Dividend yield 9,36%. Angka itu mungkin yang pertama kali bikin investor berhenti dan baca dua kali.
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) resmi menetapkan dividen tunai sebesar Rp56,62 per saham untuk tahun buku 2025. Keputusan itu diketok di RUPS Tahunan pada 6 Mei 2026, dan dua hari kemudian keterbukaan informasi resminya muncul di BEI.
Total dividen yang bakal dikucurkan mencapai Rp850,18 miliar, diambil dari laba bersih 2025 sebesar Rp1,55 triliun. Payout ratio-nya? Sekitar 55%. Separuh lebih dari keuntungan dikembalikan ke pemegang saham. Bukan angka yang pelit.
Dengan harga penutupan di level Rp605 pada 8 Mei 2026, estimasi yield-nya tembus 9,36%. Sebagai pembanding, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun saat ini bergerak di kisaran 6-7%. Selisihnya lumayan buat investor yang sedang berburu pendapatan pasif.
Masif? Relatif. Tapi untuk ukuran bank daerah, angka ini tidak main-main.
Di hari yang sama, saham BJTM ditutup menguat 1,68% ke Rp605, dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp8,99 triliun. P/E ratio tercatat di 5,88x, level yang agaknya mencerminkan ekspektasi pasar yang masih moderat terhadap emiten segmen ini.
Dari sisi permodalan, BJTM membukukan total ekuitas Rp12,95 triliun per akhir 2025. Saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya tercatat Rp695,51 miliar. Ruang untuk membayar dividen sebesar ini memang ada. Pertanyaannya, berapa lama payout ratio 55% bisa dipertahankan, kalau tekanan kredit bermasalah meningkat, kalkulasinya bisa berubah.
Soal jadwal, ada beberapa tanggal yang wajib dicermati. Cum dividen untuk pasar reguler dan negosiasi jatuh 18 Mei 2026, beli setelah tanggal itu, hak dividennya hangus. Recording date ditetapkan 20 Mei 2026, dan dana baru cair ke rekening investor pada 5 Juni 2026.
Yield di atas 9% dari emiten perbankan, jujur saja, bukan pemandangan rutin di layar trading. Tapi harga saham bisa bergerak liar sebelum dan sesudah cum date. Yield aktual yang dikantongi investor sangat bergantung pada harga beli masing-masing. Yang sudah nyangkut di harga lebih tinggi, beda cerita.