JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Perbankan  ›  Laporan Keuangan Semester I Mulai Banjir, Analis P...

Perbankan

Laporan Keuangan Semester I Mulai Banjir, Analis Pilih BBCA hingga BRIS

Musim rilis laporan keuangan perbankan semester I-2025 resmi dimulai. Kinerja belum terlalu mengesankan, tapi sejumlah analis justru melihat peluang akumulasi di saham-saham pilihan.

Ciptadana Capital | News

Musim laporan keuangan semester I-2025 sudah ketuk pintu. Bank-bank besar mulai antre unjuk angka, dan hasilnya, setidaknya untuk yang sudah rilis, tidak sepenuhnya membuat investor semringah.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) jadi yang paling awal membuka kartu. Laba bersih perseroan di semester pertama tercatat Rp 10 triliun, amblas 5,6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bunga bersih memang naik tipis 2,3% YoY dari Rp 19,1 triliun menjadi Rp 19,5 triliun, tapi pendapatan non-bunga justru merosot dari Rp 10,9 triliun ke Rp 10,6 triliun. Lebih berat lagi, beban provisi bengkak 7,9% YoY menjadi Rp 3,78 triliun. Kombinasi yang tidak ideal.

Berbeda nasib dengan PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN). Laba bersihnya naik 4,33% YoY ke Rp 1,4 triliun, ditopang lonjakan fee based income, terutama dari penjualan surat berharga yang melejit 38,4% menjadi Rp 134,28 miliar. Kecil, tapi bergerak ke arah yang benar.

Pertanyaannya: apakah angka-angka ini cukup untuk menggerakkan harga saham perbankan?

Agaknya belum. Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Provina Visindo, melihat profitabilitas sektor ini belum akan pulih dalam waktu dekat karena pertumbuhan kredit pun masih lesu. "Investor juga lebih selektif untuk membeli saham bank lagi," ungkapnya. Ia memperkirakan harga saham perbankan masih akan bergerak sideways sambil pasar memantau margin profitabilitas dan outlook suku bunga acuan.

Tapi bukan berarti sepi peluang. Indy justru menyebut PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebagai kandidat akumulasi jangka panjang, dengan alasan historis dividen yang tebal dan valuasi yang, setelah koreksi panjang, mulai kelihatan murah. BMRI sudah tergerus 17,72% sejak awal tahun ke Rp 4.690 per saham, sementara BBRI turun 4,9% ke Rp 3.880. "Target BMRI dan BBRI masih sama, yaitu Rp 6.100 dan Rp 5.200," katanya.

Dari kubu RHB Sekuritas Indonesia, Head of Research Andrey Wijaya tetap menaruh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di posisi teratas. Meski belum merilis laporan semester I, laba BCA per Mei 2025 sudah tumbuh 16,3% YoY. Bukan main. "Bank ini telah mencapai 44% dari perkiraan kami untuk laba BCA sampai akhir tahun," ujar Andrey.

Andrey juga menyoroti PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang tumbuh stabil 5% YoY per Mei, setara 36% dari target tahunan RHB. Ia menilai BRIS butuh momentum lebih kuat di sisa tahun agar bisa mencapai target penuh. Soal valuasi sektor, rata-rata PBV perbankan Indonesia diperkirakan di kisaran 2,5x hingga akhir 2025. "BBCA terus memimpin dalam valuasi pada 3,8x P/BV, didukung oleh profitabilitasnya yang unggul," tambahnya.

Maximilianus Nicodemus dari Pilarmas Investindo Sekuritas punya daftar rekomendasi yang sedikit lebih panjang: BBCA, BRIS, dan satu nama yang bisa jadi di luar radar banyak investor, yakni PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). "Tahun ini rasanya agak menjadi tahun yang cukup sulit untuk industri perbankan, terutama bank BUMN," akunya.

Untuk BRIS, mesin pertumbuhannya memang masih segar. Pembiayaan emas tumbuh 52%, treasury melonjak 47%, e-channel naik 34%. Harga emas yang terus menanjak jadi magnet tersendiri bagi nasabah bank syariah ini. "Di tengah situasi dan kondisi yang ada saat ini, harga emas yang terus mengalami kenaikan juga menjadi magnet bagi masyarakat untuk ikut ambil bagian. Target harganya di Rp 3.480," jelas Nico. Target Nico untuk BBCA Rp 11.200 dan BNGA Rp 2.110.

Satu hal yang sudah jelas: rilis laporan keuangan kali ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, tidak akan banyak menggoyang pasar kecuali ada kejutan besar. Yang lebih diperhatikan adalah ke mana arah suku bunga, dan seberapa cepat kredit bisa kembali bernapas.