Enam saham sekaligus. Itu yang dicoret MSCI dari Global Standard Index dalam review Mei 2026, dan pasar tidak butuh waktu lama untuk bereaksi.
Rabu pagi (13/5/2026), IHSG langsung amblas 1,74% ke level 6.735 hanya dalam 45 menit pertama perdagangan. Bukan gejolak harian biasa. Dari rekor tertinggi sepanjang masa di 9.134,70 pada 20 Januari 2026, indeks sudah tergerus 26,27% dalam 113 hari kalender. Bear market yang dalam, entah kebetulan atau tidak, datang bertubi-tubi dari banyak arah sekaligus.
Saham yang angkat kaki dari MSCI Global Standard Index: AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Tidak ada satu pun pengganti dari Indonesia. Kecil sedikit penghiburan di sisi indeks small cap: AMRT pindah ke MSCI Indonesia Small Cap Index, tapi 13 saham lain harus ikut keluar dari kategori yang sama. Seluruh perubahan efektif berlaku setelah penutupan 29 Mei 2026.
Tekanan bukan cuma dari MSCI. Rupiah sehari sebelumnya menembus rekor terlemah baru di Rp17.490 per dolar AS, arus keluar dana asing masih berlanjut, dan konflik AS-Iran yang belum mereda bikin investor global makin enggan pegang aset berisiko. Emerging market seperti Indonesia jadi salah satu yang paling rentan kena getahnya.
Bukan pertama kali IHSG merasakan tekanan seberat ini. Enam tahun terakhir menyimpan setidaknya lima fase koreksi besar yang bisa jadi cermin.
Paling dalam tentu pandemi COVID-19: IHSG amblas 39,86% dari level 6.547 ke 3.937 dalam 412 hari. Setelah itu, koreksi pasca-reli komoditas era Rusia-Ukraina pada April-Mei 2022 tergolong dangkal dan cepat, cuma 9,32% dalam 22 hari. Siklus pengetatan Fed September 2022 hingga Maret 2023 memakan waktu lebih panjang, 184 hari, dengan penurunan 10,28%. Lalu ada fase "higher for longer" berbarengan transisi pemerintahan domestik pada 2024, koreksi 9,50% dalam 97 hari. Paling anyar sebelum tren ini, efek tarif Trump pasca-pemilu AS membawa IHSG masuk bear market sungguhan: turun 23,38% dalam 169 hari dari Oktober 2024 hingga April 2025.
Koreksi yang sekarang berjalan? Secara kedalaman sudah melampaui semuanya kecuali pandemi. Durasinya masih bertambah.
Momen yang dipilih OJK untuk bicara ambisius ini agaknya disengaja. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menegaskan Indonesia masih mempertahankan status Emerging Market dalam klasifikasi MSCI, tapi ia tidak mau berhenti di sana. "Kami tidak ingin hanya bertahan di emerging market. Ke depan pasar modal Indonesia punya potensi naik ke klasifikasi yang lebih tinggi," ujar Hasan. Pernyataan yang cukup berani, mengingat kondisi pasar hari ini.
Hasan merinci sejumlah reformasi yang sudah berjalan: pembukaan data kepemilikan saham di atas 1%, penerapan batas minimum free float 15%, serta publikasi data high shareholding concentration. Semua itu diarahkan agar investor global dan penyedia indeks internasional punya data yang lebih akurat dalam menilai saham-saham Indonesia. "Pasar modal yang transparan akan lebih dipercaya investor global," kata Hasan.
Ada satu catatan yang disampaikan OJK soal saham-saham yang keluar dari MSCI Small Cap: sebagian justru keluar bukan karena memburuk, melainkan karena kapitalisasi pasar dan kriterianya meningkat sehingga seharusnya naik kelas ke Standard Index. Masalahnya, kebijakan freeze dari MSCI terhadap penambahan saham Indonesia membuat mereka terjebak di tengah jalan. Bak naik kelas tapi pintu kelas barunya dikunci.
Soal valuasi, OJK menilai price-to-earnings ratio IHSG di kisaran 16 kali masih lebih rendah dibanding beberapa bursa regional lain. Angka yang patut dicermati, terutama bagi investor dengan horizon lebih panjang yang sedang mengincar entry point. Pertanyaannya, berapa lama kesabaran itu bisa bertahan?
Bagi yang sudah nyangkut sejak awal tahun, PER 16 kali mungkin belum cukup menenangkan. Selama rupiah masih lesu, geopolitik belum dingin, dan freeze MSCI belum dicabut, volatilitas kemungkinan tetap jadi teman setia IHSG dalam waktu dekat. Pasar butuh lebih dari sekadar angka valuasi untuk benar-benar balik arah.