Harga emas tergelincir ke bawah US$4.500 per troy ounce pada Kamis (21/5), tertekan dinamika geopolitik yang belum juga reda di Timur Tengah dan tekanan makro yang datang bersamaan.
Emas spot ditutup di US$4.497, terkoreksi 0,71% dalam sehari. Dalam sebulan, logam mulia ini sudah amblas 4,71%. Sejak konflik AS-Iran meledak, emas kehilangan sekitar 12% dari nilainya.
Pemicu koreksi terbaru: laporan yang menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memerintahkan seluruh stok uranium tetap berada di dalam negeri. Arahan itu menabrak syarat yang diklaim pejabat Israel, yakni uranium enriched Iran harus dipindahkan keluar sebagai bagian dari kesepakatan damai. Harapan resolusi diplomatik yang sempat bikin pasar sedikit optimis, agaknya kembali menguap.
Dolar AS yang perkasa dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi ikut menekan. Dua beban itu susah diabaikan investor jangka pendek.
Tapi para analis besar tidak kompak pesimis. Sama sekali tidak.
Ewa Manthey, Ahli Strategi Komoditas ING, menilai penurunan ini terutama mencerminkan tren ekonomi makro yang sifatnya sementara. Harga minyak yang melonjak, dolar yang lebih kuat, imbal hasil riil yang tinggi. Setelah perang di Timur Tengah berakhir, kata Manthey, dukungan terhadap emas akan kembali menguat. ING memperkirakan potensi rebound sekitar 6% sebagai skenario yang realistis, dengan target kembali ke US$5.000 sebelum tutup 2026.
Goldman Sachs lebih agresif. Tim komoditas yang dipimpin Daan Struyven mematok US$5.400 per troy ounce di akhir 2026. Bukan angka kosong.
Dua fondasi menopang proyeksi itu. Pertama, aksi beli bank sentral yang tidak menunjukkan tanda-tanda melambat: Bank Rakyat Tiongkok menambahkan 8 ton ke cadangan emas resminya pada April, akuisisi bulanan tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Kedua, survei Goldman Sachs mencatat sekitar 70% bank sentral yang mereka pantau berencana menambah cadangan emas dalam 12 bulan ke depan. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya, cukup untuk bikin bull case terdengar masuk akal.
Arus masuk ke ETF emas disebut sebagai penopang tambahan. Kombinasi pembelian bank sentral yang masif dan demand ETF yang menguat bisa jadi katalis yang cukup untuk menutup gap penurunan saat ini, dengan asumsi tensi geopolitik tidak semakin lepas kendali.
Bagi investor ritel yang nyangkut di harga atas, setidaknya ada secercah kabar. Bagi yang belum masuk, pertanyaannya sederhana: apakah kisaran US$4.400-4.500 cukup menarik sebagai titik akumulasi, atau koreksi masih akan berlanjut lebih dalam sebelum arah berbalik?