Sepanjang 2026, nama Prajogo Pangestu lebih sering muncul di halaman berita karena kerugian ketimbang pencapaian. Kamis (21/5/2026), dua emiten andalannya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), resmi dijatuhi status unusual market activity (UMA) oleh Bursa Efek Indonesia, bersamaan dengan eksekusi pembuangan keduanya dari indeks global MSCI.
CUAN amblas 9,32% ke level Rp535 per saham dalam sesi perdagangan hari itu. Angka yang tidak main-main. Kalau dihitung dari puncaknya di Rp2.290 pada Januari lalu, saham ini sudah kehilangan lebih dari tiga perempat nilainya dalam beberapa bulan, tepatnya melemah 77,14% sejak awal tahun. TPIA bernasib serupa, ikut tergerus oleh tekanan jual yang agaknya belum menemukan lantai.
Depaknya CUAN dan TPIA dari MSCI bukan kabar kecil. Indeks itu jadi acuan ribuan fund manager institusional global, dan ketika sebuah saham tersingkir dari sana, konsekuensinya bisa brutal. Fund-fund pasif yang mengikuti indeks tersebut otomatis harus melepas kepemilikannya, tekanan jual terorganisir yang, bisa jadi, mempercepat kejatuhan keduanya jauh melampaui koreksi normal. Entah kebetulan atau tidak, timing eksklusi ini bertepatan persis dengan kenaikan volume short yang tidak lazim di kedua saham sejak pekan lalu.
IHSG pun ikut terseret ke zona merah. Bobot dua saham tersebut di indeks domestik tadinya cukup besar, dan kapitalisasi yang menguap dalam hitungan bulan turut menggerus kekayaan sang konglomerat secara masif, cukup dalam hingga posisinya sebagai orang terkaya Indonesia kini berpindah tangan ke nama lain.
Status UMA sendiri bukan berarti ada pelanggaran. Ini sinyal dari bursa bahwa pergerakan harga atau volume sudah di luar pola wajar dan membutuhkan penjelasan dari emiten, setidaknya begitu framing resminya. Untuk saham yang sudah babak belur seperti CUAN dan TPIA, penandaan ini mempertebal kekhawatiran investor ritel yang masih nyangkut di posisi atas.
Apakah ini sudah dasar, atau masih ada ruang turun? Dengan tekanan eksklusi MSCI yang belum sepenuhnya tercerna pasar dan sentimen yang belum berpihak, pemegang kedua saham ini mungkin perlu ekstra sabar, atau, lebih tepatnya, ekstra realistis soal berapa lama mereka sanggup menunggu.