Sepanjang tahun 2026, pasar modal Indonesia seolah tidak habis dihantam kabar dari lembaga indeks global. Setelah MSCI menghapus enam saham dari indeks berkapitalisasi besar dan 13 saham dari indeks berkapitalisasi kecil pada 13 Mei lalu, giliran FTSE Russell merilis June 2026 Quarterly Review pada Sabtu (23/5/2026), mengumumkan depak empat saham Indonesia dari indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS).
Keempat saham yang didepak: PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari kategori large cap, serta PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) dari kategori micro cap. Rebalancing dieksekusi pada 19 Juni 2026, berlaku efektif penuh 22 Juni 2026, dengan tenggat revisi hingga 5 Juni sebelum dinyatakan final per 8 Juni.
Alasan pembuangan masing-masing emiten berbeda. DSSA, konglomerasi di bawah Grup Sinar Mas yang bergerak di pertambangan, energi baru terbarukan, teknologi, dan bahan kimia, dicoret karena masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC), kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi di tangan segelintir pihak. DAAZ tersandung batas minimum free float. Adapun HILL dan MLIA sama-sama masuk papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia, terindikasi punya aktivitas perdagangan tidak wajar.
Kasus HILL agaknya yang paling dramatis. Saham kontraktor pertambangan nikel dan batubara ini melantai di BEI pada 1 Maret 2023 dengan harga IPO Rp 1.250. Pada penutupan Jumat (22/5/2026), HILL parkir di Rp 14, amblas 6,67 persen di hari itu saja. Secara YTD sudah tergerus 90,54 persen, dan dalam setahun penuh ambles 95,07 persen. Dari Rp 1.250 ke Rp 14. Hampir lenyap.
Nasib DSSA tidak jauh lebih baik. Sebulan terakhir harganya terpangkas lebih dari 80 persen, dari Rp 2.510 pada 22 April menjadi Rp 545 per saham. Investor asing membukukan penjualan bersih Rp 948 miliar pada saham ini dalam periode yang sama.
Pertanyaan yang relevan buat pelaku pasar sekarang: seberapa dalam dampaknya ke IHSG ketika pasar dibuka Senin (26/5/2026)? Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai tekanannya kemungkinan jangka pendek dan terbatas. "Dampaknya ke IHSG besok mungkin terbatas, karena saham yang dikeluarkan mayoritas bukan saham likuid dan berkapital besar, jadi cenderung lebih bersifat jangka pendek," ujarnya kepada Kompas, Minggu (24/5/2026). Investor asing, menurut Reydi, lebih mungkin mengalihkan dana ke saham perbankan besar yang likuid dengan free float besar.
Namun ada risiko lain yang tidak bisa diabaikan. Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia Ahmad Faris Mu'tashim mengingatkan bahwa sejumlah manajer investasi global menggunakan FTSE sebagai benchmark portofolionya, dengan komposisi yang cenderung condong ke saham perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Kalau data fund fact sheet itu bisa dipegang, maka pengurangan bobot investasi terkait perubahan indeks ini bisa membuat saham-saham jumbo tersebut kena outflow ikutan. "Jika ada pengurangan bobot, saham tersebut berpotensi mengalami outflow," kata Faris.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pengumuman akhir pekan ini justru memberi pasar waktu untuk mencerna hasilnya sebelum bereaksi Senin pagi. Tim analis BRIDS menyebut langkah FTSE sudah diantisipasi setelah MSCI lebih dulu bergerak. "Ini sudah diekspektasikan pasca-MSCI menghapus enam saham dari Standard Index pekan lalu. FTSE juga sudah menandai saham dengan kepemilikan tightly-held untuk dihapus, dan menunda review penuh Indonesia hingga setidaknya September," tulis tim analis BRIDS dalam ulasannya.
Faris sendiri melihat peluang di balik tekanan ini. Downside IHSG dinilai mulai terbatas di kisaran level 5.800. "Dengan downside IHSG yang mulai terbatas di level 5.800, maka ini menjadi kesempatan akumulasi bertahap bagi investor," ujarnya, seraya mengingatkan pentingnya seleksi ketat pada emiten dengan fundamental solid.
Konteksnya memang berat, entah kebetulan atau tidak, semua kabar buruk ini datang beruntun. IHSG sudah tergerus sekitar 10 persen sejak pengumuman MSCI pertengahan Mei, dari 6.763 ke 6.162 poin. Kapitalisasi pasar BEI ikut amblas 10,07 persen menjadi Rp 10.635 triliun dari Rp 11.825 triliun dalam sepekan. Sepanjang 2026, investor asing sudah mencatatkan net sell Rp 41,63 triliun. Pukulan FTSE ini datang di saat pasar sedang tidak dalam kondisi prima untuk menyerapnya.