MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Harga Batu Bara Tergelincir Lagi, India Lempar Tal...

Ekonomi

Harga Batu Bara Tergelincir Lagi, India Lempar Tali Penyelamat

Batu bara kontrak Juni amblas 1,4% ke US$133,9 per ton, tertekan sentimen China yang mendingin. Tapi skema gasifikasi India senilai US$3,92 miliar bisa jadi faktor yang mengubah peta permintaan jangka menengah.

Harga Batu Bara Ambles, Kabar dari India Bisa Jadi Penyelamat?

Harga batu bara kontrak Juni ditutup di US$133,9 per ton pada perdagangan Rabu (13/5/2026), melemah 1,4% dari penutupan sebelumnya di US$135,8 per ton. Koreksi ini lebih dalam ketimbang penurunan 0,44% di sesi Selasa, dan membawa harga semakin jauh dari level US$136,4 per ton yang sempat dicatat pada perdagangan Senin (11/5/2026).

Dua hari beruntun. Tren pendek ini belum tentu mengkhawatirkan, tapi cukup untuk bikin pelaku pasar batu bara berhati-hati.

Tekanan utama masih dari China. Sentimen di pasar batu bara termal domestik, khususnya di area tambang atau mine-mouth, mulai mendingin seiring meningkatnya sikap wait-and-see di kalangan pembeli. Momentum kenaikan yang sempat terlihat di sejumlah sentra produksi kini tertahan. Pembeli tidak lagi agresif mengejar harga, menunggu konfirmasi arah permintaan sebelum berani masuk dalam volume besar.

Penjual pun belum banyak bergerak. Harga penawaran masih bergerak dalam rentang sempit karena sebagian produsen masih mencoba mempertahankan margin saat biaya pasokan belum juga turun. Aktivitas transaksi di pasar fisik sepi, permintaan dari konsumen akhir belum cukup kuat untuk mendorong harga naik. Stok batu bara di sejumlah pengguna akhir juga masih relatif tercukupi. Belum ada urgensi untuk nambah pembelian. Pasar, agaknya, sedang dalam fase jeda.

Ada konteks lebih luas yang perlu dibaca. Di Asia, sebagian permintaan LNG yang terganggu akibat ketegangan di Timur Tengah mulai dialihkan ke batu bara sebagai sumber energi alternatif. Pergeseran ini, bak gayung bersambut dengan kapasitas produksi yang masih besar, secara struktural menopang permintaan batu bara termal di kawasan. Tapi untuk menggerakkan harga dalam jangka pendek, sentimen dari China tetap lebih dominan. Belum ada yang bisa mengimbanginya.

Nah, di sinilah India masuk.

Pemerintah India baru saja menyetujui skema gasifikasi batu bara senilai 375 miliar rupee, sekitar US$3,92 miliar. Kebijakan ini dirancang untuk memangkas ketergantungan India pada bahan bakar impor, eh, bukan dengan em dash, dengan mengonversi batu bara domestik menjadi gas sintetis yang bisa dipakai untuk pembangkit listrik, industri pupuk, petrokimia, dan bahan bakar sintetis. Impor LNG, urea, amonia, dan metanol menjadi target utama yang ingin ditekan.

Menteri Informasi India Ashwini Vaishnaw menyatakan kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor sekaligus mengarahkan batu bara domestik ke penggunaan industri yang lebih bersih.

Angkanya tidak main-main. India menargetkan gasifikasi sekitar 75 juta metrik ton batu bara per tahun, dengan proyeksi investasi total mencapai 3 triliun rupee. Subsidi pemerintah sekitar 20% dari biaya pabrik dan mesin. Negara ini juga duduk di posisi strategis dari sisi cadangan: 401 miliar ton batu bara ditambah 47 miliar ton lignit.

Implikasinya bagi pasar global? Bisa jadi cukup terasa, kalau data ini bisa dipercaya dalam jangka menengah. Selama ini basis permintaan India untuk batu bara sebagian besar bertumpu pada pembangkit listrik. Dengan gasifikasi, jalur konsumsi melebar ke sektor industri berat yang cenderung lebih stabil dan tidak terlalu musiman. Konsumsi batu bara India berpeluang tetap besar bahkan ketika kapasitas energi terbarukan terus bertambah.

Apakah ini cukup untuk membalikkan koreksi jangka pendek? Belum tentu. Sentimen China masih terlalu besar untuk diabaikan, dan pasar fisik perlu beberapa waktu sebelum kebijakan India benar-benar tercermin dalam angka permintaan. Tapi bagi investor yang pegang saham emiten batu bara, angka US$3,92 miliar itu layak masuk radar.