SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Harga CPO Naik Dua Hari Beruntun, B50 dan Ekspor M...

Ekonomi

Harga CPO Naik Dua Hari Beruntun, B50 dan Ekspor Malaysia Jadi Bahan Bakarnya

Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives menguat untuk hari kedua berturut-turut, ditopang lonjakan ekspor Malaysia dan implementasi mandatori biodiesel B50 Indonesia mulai 1 Juli 2026.

Analysts: Good CPO Price Needed To Offset Rising Input Costs - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Harga minyak kelapa sawit mentah kembali menanjak di Bursa Malaysia Derivatives pada Senin (29/6/2026), dengan kontrak berjangka untuk semua tenor mencatat kenaikan serempak. Bukan cuma satu hari, ini sudah hari kedua berturut-turut.

Kontrak Juli 2026 ditutup di 4.523 Ringgit Malaysia per ton, naik 19 Ringgit. Kontrak Oktober menguat 21 Ringgit ke 4.612 Ringgit. Desember? Tertinggi di 4.653 Ringgit, naik 22 Ringgit dari sesi sebelumnya. Kurva forward yang menanjak seperti ini agaknya mencerminkan optimisme pasar terhadap permintaan jangka menengah, meski kurva yang miring ke atas juga bisa sekadar berarti pasar belum tahu mau taruh harga di mana.

Dua katalis utama menggerakkan pasar. Pertama, ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1-25 Juni melonjak antara 10,6% hingga 11,1% dibanding bulan sebelumnya, berdasarkan data perusahaan survei kargo. Angka yang cukup besar untuk membuat pembeli kembali masuk. Kedua, Indonesia resmi meluncurkan program biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026, campuran 50% biodiesel berbasis sawit dengan 50% solar.

Direktur Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, menyebut kombinasi keduanya bak gayung bersambut. "Ekspor yang kuat sepanjang Juni memberikan dukungan terhadap harga, sementara kebijakan mandatori B50 di Indonesia menjadi katalis tambahan bagi pasar," katanya. Implikasi B50 memang tidak main-main: konsumsi domestik CPO Indonesia akan terkerek, yang otomatis menyusutkan volume untuk pasar ekspor global.

Dari sisi pasokan, produksi di Semenanjung Malaysia mulai pulih lebih baik dari perkiraan, ditopang kondisi cuaca yang kondusif. Produksi di Malaysia Timur, entah kebetulan atau tidak, masih tertinggal. Supramaniam memperkirakan cuaca bersahabat akan terus menopang produksi hingga kuartal III-2026. Tapi ia juga mengingatkan bahwa harga kemungkinan masih akan bergerak dalam kisaran terbatas sampai pasar mendapat panduan baru dari laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board yang dijadwalkan rilis 10 Juli mendatang.

Penguatan CPO tidak berdiri sendiri. Di Bursa Dalian, minyak sawit menguat 1,26% dan minyak kedelai naik 0,65%. Di Chicago Board of Trade, minyak kedelai juga terkerek 0,49%. Minyak mentah dunia yang bertahan di level tinggi turut jadi angin segar, karena membuat CPO makin kompetitif sebagai bahan baku biodiesel. Kesepakatan sementara AS-Iran memang sedikit meredakan ketegangan geopolitik, tapi risiko gangguan pasokan energi global belum sepenuhnya pergi.

Ada satu rem yang bekerja diam-diam: ringgit Malaysia menguat 0,44% terhadap dolar AS, membuat CPO relatif lebih mahal bagi pembeli bervaluta asing. Teknikal yang perlu dipantau, terutama kalau penguatan ringgit berlanjut.

Bagi investor yang memegang saham emiten sawit, kombinasi harga CPO yang menguat dan implementasi B50 yang tepat jadwal bisa jadi kabar baik untuk kinerja semester II. Pertanyaannya, seberapa cepat kebijakan B50 benar-benar menyerap volume di lapangan? Jarak antara regulasi dan realisasi di sektor energi Indonesia kerap lebih jauh dari yang diantisipasi, kalau data historis ini bisa dijadikan patokan.