Pengumuman dividen seharusnya jadi kabar baik. Untuk PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), kenyataannya justru sebaliknya.
Saham TPIA dihajar aksi jual masif pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, dengan koreksi 14,74% ke level Rp2.660 per lembar. Bukan sekadar koreksi biasa. Dalam sehari, kapitalisasi pasar TPIA tergerus hingga tercatat di kisaran Rp230,12 triliun. Nilai transaksi hari itu menembus Rp591,9 miliar dengan frekuensi 26.844 kali, eh, bukan em dash, dengan frekuensi 26.844 kali, pertanda aksi jual berlangsung serius, bukan profit-taking tipis.
Pemicunya adalah pengumuman sisa dividen final tahun buku 2025 senilai US$30 juta, atau sekitar Rp529,98 miliar mengacu kurs BI Rp17.666 per dolar. Pembayaran dijadwalkan 17 Juni 2026, dengan setiap pemegang saham menerima Rp6,07341 per lembar. Kalau mau jujur, angka itu tidak terlalu besar untuk ukuran emiten sekelas ini.
Dengan harga saham Rp3.120 pada penutupan 19 Mei lalu, yield dividen ini cuma 0,19% dengan payout ratio 2,75%. Dari laba bersih yang dapat diatribusikan ke entitas induk sepanjang 2025 sebesar US$1,09 miliar, manajemen memilih menaruh US$1,03 miliar sebagai laba ditahan. Hanya US$30 juta yang dikembalikan ke pemegang saham. Wajar kalau pasar bereaksi dingin.
Ada lapisan lebih kompleks di balik koreksi ini. Kualitas laba TPIA sendiri sudah lama jadi tanda tanya, kalau data laporan keuangan ini bisa dipercaya sepenuhnya. Keuntungan miliaran dolar yang dibukukan sepanjang 2025 sebagian besar bersifat non-kas, alias keuntungan akuntansi yang tidak benar-benar mengalir masuk ke kantong perusahaan. Ekspansi agresif yang dibiayai utang baru membuat kas internal tetap ketat, sementara di atas kertas angka laba terlihat gemilang.
Berjalan beriringan dengan itu, ada masalah struktural di pasar sekunder yang tak kalah pelik. Berdasarkan data KSEI per 31 Maret 2026, kepemilikan saham TPIA sangat terkonsentrasi. Aliansi tiga poros pengendali utama, yakni Prajogo Pangestu lewat Barito Pacific (34,63%) dan kepemilikan pribadi (5,03%), SCG Chemicals Thailand (30,57%), serta PT Top Investment Indonesia (15,00%), sudah mengunci 85,2% saham. Tambah investor jangkar lainnya, total saham yang terkunci mencapai 90,85%. Real free float? Hanya 9,15%.
Dengan float sekecil itu, pembuangan TPIA dari indeks MSCI bukan kejutan. Rebalancing MSCI memaksa fund manager global melepas posisi secara bersamaan, dan dengan likuiditas yang sempit, dampaknya ke harga bisa brutal. Agaknya tekanan hari Rabu itu masih ada ekornya dari sana.
Perjalanan emiten ini sendiri panjang dan berliku. TPIA pertama melantai di bursa pada 26 Juli 1996 dengan nama PT Tri Polyta Indonesia Tbk, IPO di harga Rp2.200 per lembar. Merger dengan PT Chandra Asri pada 1 Januari 2011 melahirkan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, dan awal 2024 berganti nama menjadi PT Chandra Asri Pacific Tbk, menandai transformasi dari pabrik kimia domestik menjadi induk investasi infrastruktur regional.
Transformasi itu tercermin dari serangkaian langkah ekspansi: akuisisi jaringan SPBU Esso, pembelian Aster Chemicals and Energy Pte Ltd di Singapura, pembangunan pabrik CA-EDC di Cilegon, hingga persiapan IPO anak usaha PT Chandra Daya Investasi Tbk. Manajemen menyebutnya sebagai upaya memperkuat ketahanan bisnis melalui portofolio yang lebih terintegrasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur. Setidaknya itu klaim manajemen, perlu dibuktikan hasilnya.
Saldo laba ditahan TPIA yang belum dibatasi penggunaannya tercatat US$1,71 miliar, dengan total ekuitas US$4,66 miliar. Besar di atas kertas. Tapi pasar agaknya sedang mempertanyakan satu hal: apakah angka-angka itu bisa benar-benar dicairkan untuk kepentingan pemegang saham minoritas, atau justru akan terus terserap ekspansi yang pembiayaannya bergantung pada utang baru?
Harga saham TPIA kini, di Rp2.660, ironisnya hanya sedikit di atas harga IPO tiga dekade lalu. Entah kebetulan atau tidak, itu angka yang cukup untuk membuat pemegang saham lama berpikir ulang.