SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Cadangan Devisa Asia Terkuras, Indonesia Ikut Ters...

Ekonomi

Cadangan Devisa Asia Terkuras, Indonesia Ikut Terseret Guncangan Energi Global

Cadangan devisa sejumlah negara Asia merosot signifikan seiring intervensi nilai tukar akibat lonjakan harga energi pasca konflik Iran. Indonesia mencatat penurunan 3,8% menjadi US$146 miliar, sementara tekanan di sektor manufaktur mulai terasa nyata.

Cadangan Devisa Banyak Negara di Asia Terkuras, Efek dari Perang - Market

Filipina kehilangan 8,1% cadangan devisanya dalam hitungan pekan. Angka yang cukup untuk membuat bank sentral mana pun berkeringat dingin.

Data yang dikumpulkan Bloomberg menunjukkan tekanan merata di kawasan Asia sejak konflik Iran memicu lonjakan harga minyak global. Cadangan devisa India menyusut 5,2% menjadi US$691 miliar. Indonesia turun 3,8% ke posisi US$146 miliar. Penurunan ini bukan semata soal intervensi di pasar valas, oh wait, bukan pakai em dash, penurunan ini juga mencerminkan koreksi nilai aset non-dolar yang ikut tergerus.

Asia, dengan ketergantungannya yang dalam pada impor energi, agaknya menjadi korban paling konsisten dari setiap guncangan geopolitik di Timur Tengah. Kali ini tidak berbeda.

Di pasar gas, tekanannya bahkan lebih persisten. Harga Japan-Korea Marker (JKM), acuan LNG regional Asia, masih bertahan 51% di atas level sebelum penutupan Selat Hormuz, yakni US$16,02 per MMBtu per akhir April lalu. QatarEnergy memperpanjang status force majeure untuk pengiriman LNG jangka panjang hingga pertengahan Juni, memaksa para importir Asia kian bergantung pada harga spot yang jauh lebih liar. Bukan pilihan yang nyaman.

Dampaknya mulai merambat ke sektor riil. PMI manufaktur Indonesia amblas ke 49,1 pada April, masuk zona kontraksi untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. Inflasi biaya input menyentuh level tertinggi dalam empat tahun. Harga jual? Tumbuh paling cepat sejak 2013. Dua sinyal yang, kalau dibaca bareng, bikin gambaran margin korporasi di kuartal ini jadi tidak terlalu menggiurkan.

Rupiah ikut kena getahnya. Indeks saham kawasan pun tertekan seiring investor memperhitungkan ulang eksposur mereka ke pasar Asia yang bergantung energi impor.

Tekanan ini datang berlapis: kebijakan tarif dari Washington, ditambah gejolak Timur Tengah yang belum reda. Keduanya tidak bekerja secara terpisah. Trumponomics dan konflik Iran saling memperparah efek satu sama lain terhadap harga komoditas, bahan baku, dan mata uang kawasan, dengan intensitas yang berbeda-beda di tiap negara tergantung seberapa besar eksposur energi dan perdagangan mereka. Efek domino, bukan efek tunggal.

Bagi investor lokal, angka cadangan devisa Indonesia di US$146 miliar masih terbilang memadai untuk menopang stabilitas jangka pendek. Tapi kalau Selat Hormuz belum juga terbuka dan harga LNG spot terus bertengger tinggi, tekanan di sisi current account bisa semakin menggerogoti ruang gerak Bank Indonesia. Pertanyaannya bukan apakah cadangan cukup hari ini, tapi sampai kapan ketahanan itu bisa dijaga kalau skenario ini berlarut.