Harga batu bara kontrak Juni ditutup di US$ 135,8 per ton pada perdagangan Selasa (13/5/2026), melandai 0,44% setelah sempat melonjak 1,45% sehari sebelumnya. Volatile. Kata yang paling pas buat komoditas ini sekarang.
Tekanan utama datang dari China. Impor batu bara Negeri Tirai Bambu pada April 2026 hanya mencapai 33,08 juta ton, anjlok 12,54% dibanding April tahun lalu dan 15,3% lebih rendah ketimbang Maret. Bukan angka kecil. Penurunan ini sebetulnya sudah bisa ditebak sejak awal kuartal kedua: stok di pembangkit masih cukup, konsumsi listrik belum bergairah, para pembeli memilih wait and see memasuki periode low season.
Yang bikin pasar tidak langsung runtuh: para penjual tidak mau ditekan. Biaya produksi dan impor yang masih tinggi membuat mereka enggan memotong harga terlalu dalam. Hasilnya, pasar batu bara termal di pelabuhan-pelabuhan utama China bergerak mendatar, bak tarik tambang yang tidak ada yang menang. Bagi eksportir Indonesia, yang masih mengandalkan China sebagai pasar terbesar, kondisi ini terasa langsung di margin.
39,7%. Angka itu bukan salah ketik.
Korea Selatan membukukan lonjakan pembangkitan listrik berbasis batu bara sebesar 39,7% pada April 2026, pertumbuhan terkuat sejak 2019, sementara pembangkit gasnya tergerus 6,4%. Jepang tidak kalah: pembangkitan batu bara naik 11,1% secara tahunan pada bulan yang sama, sedangkan pembangkit gas ambles 12,9% ke level terendah dua tahun. Pemicunya satu: harga LNG spot yang sudah melesat sekitar 62% sejak konflik di Timur Tengah meluas. Kalau gas terlalu mahal, perusahaan listrik tidak punya pilihan selain balik ke batu bara.
Fuel switching dalam skala ini, agaknya, cukup untuk menopang permintaan global di saat China sedang senyap.
Katalis berikutnya yang dinantikan pasar adalah El Niño. UBS memperingatkan potensi munculnya fenomena "super El Niño" mulai pertengahan 2026, yang bisa memperketat pasar batu bara termal global. Logikanya sederhana: gelombang panas ekstrem di Asia akan memacu konsumsi pendingin udara, yang berujung pada lonjakan kebutuhan listrik. Batu bara menyumbang sekitar 70% bauran listrik India dan 55% di China, kalau data ini bisa dipercaya, kenaikan permintaan bisa cukup brutal.
Bersamaan dengan itu, perubahan pola curah hujan yang biasanya mengikuti El Niño berpotensi menekan produksi listrik tenaga air di Amerika Latin dan Afrika. Bila itu terjadi, kebutuhan substitusi dari batu bara akan semakin besar. UBS bahkan mencatat bahwa risiko ini muncul ketika sistem energi global sudah kena tampar konflik Amerika Serikat-Iran, sehingga El Niño bisa memperburuk ketatnya pasokan energi secara bersamaan.
Ada satu variabel lagi yang perlu dicermati: kuota ekspor Indonesia. UBS menyoroti kekhawatiran bahwa kebijakan pembatasan bisa menghambat pasokan, tapi hasil kunjungan industri terbaru mengindikasikan otoritas Indonesia tetap bersedia menyetujui tambahan kuota setelah harga naik, setidaknya itu sinyal yang terbaca dari lapangan. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) sendiri terus mendorong fleksibilitas dalam skema Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), agar produsen bisa lebih responsif terhadap pergerakan harga.
Batu bara sedang berada di persimpangan yang tidak mudah dibaca: ditekan kelesuan demand China, didongkrak fuel switching Jepang dan Korsel, plus ancaman El Niño yang belum tentu datang tepat waktu. Pertanyaannya, siapa yang duluan bergerak, dua hingga tiga bulan ke depan agaknya akan memberi jawaban.