Dua realita berbeda tengah dialami petani sawit Indonesia dalam sepekan ini. Kontrasnya cukup mencolok.
Di Riau, tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit plasma resmi menaikkan patokan harga untuk periode 27 Mei hingga 2 Juni 2026. Merujuk Surat Penetapan Harga TBS No. 18 yang dirilis Dinas Perkebunan Provinsi Riau, sawit berumur 9 tahun kini dihargai Rp3.866,90 per kg, naik Rp65,73 dibanding pekan sebelumnya. Cukup untuk bikin petani plasma Riau sedikit lega.
Struktur harga per kelompok umur tanaman mencerminkan produktivitas biologis pohon sawit. Sawit muda umur 3 tahun hanya Rp3.041,30 per kg. Naik bertahap. Puncaknya ada di kisaran umur 9 tahun yang menembus Rp3.932,63 per kg, sementara umur 10-20 tahun dipatok Rp3.912,63 per kg. Setelah itu harga tergerus seiring penuaan tanaman, sawit umur 30 tahun hanya mengantongi Rp3.424,05 per kg. Harga CPO ditetapkan Rp15.311,62 per kg, kernel Rp15.295,58 per kg, indeks K 93,30%.
Seberang pulau, ceritanya lain. Petani Bangka Selatan justru menghadapi tekanan harga yang membuat sebagian dari mereka enggan memanen. Bukan sekadar lesu. Semangat panen benar-benar amblas ketika harga di tingkat petani tidak lagi sepadan dengan biaya dan tenaga yang sudah keluar.
Ini bukan fenomena baru di industri sawit Indonesia, tapi tetap saja menyentil. Penetapan harga resmi oleh dinas perkebunan hanya berlaku untuk skema plasma yang terintegrasi dengan PKS mitra. Petani mandiri yang bermain di luar skema itu kerap bergantung pada harga pasar lokal, yang bisa sangat berbeda dari angka resmi, kadang bertolak belakang.
Sepanjang 2026, harga CPO global bergejolak. Tekanan datang dari pelemahan permintaan ekspor, persaingan dengan minyak nabati lain, serta penyerapan biodiesel domestik yang belum optimal. Akibatnya, harga di tingkat petani tidak selalu ikut terkerek meski harga acuan CPO bergerak positif. Di sinilah agaknya akar masalah Bangka Selatan: transmisi harga dari pasar global ke petani bocor di tengah jalan, bak air meresap sebelum sampai ke akarnya.
Bagi investor yang memegang saham emiten sawit, dua sisi cerita ini patut dicermati. Kenaikan harga acuan Riau memberi sinyal bahwa CPO domestik masih terjaga di level yang menarik. Tapi daya serap petani yang melemah di beberapa daerah bisa jadi indikator awal tekanan pada volume panen, yang ujungnya mempengaruhi pasokan tandan ke pabrik. Kalau petani ogah panen, siapa yang suplai ke PKS?