Sembilan perusahaan masih mengantre untuk melantai di Bursa Efek Indonesia, dan sektor kesehatan agaknya sedang punya momen. Dari total pipeline IPO per 9 Oktober 2026, empat di antaranya berasal dari sektor healthcare, menjadikannya sektor paling dominan dalam gelombang pencatatan saham perdana kali ini.
Sisanya tersebar di beberapa sektor: dua perusahaan dari energi, satu dari barang baku (basic materials), satu dari keuangan, dan satu dari industrials. Komposisi yang cukup beragam, meski jelas ada yang lebih bersemangat dari yang lain.
Dari sisi ukuran, tiga calon emiten memiliki aset di atas Rp250 miliar, sesuai klasifikasi dalam POJK Nomor 53/POJK.04/2017. Empat perusahaan masuk kategori menengah dengan aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Dua sisanya beraset di bawah Rp50 miliar. Pipeline kali ini, pendek kata, tidak melulu soal emiten kakap.
Sepanjang tahun ini hingga 9 Oktober, tujuh perusahaan sudah lebih dulu menuntaskan proses IPO dan resmi tercatat di lantai bursa. Total dana yang berhasil diraup mencapai Rp2,16 triliun. Moderat, kalau dibandingkan dengan hingar-bingar IPO di tahun-tahun sebelumnya.
Di luar saham, pasar surat utang juga menunjukkan aktivitas yang tidak bisa diabaikan. BEI mencatat 140 emisi efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dari 63 penerbit dengan total penghimpunan dana Rp138,04 triliun. Besar. Di pipeline, masih ada 22 emisi dari 17 penerbit yang menunggu giliran, dengan sektor energi memimpin lewat lima emisi, disusul infrastruktur empat emisi, lalu barang baku dan keuangan masing-masing tiga emisi.
Untuk rights issue, 15 perusahaan sudah menerbitkan saham baru dengan total nilai Rp16,23 triliun. Satu perusahaan lagi dari sektor properti masih dalam pipeline, menunggu eksekusi.
Dominasi sektor kesehatan di jalur IPO bukan kebetulan semata. Sentimen pasca-pandemi terhadap emiten medis dan farmasi masih cukup kuat di kalangan investor ritel, dan para pemilik usaha di sektor ini tampaknya ingin memanfaatkan momentum selagi jendela masih terbuka. Pertanyaannya, berapa lama selera pasar terhadap saham healthcare ini bisa bertahan?