RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Emas Terseok di Bawah Bayang-bayang Yield dan Fed...

Bisnis

Emas Terseok di Bawah Bayang-bayang Yield dan Fed yang Masih Garang

Harga emas spot terkoreksi dari level US$ 4.600 ke kisaran US$ 4.500 per ons troi sepekan terakhir, dihantam kombinasi yield obligasi AS yang membandel di atas 5% dan meredupnya permintaan fisik dari India hingga China.

Pakar Wanti-wanti Tekanan Harga Emas Belum Berakhir - Halaman all

Harga emas spot terkoreksi dari nyaris US$ 4.600 ke kisaran US$ 4.500 per ons troi dalam sepekan, dihajar kombinasi faktor yang agaknya belum akan reda: yield obligasi AS yang masih membandel, ekspektasi suku bunga The Fed yang terus merangkak, dan permintaan fisik dari dua konsumen terbesar dunia yang kompak menyusut.

Yield Treasury tenor 30 tahun masih bertengger di atas 5%, sementara tenor 10 tahun enggan turun dari kisaran 4,5%. Bagi emas sebagai aset non-yielding, itu ibarat jalan mendaki dengan angin kencang dari depan. Semakin tinggi yield, semakin besar biaya peluang memegang logam mulia tanpa bunga.

Naeem Aslam, Chief Investment Officer Zaye Capital Markets, melihat satu sinyal yang layak dicermati. Jika yield tenor panjang terus naik agresif, pasar bisa mulai mempertanyakan status obligasi pemerintah sebagai aset safe haven. Momen ketika yield terus naik tapi harga emas berhenti turun, kata Aslam, bisa jadi pertanda buruan berlindung ke emas kembali dimulai.

Tekanan, untuk saat ini, lebih terasa. John Murillo, Chief Business Officer B2BROKER Group, memperkirakan harga emas berpotensi menguji level US$ 4.000 per ons troi apabila tekanan pasar semakin besar, terutama jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga lagi sebelum akhir tahun. Peluang itu, menurut Senior Market Analyst Trade Nation David Morrison, kini diperhitungkan pasar lebih serius dibanding beberapa pekan lalu. Konflik Timur Tengah yang mendorong harga energi ikut memperkeruh hitung-hitungan inflasi, memberi amunisi bagi kubu hawkish di bank sentral AS.

Di sisi permintaan fisik, kondisinya tidak kalah lesu. India, konsumen emas terbesar kedua di dunia, memperdagangkan emas dengan diskon hingga US$ 78 per ons di atas harga domestik resmi pekan ini. Penyebabnya berlapis: volatilitas harga yang membingungkan pembeli ritel, ditambah kenaikan bea impor emas dari 6% menjadi 15% yang baru diberlakukan pemerintah India. Musim pernikahan yang hampir berakhir membuat pedagang perhiasan makin enggan menambah stok. Cukup untuk membuat sisi permintaan tetap lesu.

Dari Tiongkok, premi emas batangan sedikit mereda ke kisaran US$ 10 hingga US$ 20 per ons dari US$ 15 hingga US$ 20 sepekan sebelumnya. Bukan perbaikan yang menggembirakan. Bernard Sin, direktur regional Greater China di MKS PAMP, menyebut dolar yang menguat membuat emas terasa mahal bagi pemegang mata uang non-dolar, sementara yield yang tinggi mempertebal hambatan. "Dalam jangka pendek, permintaan emas fisik tetap terjepit antara permintaan tempat berlindung akibat konflik dan hambatan yang disebabkan oleh kebijakan," jelasnya.

Analis TD Securities menilai kenaikan yield saat ini lebih mencerminkan ekspektasi inflasi dan ketahanan ekonomi AS ketimbang kekhawatiran terhadap defisit fiskal. Proyeksi mereka: emas berpotensi menguji support di kisaran US$ 4.350 per ons apabila pasar semakin agresif memasukkan probabilitas kenaikan suku bunga. Angka yang tidak main-main, kalau data-data pekan depan memang mengarah ke sana.

Perkan depan ada beberapa rilis yang bisa menggerakkan pasar, mulai dari indeks kepercayaan konsumen, revisi PDB, hingga data inflasi PCE yang menjadi acuan utama The Fed. Bisa jadi penentu arah. Murillo sendiri tetap optimistis soal prospek jangka panjang emas karena bank sentral dunia masih rajin menumpuk cadangan logam mulia, setidaknya begitu klaim manajemen, dan angka aktualnya masih perlu dibuktikan kuartal demi kuartal.