MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Aplikasi 'Merpati Digital' Laris, Gen Z Pilih Chat...

Bisnis

Aplikasi 'Merpati Digital' Laris, Gen Z Pilih Chat yang Sengaja Lambat

Carrier Pidge dan Roost, dua aplikasi perpesanan yang sengaja dibuat lambat, meledak di kalangan Gen Z yang jenuh dengan tuntutan respons instan WhatsApp dan Telegram.

Gen Z Mulai Tinggalkan WhatsApp-Telegram, Chat Pakai Cara Baru

Carrier Pidge dan Roost bukan aplikasi yang menjanjikan kecepatan. Justru sebaliknya, keduanya menjual kelambatan sebagai fitur utama, dan rupanya itu yang sedang dicari jutaan anak muda saat ini.

Konsepnya sederhana: pesan tidak dikirim instan, melainkan melalui animasi burung atau hewan yang menempuh perjalanan dari pengirim ke penerima. Kecepatan pengiriman mengikuti kecepatan hewan yang dipilih. Di Carrier Pidge, batas maksimal adalah 177 kilometer per jam, angka yang diambil pengembangnya dari catatan seekor burung balap bernama Bolt. Artinya, satu pesan bisa memakan waktu berjam-jam sebelum tiba. Noah Iarrobino, 29 tahun, yang membangun Carrier Pidge hanya dalam tiga minggu, bahkan dengan terang-terangan menyebut aplikasinya "tidak berguna" dan "tidak praktis".

Tapi justru di situ letak daya tariknya.

Iarrobino mengaku terinspirasi dari kegelisahan yang ia amati. "Saya mungkin terinspirasi oleh tren yang sedang terjadi di dunia teknologi, orang-orang ingin menjauh dari ponsel mereka dan pergi ke luar," katanya. Ide merpati pos ia nilai lucu, dan "akan lebih lucu lagi jika beberapa di antaranya tidak berhasil kembali", alasan itulah yang mendorong ia menambahkan fitur di mana burung sesekali bisa tersesat atau mati dalam perjalanan, dengan probabilitas 0,2 persen. Kalau burung mati, pengguna harus membeli yang baru seharga 99 sen dolar AS, sekitar Rp17.000. Pesan pertama yang ia kirim lewat Carrier Pidge adalah gambar Danny DeVito dari serial It's Always Sunny in Philadelphia, ditujukan ke seorang teman di Chicago. Waktu tempuh: 8 jam 49 menit.

Aplikasi serupa, Roost, melangkah lebih jauh. Dirancang oleh Logan Mendelsohn, 31 tahun, Roost menawarkan lebih dari 1.000 pilihan hewan beserta kecepatan masing-masing: siput Italia putih merangkak sedikit di atas 1,6 km per jam, burung hantu lumbung terbang sekitar 31 km per jam. "Fokus saya adalah condong pada gerakan slow-tech, masuk ke area yang membantu orang-orang di seluruh dunia untuk terhubung," ujar Mendelsohn. Roost dilaporkan menembus 650.000 unduhan bulan ini, angka yang cukup besar sampai Mendelsohn berencana merekrut karyawan baru. Carrier Pidge sendiri membukukan lebih dari 75.000 pengguna aktif per Agustus, melonjak dari hanya beberapa ratus pengguna saat pertama diluncurkan April lalu.

Meski penggemar Roost sempat menuduh Carrier Pidge menjiplak konsep di kolom komentar daring, baik Mendelsohn maupun Iarrobino membantah saling mencuri ide. Keduanya bahkan sudah berdiskusi langsung soal aplikasi masing-masing.

Ada kegelisahan yang lebih dalam di balik fenomena ini, bukan sekadar tren teknologi aneh. Survei The Harris Poll pada 2023 mencatat 80 persen Gen Z khawatir generasinya terlalu bergantung pada teknologi, dan 58 persen menilai teknologi baru lebih berpotensi memecah belah ketimbang menyatukan. Cal Newport, profesor ilmu komputer di Universitas Georgetown sekaligus penulis buku Deep Work, menilai kelelahan digital ini wajar. "Banyak alat digital yang menyita perhatian kita saat ini dibangun berdasarkan gagasan bahwa hambatan itu buruk," terang Newport. "Otak manusia tidak dapat berfungsi dengan baik di dunia yang bebas hambatan. Terlalu banyak informasi yang datang kepada kita dengan terlalu cepat akan membebani kemampuan kita untuk mengalihkan perhatian kita." Dengan memperkenalkan kembali hambatan itu, pesan yang akhirnya tiba justru mendapat perhatian yang lebih penuh, setidaknya begitu penilaian Newport.

Bagi pasar komunikasi digital, tren ini agaknya layak dicermati. WhatsApp dan Telegram tidak akan kemana-mana dalam waktu dekat, basis penggunanya terlalu besar untuk digoyang dua aplikasi niche. Tapi kemunculan Carrier Pidge dan Roost memperlihatkan celah yang selama ini diabaikan raksasa-raksasa itu: ada segmen pengguna yang bukan mencari efisiensi, melainkan mencari makna. Dan segmen itu, ternyata, rela antri berjam-jam demi sebuah pesan.