MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG di Ujung Tekanan Rebalancing MSCI, Asing Cabu...

Bisnis

IHSG di Ujung Tekanan Rebalancing MSCI, Asing Cabut dari 18 Saham

Keluarnya 18 saham Indonesia dari indeks MSCI memicu aksi jual investor asing yang masif, sementara bobot Indonesia di MSCI Emerging Market terus melorot ke kisaran 0,7% dari sebelumnya hampir 1,5%.

IHSG Masih Dibayangi Kekhawatiran Outflow Asing dan Rebalancing MSCI

Sejak pengumuman MSCI pada 13 Mei 2026, tekanan jual asing di bursa domestik terasa nyata. Enam saham yang dicoret dari MSCI Global Standard langsung dihajar outflow, begitu pula 11 dari 13 saham yang keluar dari MSCI Global Small Cap, eh, koreksi: bukan em dash, 11 dari 13 saham yang tersapu dari Small Cap juga mencatat arus keluar dana asing dalam hitungan hari.

Total 18 saham Indonesia angkat kaki dari dua indeks MSCI sekaligus dalam review Mei 2026. Enam nama hengkang dari MSCI Global Standard, satu di antaranya turun kelas ke MSCI Global Small Cap. Tiga belas sisanya keluar dari perhitungan Small Cap. Untuk pasar sekecil Indonesia, angka itu tidak kecil.

Bobot Indonesia di MSCI Emerging Market sudah lama dalam tren melorot. Kini diperkirakan tinggal sekitar 0,7%, ambles dari kisaran 1,3% hingga 1,5% beberapa tahun lalu. Artinya, porsi dana asing yang secara mekanis wajib masuk ke Indonesia terus menyusut tiap kali rebalancing tiba. Mekanis. Bukan karena sentimen, bukan karena valuasi.

Pengamat pasar modal Martin Aditya menuding akar masalahnya bukan semata soal kinerja emiten. "Karena terkait isu regulasi SRO kita tidak bagus, terutama soal free float. Makanya ada pembekuan. Harusnya saat rebalancing tiap kuartal ada tambahan inflow, tetapi sekarang justru berkurang," ujarnya. Celah regulasi itulah yang, kalau data ini bisa dipercaya, berujung pada pengurangan bobot yang kian dalam setiap siklus.

Rebalancing berikutnya dijadwalkan efektif 2 Juni 2026, dengan cut-off 29 Mei. Pasar sudah berhitung. Martin melihat potensi IHSG melorot ke kisaran 6.000-an dari posisi saat ini di 6.400 sampai 6.500. "Jadi kemungkinan bisa turun dulu, walaupun sifatnya one off," katanya. Koreksi yang mungkin tidak dalam, tapi cukup untuk membuat investor ritel yang sudah nyangkut makin gerah.

Bukan cuma MSCI. Indeks FTSE dilaporkan juga mulai menyisir saham-saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi dengan penyesuaian serupa. Dua indeks global bergerak searah dalam satu waktu. Bukan pertanda bagus bagi likuiditas bursa Jakarta.

Sentimen makin runyam karena faktor makro menimpa dari segala penjuru: rupiah yang loyo, potensi pelebaran defisit APBN, ditambah ketidakpastian kebijakan yang belum mereda. "Yang ditunggu pasar sebenarnya kepastian kebijakan. Karena sekarang uncertainty masih tinggi," kata Martin.

Bagi investor ritel, kombinasi tekanan rebalancing dan outflow asing di saham-saham spesifik ini patut dicermati, terutama kalau portofolio masih terkonsentrasi di emiten yang baru saja dikeluarkan dari indeks global. Dana asing yang keluar karena keputusan indeks tidak mengenal valuasi. Mereka jual karena harus jual. Titik.