Tujuh koma lima persen. Bukan return investasi, bukan yield obligasi. Itu porsi saham publik PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) per 31 Maret 2026, jauh di bawah ambang transisi 12,5% yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia.
Bukan cuma dua. PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) tercatat 7,9%, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) 9,3%, PT Bank Permata Tbk. (BNLI) 10%, dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) 11,2%. Semuanya masih harus berlari mengejar tenggat yang sudah terpasang di kalender.
BEI memberi ruang, tapi bukan tanpa batas. Emiten berkapitalisasi di atas Rp5 triliun wajib mencapai free float 12,5% paling lambat 31 Maret 2027, lalu naik ke 15% pada 31 Maret 2028. Bagi yang kapitalisasinya di bawah angka itu, batas akhir molor ke 31 Maret 2029, dengan syarat minimal 50 juta lembar saham digenggam publik.
Masalahnya bukan soal angka di atas kertas semata. Free float yang tipis nyaris selalu berbanding lurus dengan likuiditas yang seret. Likuiditas seret, harga saham jadi lebih gampang digoyang. Investor ritel yang masuk di saat volume perdagangan kecil bisa kena volatilitas yang tidak perlu.
Lantas bagaimana jalan keluarnya?
Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk., menyebut strategi kombinasi sebagai pendekatan yang paling realistis saat ini. "Memang realistis untuk menjalankan strategi 'sekalian jalan' melalui kombinasi right issue, masuknya strategic investor, atau konsolidasi, sehingga penambahan modal, penguatan struktur permodalan, dan pemenuhan free float dapat tercapai secara bersamaan," ujar Efdinal.
Dua mekanisme utama itu punya implikasi yang berbeda. Right issue mendatangkan modal segar, tapi membuka risiko dilusi bagi pemegang saham lama, terutama kalau serapannya tidak penuh. Kalau yang bergerak adalah pemegang saham pengendali yang melepas sebagian kepemilikannya, posisi likuiditas bank tidak tersentuh, tapi sang pengendali harus rela berbagi kue.
Bank Oke sendiri, agaknya, masih memilih jalur menunggu. Efdinal mengakui belum ada rencana right issue yang konkret. Opsi itu masih diperlakukan sebagai kartu cadangan, bukan langkah pertama. Pola serupa kemungkinan juga dipegang sejumlah emiten kecil lain yang kesulitan menjaring investor strategis untuk menyerap saham baru mereka.
Di ujung spektrum yang lain, bank-bank kakap justru tidak punya masalah ini. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) memimpin dengan free float 46,28%, diikuti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) di 42,45%, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) di 38,44%. Ketiganya sudah di zona aman bahkan jika regulasi diperketat lebih jauh.
Masif? Belum. Tapi jam terus berdetak. Bank-bank yang masih berkutat di angka 7-11% perlu bergerak lebih dari sekadar memasang opsi di atas meja, dan dua tahun bukan waktu yang panjang.