SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BWPT Coba Lagi Hapus Defisit Rp3,7 Triliun Lewat K...

Bisnis

BWPT Coba Lagi Hapus Defisit Rp3,7 Triliun Lewat Kuasi Reorganisasi

PT Eagle High Plantations Tbk kembali mengajukan rencana kuasi reorganisasi untuk mengeliminasi saldo defisit Rp3,71 triliun menggunakan agio saham, setelah rencana serupa gagal pada 2025.

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) kembali mengajukan rencana kuasi reorganisasi yang tertunda pada tahun lalu. (Foto: Ist)

Setahun setelah rencananya kandas di tangan OJK, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) kembali mencoba peruntungan. Emiten sawit milik Rajawali Group itu mengajukan lagi rencana kuasi reorganisasi, kali ini menggunakan laporan posisi keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025, dengan target mengeliminasi saldo defisit Rp3,71 triliun dari neraca perseroan.

Angka Rp3,71 triliun itu bukan muncul tiba-tiba. Akumulasi kerugian bertahun-tahun itu bermula dari agresivitas ekspansi perseroan, kenaikan beban bunga, hingga hantaman pandemi COVID-19 yang menggerus keuangan yang memang sudah tertekan. Pada 2023, defisitnya masih Rp4,33 triliun. Tiga tahun pemulihan belakangan berhasil memangkasnya, tapi Rp3,71 triliun di buku tetap menjadi bayang-bayang yang berat.

Cara yang dipilih manajemen BWPT terbilang elegan secara akuntansi. Saldo laba negatif itu akan di-offset terhadap agio saham, yang dicatat sebagai tambahan modal disetor. Total ekuitas konsolidasian tidak bergerak, tapi saldo defisit akan menjadi nol. Bersih. Setidaknya itu klaim manajemen.

Yang membuat pengajuan kali ini agaknya lebih kuat dibanding versi tahun lalu adalah rekam jejak keuangan yang jauh lebih solid. Laba bersih perseroan tumbuh berturut-turut: Rp159,97 miliar pada 2023, Rp272,13 miliar pada 2024, lalu melonjak ke Rp379,10 miliar pada 2025. Rata-rata laba tiga tahun terakhir mencapai Rp270,4 miliar, angka yang menjadi salah satu syarat material yang disyaratkan regulator. Pendapatan 2025 pun menembus Rp5,76 triliun, naik dari Rp4,30 triliun pada 2024, ditopang kenaikan harga minyak sawit global dan efisiensi operasional yang mulai memperlihatkan hasil.

Pertanyaannya, cukupkah ini untuk meyakinkan OJK?

Ingat, rencana serupa pernah diajukan pada Maret 2025 dan dijadwalkan disetujui dalam RUPSLB Mei 2025. Gugur. OJK menerbitkan surat penolakan bernomor S-25/PM21/2025. Perseroan tidak membuka detail alasan penolakan itu, tapi kini meyakini kondisi keuangan yang lebih baik membuat rencana ini layak jalan.

"Perseroan memandang perlu untuk melakukan penataan struktur ekuitas dan laporan posisi keuangan agar lebih mencerminkan kondisi keuangan perseroan saat ini secara wajar," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi kepada BEI.

Selain perbaikan estetika laporan keuangan, ada satu hal yang paling ditunggu pemegang saham ritel: dividen. Selama defisit masih tercatat, ruang untuk membagi dividen secara regulasi nyaris tertutup. Setelah kuasi reorganisasi, peluang itu terbuka, meski tetap bergantung pada konsistensi profitabilitas.

Dari sisi operasional, BWPT tidak berdiam diri. Pembangunan extension pabrik kelapa sawit rampung pada 2025. Kini perseroan mengejar penyelesaian Kernel Crushing Plant (KCP) yang ditargetkan beroperasi penuh tahun ini, fasilitas yang akan memproduksi Palm Kernel Oil (PKO) dan Palm Kernel Meal (PKM) sebagai bagian dari strategi hilirisasi yang sejalan dengan RPJMN 2025-2029.

Total aset BWPT per akhir 2025 tercatat Rp10,18 triliun. Total liabilitas Rp7,35 triliun, ekuitas Rp2,83 triliun. Persetujuan pemegang saham akan dicari dalam RUPSLB 29 Juni 2026, setelah surat rencana RUPSLB dikirim ke OJK pada 12 Mei 2026. Pemanggilan resmi dijadwalkan 5 Juni 2026.

Dua pertanyaan yang relevan buat investor: apakah OJK kali ini memberi restu? Dan jika ya, apakah tren laba yang terbangun tiga tahun ini cukup kuat untuk akhirnya mengantarkan BWPT ke babak dividen?