SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IHSG Melonjak 2,15% ke 6.979, Gencatan Tarif AS-Ch...

Finansial

IHSG Melonjak 2,15% ke 6.979, Gencatan Tarif AS-China Jadi Pemicunya

IHSG melonjak 147 poin lebih pada 7 April 2026, didorong kesepakatan dagang AS-China yang memangkas tarif impor dari 145% menjadi 30%. Tapi euforia ini perlu dijaga tetap berkepala dingin.

147,08 poin. Bukan angka kecil.

Pada 7 April 2026, IHSG Bursa Efek Indonesia ditutup di level 6.979, naik 2,15% dari sesi sebelumnya. Kenaikan ini bukan sekadar technical rebound biasa. Ada katalis yang cukup besar di baliknya: kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China yang lahir dari meja perundingan di Jenewa, Swiss, pada 10-11 Mei 2025.

Poin utamanya sederhana tapi berdampak besar. AS setuju memangkas tarif impor produk China secara drastis, dari 145% menjadi 30%. Bagi pasar global yang sudah berbulan-bulan gelisah soal perang dagang, ini bak sinyal gencatan senjata. Investor pun merespons, cepat.

Laporan Maybank Sekuritas menjadi salah satu rujukan utama pasar dalam membaca dinamika ini. Kesepakatan tarif itu, menurut riset mereka, berpotensi mengurangi ketidakpastian rantai pasok global dan membuka ruang bagi pemulihan volume perdagangan internasional. Bagi Indonesia, yang ekspornya sensitif terhadap kondisi ekonomi China, berita ini agaknya lebih dari sekadar angin lalu.

Dari sisi domestik, fondasi makroekonomi juga ikut menopang. Inflasi yang terjaga, pertumbuhan PDB yang konsisten, cadangan devisa solid. Kombinasi ini memberi keyakinan tersendiri bagi investor asing yang selama ini masih wait and see terhadap pasar berkembang.

Tapi jangan sampai hanyut. Kenaikan tajam dalam satu sesi juga menyimpan risiko koreksi yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Stockbit dan sejumlah analis lain sempat memproyeksikan IHSG bisa tertekan kembali, dengan level support mengintai di kisaran 6.745. Lantai penahan memang ada, tapi jaraknya tidak jauh dari posisi sekarang.

Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bisa bertahan?

Volatilitas seperti ini sebenarnya bukan musuh investor, asalkan diperlakukan dengan kepala dingin. Diversifikasi portofolio lintas sektor tetap jadi tameng paling realistis. Mereka yang terlalu terkonsentrasi di satu saham atau satu sektor akan merasakan guncangan jauh lebih keras ketika sentimen berbalik arah, dan sentimen memang bisa berbalik tanpa banyak peringatan.

Untuk investor dengan horizon jangka panjang, koreksi jangka pendek justru sering kali jadi momen akumulasi yang paling berharga. Pasar saham, dalam sejarahnya, lebih menghargai kesabaran ketimbang kepintaran timing.

Satu hal yang perlu diingat: sentimen hari ini sangat bergantung pada perkembangan geopolitik yang bisa berubah sewaktu-waktu. Kesepakatan AS-China di Jenewa memang positif, tapi dinamika tarif antara dua ekonomi terbesar dunia itu tidak pernah benar-benar selesai dalam satu pertemuan. Satu pernyataan pejabat yang meleset, satu data ekonomi yang di luar ekspektasi, cukup untuk membalik mood pasar dalam hitungan jam.

Suku bunga acuan, data inflasi Amerika, dan arah kebijakan The Fed di kuartal mendatang masih akan menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan siapa pun yang menaruh uangnya di pasar modal Indonesia.

Level 7.000 kini tinggal selangkah lagi. Apakah IHSG bisa mempertahankan momentum ini, atau justru kelelahan tepat di depan gerbang psikologisnya?