MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Kuota Produksi Dipangkas, Windfall Minerba RI Ting...

Ekonomi

Kuota Produksi Dipangkas, Windfall Minerba RI Tinggal Setengahnya

Kenaikan harga batu bara, nikel, dan tembaga membuka celah windfall bagi kas negara, tapi pemangkasan kuota produksi besar-besaran membuat potensi itu tak bisa diraih sepenuhnya.

Harga komoditas global melonjak. Tapi Indonesia belum tentu bisa panen penuh.

Itulah dilema fiskal yang kini membayangi pemerintah seiring konflik di Timur Tengah mendorong harga batu bara, nikel, tembaga, hingga CPO ke level lebih tinggi. Kementerian Keuangan mengakui ada tambahan penerimaan yang masuk secara otomatis, tapi volume produksi yang sengaja dipangkas membuat ruang windfall itu menyempit lebih cepat dari yang diharapkan.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu menyatakan kenaikan harga komoditas secara langsung mendorong penerimaan negara, bahkan tanpa perubahan kebijakan apapun. "Harga batu baranya meningkat, CPO meningkat, nikel juga, tembaga juga. Tanpa ada perubahan kebijakan, itu membuat penerimaan kita pasti akan meningkat," kata Febrio saat ditemui di kompleks Badan Komunikasi Pemerintah, Kamis (9/4/2026).

Pemerintah bahkan tengah mengkaji skema tambahan windfall di luar penerimaan normal, bersama Kementerian ESDM. Bentuknya bisa berupa kenaikan royalti atau bea keluar, tergantung jenis mineralnya. Febrio belum bisa memberikan angka pasti karena pembahasan masih berlangsung.

Masalahnya ada di keran produksi.

Kuota batu bara 2026 dipangkas ke sekitar 600 juta ton, turun 15% dari realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton. Nikel lebih dalam: kuota bijih terpotong 30% menjadi kisaran 260-270 juta ton. Tembaga, agaknya, paling berat situasinya. Hampir 95% produksi nasional bergantung pada PT Freeport Indonesia, yang tambang Grasberg Block Cave-nya masih dalam perbaikan. Target produksi katoda tembaga 2026 sudah direvisi turun ke sekitar 478 ribu ton, dengan pemulihan penuh baru diprediksi terjadi di kuartal II-2026.

Basis perhitungan royalti dan PNBP pun ikut tergerus. Target resmi PNBP Minerba 2026 dipasang di Rp134 triliun, bahkan sedikit di bawah realisasi 2025 sebesar Rp138,37 triliun. Bukan target yang ambisius, dan itu bukan kebetulan.

Ekonom Myrdal, yang mencermati dinamika ini, menyebutnya langkah terkalkulasi. "Bukan angka yang kecil, tapi juga bukan durian runtuh yang bisa mengubah wajah APBN secara dramatis," tegasnya kepada media, Jumat (10/4/2026). Pemangkasan produksi yang memang disengaja untuk mengendalikan oversupply, kata dia, membuat ruang windfall yang besar jadi terbatas. Ia juga mengingatkan bahwa rezeki kenaikan harga ini sifatnya sementara, rentan tergerus subsidi energi yang cenderung membengkak justru saat harga komoditas tinggi. Ibarat pedang bermata dua.

Pertanyaannya, berapa lama harga-harga ini bisa bertahan?

Di pasar, pergerakan masih terjadi. Nikel di London Metal Exchange (LME) diperdagangkan di US$17.088 per ton pekan lalu, turun 1,24% dari hari sebelumnya. Tembaga di LME berada di US$12.671 per ton, turun tipis 0,22%. Batu bara ICE Newcastle sempat menyentuh US$137,9 per ton pada 2 April 2026, naik 0,51% dari sesi sebelumnya, meski datang setelah dua hari anjlok hampir 5% dan secara mingguan masih terpangkas 4,14%.

Potensi windfall itu nyata. Tapi bersyarat. Selama keran produksi terkunci, kenaikan harga hanya akan dinikmati separuhnya.