JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BMRI Cetak Laba Rp18 T Empat Bulan Pertama 2026, A...

Bisnis

BMRI Cetak Laba Rp18 T Empat Bulan Pertama 2026, Asing Serok Saat IHSG Ambles

Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp18,05 triliun sepanjang Januari-April 2026, tumbuh 19% YoY dan melampaui estimasi konsensus. Di saat IHSG ambles, investor asing justru masuk dengan net buy Rp84,8 miliar.

Tekanan Beban Bunga Reda, Laba Bank Mandiri (BMRI) Terangkat Signifikan - Halaman all

Empat bulan. Cukup untuk Bank Mandiri membuktikan bahwa tahun ini bukan sekadar efek basis rendah semata.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan laba bersih bank only sebesar Rp18,05 triliun sepanjang Januari hingga April 2026, melonjak 18,85% secara tahunan. Angka itu bukan hanya mengalahkan periode yang sama tahun lalu, tapi juga melampaui ekspektasi pasar secara telak. Stockbit Sekuritas mencatat perolehan tersebut setara 31% dari estimasi konsensus konsolidasi untuk full year 2026, jauh di atas rata-rata historis 27% pada periode yang sama.

Kata kunci tahun ini: beban bunga. Sepanjang 4M25, BMRI dihantam lonjakan beban bunga hingga 28,18% YoY yang menggerus profitabilitas. Situasi kini berbalik arah. Beban bunga tergerus 0,89% YoY menjadi Rp14,04 triliun, sementara pendapatan bunga justru tumbuh 5,99% YoY ke Rp41,96 triliun. Hasilnya, net interest income (NII) mekar 9,83% YoY menjadi Rp27,91 triliun, dan pre-provision operating profit (PPoP) terkerek 14% YoY.

Beban provisi ikut menyusut 17% YoY menjadi Rp2,50 triliun. Cost of credit (CoC) bank only pun turun ke 0,5%, dari 0,7% di periode yang sama tahun lalu. Angka itu bahkan berada di bawah rentang panduan manajemen untuk CoC konsolidasi sebesar 0,6-0,8%. Bukan hasil yang bisa diklaim kebetulan.

Pendapatan berbasis komisi turut berkontribusi, tumbuh 21,94% YoY menjadi Rp7,36 triliun. Beban operasional terjaga nyaris datar di 2% YoY. Kombinasi inilah yang mendorong laba operasional menembus Rp22,25 triliun, naik 18,85% YoY. ROE per April tercatat 20,60%, ROA di 2,43%.

Dari sisi neraca, ekspansi kredit BMRI terbilang agresif. Penyaluran kredit mencapai Rp1.550,17 triliun atau tumbuh 18,48% YoY, sebagian ditopang pembiayaan ke PT Agrinas Pangan Nusantara. Dana pihak ketiga (DPK) ikut meningkat 16,61% YoY menjadi Rp1.649,96 triliun. Yang agaknya perlu dicermati: pertumbuhan DPK masih bersandar pada dana mahal. Deposito meledak 52,25% YoY menjadi Rp474,93 triliun, sementara giro dan tabungan hanya tumbuh moderat 7,39% dan 5,58% YoY. Akibatnya, rasio CASA tergerus dari 77,95% menjadi 71,22%.

Implikasi terhadap NIM pun terasa. Net interest margin bulan April tertahan di 3,84%, dengan rata-rata 4M26 hanya 4,01%, masih jauh dari ambisi manajemen di kisaran 4,6-4,8%. Ciptadana Sekuritas mencatat NIM terkompresi 30 basis poin YoY ke 4,5% akibat tekanan biaya dana. Manajemen sudah mengakui kondisi ini seiring persaingan ekosistem pinjaman yang kian ketat. Pertanyaannya, berapa lama tekanan ini bisa mereka tahan?

Jika dibandingkan dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), kontrasnya cukup mencolok. BCA membukukan laba bersih bank only Rp20,81 triliun hingga April 2026, tapi hanya tumbuh 3% YoY. NII BCA bahkan terkoreksi tipis 0,3% YoY akibat beban bunga yang naik lebih cepat. Pertumbuhan kredit BCA pun jauh lebih konservatif di 4,54% YoY. Satu hal yang masih jadi keunggulan BCA: komposisi dana lebih sehat, dengan giro naik 15,68% YoY sementara deposito justru turun 4,71% YoY. BMRI agresif, BCA stabil. Dua strategi berbeda dari dua raksasa yang sama-sama masih mencetak angka besar.

Saham BMRI ditutup terkoreksi 1,67% ke Rp4.130 pada perdagangan Senin (18/5/2026), melanjutkan tren penurunan 19,02% sepanjang tahun berjalan. Tapi entah kebetulan atau tidak, tepat saat laporan keuangan April dirilis, investor asing masuk dan membukukan net buy Rp84,8 miliar di pasar reguler. Net buy asing terbesar kedua. Posisi pertama ditempati BBCA dengan Rp107,1 miliar. Ini terjadi ketika IHSG ambles 1,85% ke 6.599,2 dan akumulasi net sell asing sepanjang 2026 sudah menumpuk ke Rp41,2 triliun. Masif.

Analis Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp5.700, mencerminkan potensi upside sekitar 38% dari harga saat ini. Ciptadana Sekuritas lebih agresif: target Rp6.150 per saham, didukung proyeksi dividend yield 8,5% untuk buku 2026. RUPST April lalu sudah memutuskan dividen tunai buku 2025 sebesar Rp44,47 triliun atau Rp476,95 per saham, dengan rasio payout 79%. Sisa dividen final Rp376,95 per saham masih menunggu pembayaran. Ada juga persetujuan buyback hingga Rp1,16 triliun.

Dengan valuasi PBV 2026 yang dipatok sekitar 1,7 kali, pasar agaknya sudah memutuskan: BMRI cukup murah untuk dikoleksi, kalau data ini bisa dipercaya.