MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Enam Emiten Antre Melantai, Pasar Belum Benar-Bena...

Bisnis

Enam Emiten Antre Melantai, Pasar Belum Benar-Benar Siap

Di saat IHSG baru saja ambles 3,56 persen dan asing masih net sell, enam perusahaan justru memilih Juli 2026 sebagai momen debut mereka di bursa. Sebuah taruhan yang tidak kecil, tapi agaknya sudah diperhitungkan matang.

Ramai-ramai IPO Saat Gejolak IHSG, Apakah Ini Momentum yang Tepat?

Semester pertama 2026 nyaris kosong melompong di lini IPO. Sepanjang Januari hingga Juni, cuma satu perusahaan yang resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT BSA Logistik Indonesia Tbk (WBSA) pada 10 April lalu dengan dana himpunan sekitar Rp 300 miliar. Bandingkan dengan semester I tahun sebelumnya yang meloloskan 14 emiten baru, dan gambarannya cukup suram.

Kini memasuki Juli, suasana tiba-tiba berubah. Enam perusahaan sekaligus bersiap melantai dalam rentang waktu yang mepet, padahal kondisi pasar, jujur saja, belum pulih benar. IHSG sempat terjerembab 3,56 persen ke level 5.884 pada Rabu (24/6/2026), dipicu keputusan MSCI yang mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market tanpa upgrade apa pun. Sehari kemudian indeks memantul 1,96 persen ke 5.999. Tapi investor asing tetap membukukan net sell Rp 201 miliar. Bukan awal yang meyakinkan.

Enam calon emiten itu: PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Niramas Utama Tbk (JELI). Sektor kesehatan mendominasi dengan tiga wakil, pola yang bukan kebetulan mengingat permintaan layanan medis cenderung stabil di berbagai siklus ekonomi.

Dari sisi angka, BACH boleh dibilang tampil paling mencolok secara fundamental. Didukung jaringan Grup Djarum, distributor genset dan penyedia infrastruktur telekomunikasi ini membukukan pendapatan Rp 1,73 triliun pada 2025, tumbuh 39,66 persen, sementara laba bersihnya melesat 97,54 persen menjadi Rp 155,55 miliar. Harga penawaran Rp 400 hingga Rp 500 per saham menargetkan dana Rp 246 miliar hingga Rp 307,5 miliar, sebagian besar untuk membeli 436 unit genset baru. Hendra Wardana, Founder Republik Investor, menilai BACH sebagai kandidat dengan profil paling seimbang di antara keenam calon emiten, meski mengingatkan porsi free float yang relatif kecil berpotensi mendorong volatilitas lebih tinggi setelah listing.

JECX lain ceritanya. Operator Jakarta Eye Center yang disokong PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) ini membidik dana terbesar di antara keenamnya, maksimal Rp 683,18 miliar dengan harga Rp 1.200 hingga Rp 1.400 per saham. Pertumbuhan laba bersih 16,05 persen menjadi Rp 72,50 miliar pada 2025 terlihat solid, tapi valuasi P/E-nya mendekati 58 kali membuat sebagian analis mengernyitkan dahi. Jaringan kuat, utang rendah, tapi harga masuk sudah mencerminkan banyak ekspektasi.

PRDL justru bermain di kutub berlawanan. Entitas asosiasi PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) ini menawarkan harga Rp 120 per saham dengan P/E 10,3 hingga 12,3 kali. Murah. Pendapatan terkerek 26,8 persen menjadi Rp 74,4 miliar pada 2025, dan dana IPO senilai Rp 62,7 miliar sebagian besar untuk pelunasan utang. Risikonya ada di ukuran perusahaan yang kecil, yang berpengaruh langsung pada likuiditas perdagangan sahamnya.

JELI, produsen nata de coco INACO dengan rekam jejak 35 tahun, mencatat lompatan laba bersih 235 persen pada 2025 berkat efisiensi struktural. Menarik, tapi ada catatan yang tidak bisa diabaikan: pendapatan justru turun dua tahun berturut-turut. Valuasi P/E di kisaran 31 hingga 39 kali tergolong premium untuk kinerja top-line yang sedang tidak dalam tren terbaik. EMMI, distributor alat kesehatan yang melayani 200 rumah sakit, membidik Rp 269,27 miliar untuk membangun pabrik baru dan memperbaiki struktur modal kerja yang kini tergolong ketat.

Lalu ada RANS. Nama yang paling banyak dibicarakan publik umum karena melekat dengan Raffi Ahmad. Konglomerasi media dan hiburan ini memburu maksimal Rp 429,25 miliar dengan melepas 20,02 persen saham di harga Rp 135 hingga Rp 170 per saham. Rencana penggunaan dananya terbilang beragam: dari membangun wahana "Cipungland", biaya konser, ekspansi bisnis AI, hingga akuisisi PT Rans Kosmetika Indonesia. Daya tarik nama besar memang nyata, tapi pasar modal punya catatan panjang bahwa popularitas dan kinerja saham tidak selalu berjalan beriringan.

Per 26 Juni 2026, BEI masih punya delapan perusahaan dalam pipeline IPO, menyusut jauh dari 15 perusahaan beberapa waktu lalu. Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengonfirmasi bahwa enam dari delapan perusahaan dalam pipeline beraset besar, di atas Rp 250 miliar.

Ahmad Faris Mu'tashim, Investment Specialist KISI Sekuritas, menilai timing IPO ini masih bisa dipertahankan. Secara teknikal, IHSG tidak lagi membentuk pola lower low, sinyal potensi reversal. Mayoritas calon emiten pun sudah memasuki tahap book building, sehingga kemungkinan batal relatif kecil. Satu peringatan tetap ia sampaikan: kehadiran enam saham baru sekaligus berpotensi menyedot likuiditas dari saham-saham lama yang sudah dalam posisi extended.

Pertanyaannya, berapa lama euforia IPO ini bertahan?

Investor yang sudah kenyang pengalaman tahu jawabannya bisa mengecewakan. Era easy money sudah lama berlalu. Pasar kini jauh lebih rewel soal valuasi dan penggunaan dana, kalau data-data ini bisa dipercaya sebagai cermin kondisi sesungguhnya. Kali ini bukan soal siapa yang paling ramai dibicarakan, tapi siapa yang benar-benar punya bisnis untuk dibuktikan.