SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BEI Genjot Kualitas IPO, Bukan Sekadar Kejar Kuant...

Bisnis

BEI Genjot Kualitas IPO, Bukan Sekadar Kejar Kuantitas

Bursa Efek Indonesia memperkuat strategi pre dan post-IPO sekaligus membangun konektivitas dengan bursa regional, di tengah pipeline emiten yang mengantre panjang namun realisasi semester I-2026 masih tertinggal.

BEI Beberkan Strategi Tarik Lebih Banyak Perusahaan IPO dan Investor ke Bursa

Antrean panjang, realisasi masih tertinggal. Itulah potret pasar IPO Indonesia di paruh pertama 2026, dan Bursa Efek Indonesia (BEI) agaknya sudah tahu persis masalahnya bukan sekadar soal kuantitas.

Semester I-2026 menutup periode dengan pencatatan emiten baru yang relatif seret jika dibandingkan besarnya pipeline perusahaan yang siap melantai. Tapi alih-alih panik mengejar angka, BEI justru memilih memperkuat fondasinya: dari regulasi, pendampingan calon emiten, ekosistem pre-IPO, hingga konektivitas dengan bursa regional.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menegaskan bahwa bursa tidak akan mengorbankan kualitas demi mengejar kuantitas pencatatan. "BEI akan selalu memperhatikan relevansi antara persyaratan pencatatan dengan kondisi perkembangan terkini untuk memastikan perusahaan tercatat memiliki kualitas yang baik," ujar Irvan, Jumat (10/7/2026). Pernyataan yang terdengar standar, tapi konteksnya penting: ini disampaikan justru saat tekanan untuk menambah jumlah IPO sedang tinggi.

Strategi BEI mencakup spektrum yang cukup lebar. Di sisi hulu, bursa aktif menggelar go public seminar, workshop, coaching clinic, masterclass, sampai one-on-one meeting dengan calon emiten. Ada juga laman Go Public yang bisa diakses pelaku usaha sebagai referensi pendanaan pasar modal. Bukan program baru, tapi intensitasnya yang diklaim ditingkatkan.

Yang lebih layak dicermati justru agenda reformasi struktural. Kebijakan peningkatan porsi free float dan transparansi ultimate beneficial ownership (UBO) yang diusung OJK dan BEI mendapat respons yang, menurut Irvan, umumnya positif dari pelaku pasar. Keterbukaan kepemilikan dipandang memperkuat tata kelola sekaligus mendongkrak kredibilitas di mata investor institusi, terutama yang asing. Memang ada yang mengernyitkan dahi soal beban administratif tambahan, tapi BEI berdalih setiap perubahan kebijakan dirancang dengan masa transisi yang memadai dan ruang konsultasi publik.

"Pada prinsipnya, reformasi ini tidak dimaksudkan untuk menambah beban administratif bagi calon emiten, melainkan untuk memperkuat kualitas pasar modal Indonesia," tegas Irvan. Klaim yang masih perlu dibuktikan dalam implementasi, tapi arahnya setidaknya sudah benar.

Di sisi post-IPO, BEI mendorong value creation jangka panjang melalui penguatan praktik investor relations dan tata kelola perusahaan tercatat. Logikanya sederhana: emiten yang performanya bagus pasca-IPO akan menarik lebih banyak perusahaan lain untuk ikut melantai. Efek domino yang, kalau berhasil, bisa mengubah dinamika pasar secara organik.

Front eksternal tak kalah bergerak. Setelah meneken MoU dengan Singapore Exchange (SGX) Group pada 2024, BEI meluncurkan Unsponsored Depositary Receipts Linkage untuk memperluas basis investor global dan menaikkan visibilitas emiten Indonesia di luar negeri. Kerja sama dengan Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX) juga berjalan, dengan target memperkuat konektivitas dan memperluas peluang investasi lintas pasar. Dua front sekaligus. Ambisius, tapi bukan tanpa risiko tersebar.

Satu ambisi besar menggerakkan semua ini: menjadikan pasar modal Indonesia sebagai destinasi IPO utama di kawasan, bukan sekadar pilihan alternatif. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum tekanan kuantitas kembali menang? Untuk investor ritel yang mau pilah-pilih saham IPO, ekosistem yang sedang dibangun BEI ini justru yang lebih krusial dari sekadar harga penawaran perdana. Pasar yang lebih transparan dan likuid, bisa jadi, yang membuat cuan lebih awet.