Lima bulan berturut-turut cadev Indonesia merosot. Juni 2026 akhirnya membawa kabar berbeda: cadangan devisa naik ke USD 145,6 miliar dari USD 144,9 miliar pada Mei, menghentikan tren penurunan yang sempat membuat pasar mengernyitkan dahi.
Bank Indonesia mencatat kenaikan ini terutama ditopang penerimaan dari pajak dan jasa, yang cukup mengimbangi kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah sekaligus biaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Kembali derasnya aliran investasi portofolio turut jadi penopang. Kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara melonjak dari Rp863 triliun di Mei menjadi Rp886 triliun di Juni. Posisi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia pun melejit dari Rp980 triliun ke Rp1.073 triliun, dengan sekitar 20 persen di antaranya berada di tangan asing. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
BI menilai kecukupan cadev tetap solid, setara pembiayaan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh melampaui standar kecukupan internasional. Angka-angka itu agaknya mencerminkan kepercayaan investor yang mulai pulih setelah berbulan-bulan bersikap wait and see.
Ekonom Bank Danamon Indonesia Hosianna Evalita Situmorang, dalam laporan Macro Glint-nya, menilai bauran kebijakan BI berpotensi menjaga dan bahkan memperkuat posisi cadev di sisa tahun. Salah satu katalis yang ia soroti: kebijakan diskon 10 persen untuk lindung nilai swap BI bagi investor asing. Skema ini secara langsung memangkas biaya hedging sekaligus mendongkrak imbal hasil efektif aset berdenominasi rupiah yang sudah terlindungi dari risiko valuta asing. "Sehingga memperkuat premi kepercayaan untuk keberlanjutan aliran dana masuk ke SBN dan SRBI," kata Hosianna.
BI juga aktif mengerek struktur imbal hasil SRBI di sejumlah tenor sepanjang kuartal ini, upaya memastikan instrumen investasi Indonesia tetap kompetitif ketimbang negara-negara kawasan yang sama-sama berebut modal asing. Bisa jadi ini salah satu alasan kenapa aliran modal ke SRBI bulan lalu begitu deras.
Ada satu faktor lagi yang layak dicermati. Rencana Kementerian Keuangan menerbitkan Panda Bond senilai USD 1 miliar dinilai dapat mendiversifikasi sumber pembiayaan eksternal sekaligus menyediakan bantalan likuiditas valuta asing tambahan setelah dana hasil penerbitan diterima. Hosianna tetap realistis soal ini: dampak Panda Bond terhadap cadev akan sangat bergantung pada waktu penerbitan dan penempatan dana hasilnya. Potensi dan realisasi, seperti biasa, belum tentu bergerak dalam garis lurus.
Bagi investor yang memegang aset rupiah, sinyal Juni ini setidaknya memberi sedikit napas. Tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda, tapi pondasi yang dibangun BI lewat kombinasi kebijakan suku bunga, insentif hedging, dan pendalaman pasar SRBI kini mulai kelihatan hasilnya.