Angka 233% itu bukan sekadar statistik biasa. Buffett Indicator, rasio kapitalisasi pasar saham AS terhadap PDB nasional, kini bertengger di level yang belum pernah tercatat dalam sejarah bursa Amerika, melampaui puncak gelembung dot-com maupun krisis 2008. Per pertengahan 2026, angka itu resmi menjadi rekor.
Warren Buffett, dalam pertemuan tahunan Berkshire Hathaway, memilih analogi yang cukup mencolok: pasar saham saat ini ibarat sebuah gereja yang dindingnya berbatasan langsung dengan kasino. Satu sisi mewakili investasi sabar dan terukur, sisi lainnya sudah berdengung dengan spekulasi jangka pendek yang semakin sulit dibedakan dari perjudian. Saham yang dikerek rumor dan euforia populer, kata Buffett, jarang bisa bertahan saat pasar berbalik arah.
Dan tanda-tanda pembalikan itu, menurut sejumlah analis, bukan lagi soal "apakah" tapi "kapan". S&P 500 melonjak hampir 20% sejak menyentuh titik nadir akhir Maret lalu, membukukan reli sembilan pekan berturut-turut yang sebagian besar ditenagai euforia kecerdasan buatan. Kenaikan yang tampak gagah di atas kertas, tapi mulai membuat para profesional pasar gelisah. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan?
Brent Kochuba, pendiri SpotGamma, tidak memilih kata-kata yang lunak. "Situasi ini sangat, sangat matang untuk apa yang saya sebut sebagai lonjakan volatilitas," tegasnya. Reli panjang ini, menurutnya, tidak akan melandai dengan mulus. "Saya pikir ini akan berakhir dengan penurunan yang tajam." Yang lebih mengkhawatirkan: semakin tinggi dan ekstrem pergerakan pasar, semakin kecil pemicu yang dibutuhkan untuk membaliknya. Kochuba bilang persis itu.
Data UBS ikut mempertebal gambaran suram itu. Maxwell Grinacoff, Kepala Riset Derivatif Ekuitas AS UBS, menyebut indikator kerentanan Turbu-lens milik banknya kini berada di angka 0,8, mendekati ambang batas tekanan tinggi. Korelasi antarsaham di S&P 500 sempat menyentuh level terendah dalam sejarah pada Mei 2026. "Dalam lima tahun terakhir, setiap kali korelasi turun mendekati nol, selalu muncul peristiwa volatilitas dalam waktu sekitar satu bulan setelahnya," ungkap Grinacoff. Pernyataan yang, jujur saja, cukup bikin bulu kuduk berdiri.
Dari sudut pasar opsi, gambarannya tidak kalah keras. Investor kini agresif bertaruh pada kenaikan saham sambil sekaligus melepas lindung nilai terhadap risiko turun. Eric Johnston, Kepala Strategi Ekuitas dan Makro Cantor Fitzgerald, menyebut fenomena ini cermin euforia dan spekulasi yang sudah kelewatan. Pola yang, entah kebetulan atau tidak, sangat mirip dengan yang terjadi menjelang gelembung dot-com awal 2000-an.
Berbagai katalis potensial sudah mengantre: rapat Federal Reserve, jatuh tempo kontrak opsi bulanan, IPO SpaceX yang dinanti pasar, hingga eskalasi ketegangan di Iran. Satu saja dari agenda itu bereaksi di luar ekspektasi, pasar yang sudah berdiri di tepi ini bisa terdorong lebih cepat dari yang siap diantisipasi kebanyakan investor. Bak gayung bersambut dengan kondisi valuasi yang sudah meregang jauh.
Bagi investor ritel Indonesia yang punya eksposur ke reksa dana saham global atau ETF berbasis indeks AS, ini bukan alarm yang bisa disisihkan ke laci. Koreksi di Wall Street hampir selalu merembet ke bursa emerging market. IHSG punya sejarah panjang soal itu, dan catatan sejarah itu tidak pernah menyenangkan.