JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IPO RANS: Growth Story Rp429 Miliar di Balik Valua...

Bisnis

IPO RANS: Growth Story Rp429 Miliar di Balik Valuasi Premium Raffi-Gigi

PT Rans Entertainment Indonesia Tbk resmi membuka masa penawaran umum pada 2 Juli 2026 dengan harga final Rp170 per saham, mematok valuasi PE hingga 38 kali di tengah kinerja keuangan yang justru menyusut tahun lalu.

RANS IPO, Dana Rp 429 Miliar Dipakai Bangun Cipungland hingga Bisnis AI

Harga IPO PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) resmi dipatok di batas atas, Rp170 per saham, ketika masa penawaran umum dibuka pada Kamis (2/7/2026). Sebanyak 2,525 miliar lembar saham baru dilepas ke publik, setara 20,02 persen dari modal disetor pasca-IPO. Dari sini, perusahaan besutan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina membidik dana segar maksimal Rp429,25 miliar sebelum mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 10 Juli 2026.

Tapi yang paling memantik perhatian bukan besaran dananya. Ini soal harga.

Dengan harga Rp170 per saham dan laba bersih 2025 yang tercatat Rp56,69 miliar, saham RANS masuk pasar dengan price to earnings ratio sekitar 27 hingga 35 kali. Bandingkan dengan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) yang kini diperdagangkan di PER 2,1 kali, atau PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) di kisaran 13,6 kali. Ahmad Faris Mu'tashim, Investment Specialist KISI Sekuritas, menyebut rata-rata PE industri sejenis hanya berada di 12-13 kali. "Secara valuasi, by nature saham IPO akan selalu premium, melihat RANS yang diperdagangkan dengan PE 27-35 kali dibandingkan rata-rata PE industri di 12-13 kali," kata Faris.

Valuasi jumbo itu datang di saat kinerja RANS justru sedang tergerus. Pendapatan 2025 tercatat Rp353,38 miliar, turun 13,91 persen dibanding 2024 yang Rp410,50 miliar, dan lebih rendah lagi dari 2023 yang menorehkan Rp437,81 miliar. Laba bersih amblas 41,60 persen menjadi Rp56,69 miliar. Manajemen menjelaskan sebagian penurunan bersifat non-recurring: pada 2024 ada laba pelepasan PT Rans Prestisius Klub Sepakbola sebesar Rp44,94 miliar yang tidak terulang di 2025. Segmen duta merek dan talent management pun dihajar habis, minus 51,55 persen menjadi hanya Rp51,93 miliar.

Dua pertanyaan menggantung: kenapa labanya jatuh, dan kenapa valuasinya masih setinggi itu?

Jawaban manajemen ada di prospektus. Dari total dana IPO, alokasi terbesar, 37,61 persen, akan dipakai sebagai belanja operasional untuk menyelenggarakan sekitar 16 konser musik berskala besar di sejumlah kota. Disusul 19,80 persen atau sekitar Rp85 miliar untuk mengakuisisi 51 persen saham PT Rans Kosmetika Indonesia (Slavina) dari Andy Lesmana. Sebesar 18,64 persen dialokasikan sebagai belanja modal pembangunan wahana bermain edukatif Cipungland di sembilan titik kota strategis, dengan Letter of Intent yang sudah ditandatangani bersama PT Makmur Jaya Serasi untuk lokasi Mall of Indonesia. Sisanya tersebar untuk modal kerja entitas anak PT Rans Nikmat Sejahtera, pembentukan perusahaan patungan berbasis AI bersama PT Feedloop Global Teknologi sebesar 8,15 persen, serta pelunasan utang ke BNI sebesar 6,98 persen.

Cipungland agaknya kartu paling berharga dalam narasi pertumbuhan RANS. Bisnis wahana fisik dan IP terlisensi punya karakter yang berbeda dari kontrak iklan digital yang kuotanya naik-turun mengikuti selera merek. Tiket masuk, merchandise, lisensi karakter animasi Cipung (nama panggilan putra kedua Raffi-Nagita, Rayyanza), hingga F&B di dalam wahana bisa membentuk aliran pendapatan yang lebih stabil dan bermargin lebih tebal. Pertanyaannya, berapa lama sampai angka itu kelihatan di laporan keuangan?

Ada catatan yang patut dicermati dari prospektus. Dari 15 unit bisnis RANS yang terdiri dari 11 entitas anak dan 4 entitas asosiasi, sebanyak 7 unit berstatus tidak operasional. Mati suri. Entitas itu mencakup lini kuliner PT Rans Keluarga Bersama dan PT Resto Bunda Indonesia, hingga sejumlah entitas hiburan dan olahraga. Struktur portofolio semacam ini bisa jadi pertanyaan tersendiri bagi investor institusi yang memakai kalkulator, bukan emosi.

Risiko ketergantungan pada figur utama juga dinyatakan terbuka dalam prospektus. Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan keluarga mereka disebut sebagai key person yang jika terkena isu reputasi bisa menekan kinerja perusahaan secara material. Faris menilai RANS perlu segera mengorbitkan talent-talent baru agar keberlangsungan bisnis tidak sepenuhnya bertumpu pada dua sosok itu. "Jika ada isu jelek mengenai talent yang menjadi penopang tentu akan membawa risiko reputasi bagi emiten bersangkutan, sehingga perlu ada arah bisnis untuk mengorbitkan talent lain agar tidak terlalu bergantung pada talent utama," paparnya.

Dari sisi neraca, kondisi RANS relatif sehat. Current ratio menguat ke 2,63 kali pada 2025, sementara debt-to-equity ratio terjaga rendah di 0,35 kali. Kas dan setara kas naik tipis menjadi Rp100,13 miliar dari Rp91,07 miliar di 2024. Total ekuitas Rp340,80 miliar dengan total liabilitas Rp120,23 miliar.

PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi. Masa penawaran umum berlangsung hingga 8 Juli 2026, distribusi saham elektronik pada 9 Juli, dan listing di BEI pada 10 Juli 2026.

Sebelum IPO, Raffi Farid Ahmad menggenggam 78,68 persen saham RANS dan setelah dilusi akan menjadi 62,93 persen. Dony Oskaria, yang kini menjabat COO Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola BUMN, tercatat sebagai pemegang saham dengan kepemilikan 3,42 persen secara individual. Kaesang Pangarep 1,14 persen. Nagita Slavina 1,24 persen.

Pasar ritel yang berebut memesan saham RANS jelas melihat ini sebagai peluang ikut memiliki imperium Raffi-Gigi. Investor institusi, seperti biasa, sedang menghitung sendiri. Apakah growth story senilai Rp429 miliar ini akan terbukti di laporan keuangan, atau hanya bertahan sebagai cerita yang bagus di prospektus, kalau data ini bisa dipercaya, baru ketahuan setelah konser pertama terjual habis.