MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  BI-Rate 5,25% dan Pertaruhan Kepercayaan Pasar di...

Ekonomi

BI-Rate 5,25% dan Pertaruhan Kepercayaan Pasar di Tengah Gejolak Global

Kenaikan BI-Rate 50 basis poin menjadi 5,25% bukan sekadar respons teknis terhadap pelemahan rupiah, melainkan pesan keras ke investor global bahwa Indonesia tidak mau kehilangan kredibilitas di tengah gelombang risk-off yang sedang menyapu emerging markets.

BI Dinilai Terlambat, Ekspektasi Suku Bunga Acuan BI-Rate Naik Lagi Malah Mencuat

Dua hari setelah Bank Indonesia mengumumkan kenaikan BI-Rate 50 basis poin, rupiah sudah kembali tertekan. Napas sesaat itu, seperti biasa, tidak cukup panjang.

Keputusan Rapat Dewan Gubernur 19-20 Mei 2026 resmi mematok BI-Rate di level 5,25%, suku bunga Deposit Facility di 4,25%, dan Lending Facility di 6%. Langkah agresif, tidak ada yang memungkiri. Tapi pasar punya cara sendiri untuk memberi penilaian, dan dalam dua sesi perdagangan setelahnya, rupiah membuktikan bahwa satu keputusan moneter tidak cukup untuk mengunci kepercayaan.

Tekanan terhadap rupiah datang dari banyak sudut sekaligus: harga minyak dunia yang melonjak memberi beban ganda pada fiskal dan inflasi impor, dolar AS yang kembali perkasa seiring ekspektasi suku bunga The Fed yang masih tinggi lebih lama, plus arus modal asing yang terus bergerak defensif menjauhi emerging markets. Belum lagi sentimen domestik yang belum sepenuhnya pulih.

Flight to quality sedang berlangsung di skala global. Investor cabut dari aset berisiko di negara berkembang, berbondong-bondong masuk ke US Treasury dan instrumen aman lainnya. Indeks dolar (DXY) menguat, yield US Treasury terus merangkak naik. Dalam situasi seperti ini, selisih imbal hasil antara aset Indonesia dan aset AS menyempit, dan itulah yang membuat emerging markets seperti Indonesia rentan kehilangan daya tarik.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyoroti betapa rumitnya lanskap yang harus dihadapi saat ini. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia sudah dipangkas dari 3,4 persen menjadi 3 persen tahun ini. Eropa dan Jepang melambat. Tiongkok dan India pun tak sekencang dulu. "Gejolak global membuat ekonomi dunia turun dan itu menjadi tantangan kita mendorong pertumbuhan ekonomi," katanya dalam sebuah seminar di Jakarta, Selasa (26/5/2026). Tanpa ketahanan nasional yang solid, tegasnya, pertumbuhan dan kesejahteraan tidak akan bisa dikejar.

Di sini letak dilema klasik bank sentral negara berkembang: mengejar pertumbuhan atau menjaga stabilitas? Bagi BI, agaknya jawabannya sudah jelas. Kenaikan BI-Rate ke 5,25% harus dibaca sebagai upaya mempertahankan spread imbal hasil aset domestik agar investor asing tidak makin agresif menarik dananya keluar. Bukan kepanikan. Kalkulasi.

Angkanya, setidaknya untuk saat ini, masih menopang keyakinan itu. Nonresiden masih tercatat net buy di pasar keuangan domestik. Cadangan devisa bertahan di US$148,2 miliar, setara enam bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional. Inflasi masih dalam sasaran 2,5±1 persen. NPL perbankan tetap rendah. Kenaikan suku bunga ini, dengan kata lain, dilakukan bukan karena krisis, tapi untuk mencegahnya.

BI pun tidak cuma mengandalkan satu senjata. Bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dijalankan bersamaan. Likuiditas domestik tetap dijaga longgar lewat insentif makroprudensial. QRIS dan BI-Fast terus diperkuat. Investor zaman sekarang tidak cukup dibujuk dengan angka suku bunga, mereka menilai kualitas institusi dan arah kebijakan jangka panjang.

Tapi ada satu pertanyaan yang terus menggantung: apakah semua ini cukup?

Selama The Fed belum betul-betul melunak dan konflik geopolitik di Timur Tengah belum mereda, tekanan terhadap emerging markets tidak akan hilang begitu saja. Ekspektasi bahwa BI-Rate masih bisa naik lagi sudah mulai muncul di kalangan pelaku pasar, sebuah sinyal bahwa kepercayaan belum sepenuhnya terbeli. Rupiah yang kembali tertekan dua hari pascakenaikan itu, bisa jadi, adalah cara pasar bilang bahwa mereka menginginkan lebih dari sekadar satu langkah.