RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  DSSA Didepak FTSE Russell: Bisnis Solid, Likuidita...

Bisnis

DSSA Didepak FTSE Russell: Bisnis Solid, Likuiditas Semu

FTSE Russell resmi mencoret PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dari kategori Large Cap indeks globalnya, bukan karena bisnisnya bermasalah, melainkan karena sekitar 79,58% saham terkunci di lingkar internal korporasi.

FTSE Russell Tendang 4 Saham RI, Ini Pelanggarannya

Sepanjang Mei 2026, nama DSSA ramai diperbincangkan di kalangan fund manager dan analis ekuitas, bukan karena alasan yang menggembirakan. FTSE Russell resmi mencoret PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari kategori Large Cap dalam FTSE Global Equity Index Series (GEIS) lewat laporan June 2026 Quarterly Review yang dirilis Sabtu, 23 Mei 2026. Alasannya gamblang: DSSA gagal memenuhi kriteria konsentrasi kepemilikan saham, atau dalam bahasa resmi FTSE Russell, "failed high shareholding concentration."

Bukan kali pertama. MSCI lebih dulu mengeluarkan saham Grup Sinarmas ini dari indeks mereka, dan kini FTSE Russell mengikuti langkah serupa. Keputusan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan 19 Juni 2026, meski masih bisa ditinjau ulang hingga 5 Juni 2026. Mulai 8 Juni, perubahan dianggap final.

Ironinya, dari sisi bisnis, DSSA bukan perusahaan yang sedang sakit. Pendapatan trailing twelve months tercatat sekitar Rp45,99 triliun. Laba bersih Rp3,79 triliun. EBITDA Rp7,88 triliun. Gross margin masih 32,51 persen, sementara neraca keuangan terbilang sehat: kas Rp6,90 triliun, current ratio 2,20 kali, debt-to-equity 0,82 kali. Bukan angka yang jelek sama sekali.

Lalu apa masalahnya? Data pemegang saham per Mei 2026 mengungkap gambarannya dengan cukup telak. PT Sinar Mas Tunggal menguasai 59,90 persen saham DSSA, setara 115,39 miliar lembar. Di atas itu, perusahaan juga menyimpan saham treasury sebesar 19,68 persen, atau 37,91 miliar saham yang tidak beredar di pasar reguler. Gabungkan keduanya, sekitar 79,58 persen saham DSSA praktis terkunci di lingkar internal korporasi. Free float memang masih tercatat 18,51 persen, jauh di atas batas minimum Bursa Efek Indonesia sebesar 7,5 persen. Tapi MSCI dan FTSE Russell tidak sekadar menghitung angka formal.

Sebagian besar porsi publik itu pun agaknya tidak benar-benar cair. Tiga pemegang terbesar di sisi publik, yakni UOB Kay Hian Private Singapura (3,74 persen), Fitzgerald and Wilkinson Investments (3,61 persen), dan Citibank Hong Kong (3,29 persen), adalah institusi yang cenderung hold jangka panjang dan tidak aktif bertransaksi harian. Hasilnya: di layar perdagangan saham terlihat besar, tapi kedalaman likuiditasnya tipis. Likuiditas semu, kata para analis. Dan tuduhan itu sulit dibantah.

Ketika sebuah saham keluar dari indeks global, mesin algoritma ETF dan reksa dana indeks internasional langsung bekerja. Tidak ada negosiasi. Posisi dijual, titik. Ketika dana-dana besar itu keluar bersamaan dari saham dengan pasokan publik setipis DSSA, pasar domestik tidak punya kedalaman untuk menyerap tekanan jual tersebut. Harga pun longsor.

Manajemen DSSA bukannya diam. Stock split besar sebelumnya berhasil mendongkrak jumlah pemegang saham dari sekitar 4.762 investor di akhir 2025 menjadi lebih dari 23.406 investor pada April 2026. Impresif secara statistik, tapi kurang bermakna secara struktural, mayoritas investor baru hanya memegang saham dalam jumlah kecil, dominasi pengendali tidak bergeser. Pasar global tahu bedanya.

Ada dua opsi yang secara realistis bisa ditempuh DSSA. Pertama, melepas sebagian saham treasury secara bertahap ke investor independen. Jika 19,68 persen treasury itu mulai didistribusikan, free float riil bisa melonjak dan pasar global kemungkinan akan membacanya sebagai sinyal positif. Kedua, divestasi sebagian kepemilikan pengendali ke institusi independen besar, misalnya dana pensiun atau sovereign wealth fund. Tapi langkah kedua ini jelas tidak mudah: pengendali harus rela berbagi kendali, dan pasar akan mengawasi ketat apakah pihak yang menerima benar-benar independen atau sekadar entitas terafiliasi dengan nama berbeda.

Pertanyaannya, berapa lama pasar mau menunggu?

Satu hal yang patut dicermati: keluarnya DSSA dari indeks global bukan hanya soal harga saham jangka pendek. Status sebagai konstituen indeks selama ini berfungsi semacam cap kualitas di mata lembaga keuangan internasional. Tanpa label itu, premi risiko untuk saham dan obligasi perusahaan berpotensi merangkak naik, pada saat anak-anak usaha di sektor pembangkit listrik, internet broadband, dan multimedia justru butuh pembiayaan besar untuk ekspansi.

Selain DSSA, FTSE Russell juga mencoret tiga saham Indonesia lain dalam review yang sama. PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) keluar dari kategori micro cap karena free float di bawah batas minimum, sementara PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) dikeluarkan karena gagal surveillance stocks screen.

DSSA kini diperdagangkan di PE sekitar 27,64 kali dan PBV 3,46 kali. Valuasi mulai terlihat lebih menarik dibanding beberapa bulan lalu, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal reversal. Tapi buat investor institusi global, angka murah bukan argumen yang cukup jika mereka tidak bisa masuk dan keluar dari posisi besar tanpa menggerakkan harga secara drastis. Pasar sedang melakukan repricing bukan terhadap bisnisnya, melainkan terhadap struktur kepemilikannya. Dan repricing itu, setidaknya berdasarkan pola klasik jelang rebalancing indeks, belum tentu selesai sebelum tanggal efektif 19 Juni tiba.