Sepanjang Juni 2026, tidak ada satu pun sektor saham di Bursa Efek Indonesia yang berhasil menghijau. Semua sektor kompak amblas, memperpanjang tekanan yang sudah berlangsung sejak awal tahun.
BEI memilih membaca kondisi ini dari sudut berbeda. Per 8 Juni 2026, IHSG diperdagangkan di Price Earnings Ratio sekitar 12,85 kali. Bukan angka yang membuat investor value investing langsung nge-gas, tapi cukup untuk membuat sebagian analis bilang pasar sudah masuk wilayah murah. Lebih konkret lagi: sebanyak 434 saham tercatat memiliki Price to Book Value di bawah satu kali. Hampir sepertiga emiten bursa dijual di bawah nilai bukunya sendiri.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan kondisi pasar saat ini perlu dipandang secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan fundamental ekonomi nasional, kinerja emiten, serta reformasi yang tengah dijalankan OJK dan SRO. "Dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang," ujar Jeffrey lewat keterangan pers, Jumat (10/7/2026).
Klaim yang masih perlu dibuktikan oleh pergerakan harga. Tapi data kinerja emiten agaknya cukup untuk menopang narasi itu. Dari 810 perusahaan tercatat yang telah menyerahkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, sebanyak 595 perusahaan atau sekitar 73,46 persen membukukan laba bersih. Sebanyak 221 emiten bahkan membagikan dividen tunai sepanjang tahun ini, angka yang mencerminkan kas korporasi masih cukup sehat meski pasar bergerak liar.
Pada level makro, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen di kuartal pertama tahun ini, ditopang konsumsi rumah tangga yang solid, belanja pemerintah yang terjaga, serta peningkatan aktivitas investasi. Surplus neraca perdagangan masih berlanjut, aktivitas manufaktur bertahan di zona ekspansif. Bukan kondisi yang ideal untuk panik.
Yang justru menarik ada di struktur investor. Berdasarkan data KSEI per 30 Juni 2026, total investor pasar modal mencapai 28,9 juta Single Investor Identification. Dari jumlah itu, investor saham dan surat berharga lainnya menyentuh 9,9 juta SID, naik 15,1 persen year to date dari posisi 8,6 juta SID di akhir 2025. Bukan pertumbuhan kecil untuk pasar yang sedang tertekan.
Struktur kepemilikan pun bergeser. Investor domestik kini menguasai 61 persen kepemilikan saham, dengan porsi institusi domestik 43,3 persen dan ritel 17,7 persen. Investor asing menggenggam 39,1 persen sisanya. Dari sisi transaksi, kontribusi domestik bahkan lebih tebal lagi: 65,5 persen dari total nilai perdagangan. Investor ritel sendiri menyumbang 52,5 persen. Ini bukan lagi pasar yang mudah digoyang asing dengan capital outflow.
BEI bersama KPEI dan KSEI juga tengah mendorong serangkaian reformasi struktural. Publikasi data kepemilikan saham di atas 1 persen, kenaikan syarat minimum free float menjadi 15 persen, perluasan klasifikasi investor menjadi 39 kategori, implementasi mekanisme High Shareholding Concentration. Semua itu, kata Jeffrey, ditujukan untuk memberi investor informasi yang lebih lengkap dan proses analisis yang lebih jernih.
Pertanyaannya: apakah reformasi dan fundamental solid cukup untuk mengangkat IHSG dari lubang koreksinya? Sejauh ini pasar belum terlalu yakin. Tapi dengan 434 saham yang dijual di bawah nilai buku dan hampir tiga perempat emiten yang masih mencetak laba, setidaknya ada yang layak dikeruk dari puing-puing koreksi ini.