India melebar ke 4,6 persen terhadap PDB pada Maret 2027, melampaui target pemerintah di angka 4,3 persen.
Rupee sudah amblas 6 hingga 7 persen tahun ini, menjadikannya salah satu mata uang Asia dengan kinerja terburuk. Ruchir Sharma, investor global yang sudah tiga dekade malang melintang di pasar berkembang, mengatakan, "Dalam 30 tahun saya berinvestasi, saya belum pernah melihat ketidakpedulian investor seperti ini terhadap India." Ekonom Rajeswari Sengupta dari Indira Gandhi Institute menunjuk lemahnya pijakan India di sektor teknologi baru, mulai dari kecerdasan buatan, baterai, hingga kendaraan listrik, sebagai salah satu akar masalah yang membuat modal global lebih memilih negara Asia lain.
Pertanyaannya, berapa lama pemerintah bisa terus menahan kenaikan harga tanpa konsekuensi fiskal yang lebih parah? Subsidi energi yang selama ini dinikmati seluruh lapisan masyarakat kini dinilai tidak lagi bisa dipertahankan. Kalau data ini bisa dipercaya, tekanannya bak gayung bersambut: lonjakan harga impor bertemu arus modal yang kabur. Para ekonom menyarankan agar bantuan energi difokuskan ke rumah tangga miskin, khususnya untuk gas memasak, bukan disubsidi rata untuk semua. HSBC menyebut kondisi inflasi India saat ini sebagai "ketenangan sebelum kenaikan" dan memperingatkan kombinasi lonjakan harga energi dengan dampak El Nino berpotensi memaksa bank sentral kembali mengerek suku bunga. Kadang perlu krisis untuk memaksa keputusan yang sudah lama ditunda.