Kontrak batu bara Newcastle Juni 2026 anjlok US$1,95 ke level US$137,45 per ton pada perdagangan Rabu pekan lalu. Kontrak Juli amblas US$1,75 menjadi US$140,15 per ton. Hanya kontrak Mei yang selamat, naik tipis US$0,05 ke US$132,45 per ton, angka yang lebih mencerminkan posisi tutup kontrak ketimbang sinyal pemulihan.
Rotterdam tak berbeda cerita. Kontrak Juli ambruk US$2 ke US$122,9 per ton, sementara kontrak Juni terpangkas US$1,15 ke US$121,95 per ton. Pasar sedang melepas premi risiko yang sempat mereka pasang selama berbulan-bulan.
Pemicunya cukup jelas. Kapal-kapal tanker LNG dari Uni Emirat Arab dilaporkan mulai kembali melintasi jalur Teluk Persia, menandai meredanya ketegangan distribusi energi yang sempat bikin pasar tegang sejak konflik Iran memanas. Ketika pasokan gas kembali lancar, kebutuhan beralih ke batu bara sebagai alternatif pembangkit listrik pun berkurang. Harga LNG Asia turun, dan batu bara ikut terseret.
Meski begitu, harga tidak runtuh. Sepanjang tahun ini, batu bara masih mencatat kenaikan sekitar 22%, warisan lonjakan permintaan dari utilitas Jepang dan Korea Selatan yang membesarkan konsumsi batu bara ketika pasokan gas terganggu. Korea Selatan mencatat kenaikan impor batu bara termal April sebesar 40% menjadi 5,7 juta ton. Jepang naik 2,5% ke 7,9 juta ton. Kontrak Newcastle sempat menyentuh US$146 per ton di Maret sebelum mulai melandai.
Dari sisi fundamental, ada satu data dari China yang patut dicermati. Produksi batu bara China pada April 2026 tercatat 385,63 juta ton, turun sekitar 1 persen secara tahunan dan jauh di bawah rekor Maret yang menyentuh 440,62 juta ton. Lebih menarik lagi, impor batu bara China anjlok 14 persen ke 33,1 juta ton, padahal produksi listrik termal berbasis batu bara justru naik 3,1 persen di periode yang sama. Kumulatif Januari-April, total impor hanya 149,4 juta ton, melemah 2,1 persen tahunan.
Bacaan kasarnya begini: permintaan energi domestik China belum surut, tapi Beijing agaknya sedang mengandalkan cadangan dalam negeri alih-alih impor. Strategi yang, kalau gagal menopang kebutuhan listrik dan industri, berpotensi mendorong China kembali membuka keran impor dalam waktu dekat. Bagi eksportir Indonesia, skenario itu bisa jadi katalis. China menyerap sekitar 21 persen total ekspor batu bara Indonesia sepanjang 2025, setara 81,73 juta ton. Untuk segmen termal, pangsa China bahkan menyentuh 42 persen.
Tapi ada variabel baru yang membuat pelaku pasar global menghitung ulang posisi mereka: kebijakan ekspor satu pintu.
Pemerintah Indonesia memutuskan seluruh ekspor batu bara disalurkan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Tujuannya memperketat devisa hasil ekspor sekaligus menutup celah praktik under invoicing komoditas. CEO Danantara Rosan Roeslani memastikan kontrak lama tetap dihormati, meski pemerintah membuka ruang evaluasi bila ditemukan harga jual di bawah harga pasar internasional. Pernyataan itu langsung membuat trader global mulai menghitung ulang risiko kontrak jangka panjang dengan eksportir Indonesia.
Indonesia memasok hampir separuh perdagangan batu bara termal dunia. Perubahan kecil di sisi ekspor sudah cukup menggerakkan sentimen pasar Asia.
Di lapangan, kekhawatiran lebih konkret. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono menyebut sistem pengekspor tunggal berisiko memperpanjang birokrasi dan memperlambat proses pengapalan. "Pelaku usaha khawatir birokrasi menjadi lebih panjang yang berpotensi menyebabkan kelambatan dalam proses pengapalan atau clearance dan penerimaan pembayaran," kata Sudirman.
Dia menegaskan kepastian waktu pencairan dana menjadi kebutuhan mendasar penambang. Arus kas yang tersendat, apalagi dalam skema baru yang mekanismenya belum sepenuhnya jelas, bisa jadi beban nyata di level operasional.
Bagi emiten seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), hingga PT Harum Energy Tbk (HRUM), pertanyaannya kini bukan sekadar soal harga komoditas global. Mekanisme kontrak, sistem pembayaran lewat DSI, dan kepastian regulasi teknis masuk sebagai variabel tambahan yang harus diperhitungkan dalam kalkulasi prospek bisnis. Harga Newcastle memang sudah jauh di atas level US$100-an yang sempat jadi lantai beberapa bulan lalu. Tapi dari euforia supercycle 2022, ketika harga menembus US$400 per ton, masih jauh sekali. Kenaikan permintaan dari China, kalau pun terjadi, belum tentu otomatis mendongkrak laba ke level itu.