Untuk pertama kalinya dalam sejarah tercatat, mayoritas bank sentral dunia secara eksplisit menyatakan niat memangkas alokasi dolar AS dalam portofolio cadangan devisa mereka selama satu dekade ke depan. Emas, sebaliknya, semakin dalam menancapkan diri sebagai aset andalan ketika lanskap moneter global bergeser.
Sinyal ini tertangkap dalam survei tahunan OMFIF (Official Monetary and Financial Institutions Forum) yang dirilis akhir Juni lalu. Survei melibatkan 90 bank sentral, dana pensiun publik, dan sovereign wealth funds dengan total kelolaan US$10 triliun. Sebanyak 79% bank sentral dan 60% lembaga dana publik kini meyakini sistem moneter global tengah bertransisi menuju tatanan multipolar. Dolar belum tergusur, tapi kepercayaan terhadapnya perlahan aus.
"Asumsi lama yang menyebut investor publik bisa menunggu sampai situasi kembali normal kini terlihat semakin tidak realistis," tulis Ekonom Senior OMFIF Yara Aziz dalam laporan tersebut, kalimat yang agaknya mencerminkan pergeseran fundamental cara pandang para pengelola cadangan devisa global.
Survei World Gold Council (WGC) yang melibatkan 79 bank sentral, jumlah terbanyak sepanjang sejarah pelaksanaan survei tersebut, merekam antusiasme yang tak kalah mencolok. Sebanyak 89% pengelola cadangan devisa memperkirakan kepemilikan emas bank sentral secara global akan terus naik dalam 12 bulan ke depan. Rekor 45% responden bahkan menyatakan institusinya berencana menambah cadangan emas, meningkat dari 43% pada survei 2025.
Emas kini digenggam oleh 82% bank sentral dunia. Laporan OMFIF menyebut komoditas ini telah "bergeser ke pusat strategi manajemen cadangan devisa." Tiga puluh persen responden berniat menambah alokasi dalam satu hingga dua tahun ke depan. Angka yang tidak main-main.
Narasi ini tidak datang dari ruang hampa. Pembekuan cadangan devisa Rusia senilai ratusan miliar dolar pada 2022 menjadi momen yang banyak analis sebut sebagai titik balik: tiba-tiba cadangan dalam bentuk klaim terhadap negara lain terasa jauh lebih rapuh dibanding logam kuning yang bisa disimpan di brankas sendiri. Ketegangan geopolitik yang terus membara, dari Timur Tengah hingga dinamika AS-China, memperkuat logika itu.
Goldman Sachs, dalam riset terbaru yang dirilis Rabu (1/7/2026), merespons dengan proyeksi yang cukup ambisius. Samantha Dart, kepala riset komoditas global Goldman, memproyeksikan harga emas bisa kembali ke kisaran US$4.900 per troy ounce pada akhir 2026, dengan peluang menyentuh US$5.400 jika momentum berlanjut. Goldman memperkirakan bank sentral global akan rata-rata membeli sekitar 60 ton emas per bulan hingga akhir tahun ini. "Emas belum selesai. Kami terus melihat potensi kenaikan lebih lanjut, didorong oleh faktor struktural dan akhirnya siklikal," ujar Dart.
Analis Société Générale (SocGen) hadir dengan nada lebih bernuansa. Mereka mengingatkan bahwa niat membeli emas belum tentu langsung berujung transaksi nyata. "Seperti halnya pengelola aset lainnya, bank sentral umumnya memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap strategi portofolio dalam jangka pendek dibandingkan dalam horizon satu tahun. Karena itu, niat pembelian lebih relevan jika dilihat dalam periode yang lebih singkat," tulis analis SocGen dalam risetnya. Meski begitu, SocGen tetap memproyeksikan pembelian sekitar 100-120 ton emas oleh bank sentral sepanjang sisa 2026, hampir dua kali lipat dari total pembelian empat bulan pertama tahun ini.
Data perdagangan Inggris turut memperkuat cerita ini. 35 ton. Itu angka ekspor emas dari Inggris pada April, melonjak dari 13 ton pada Maret, dengan 25 ton di antaranya mengalir ke China. Cadangan emas di brankas LBMA (London Bullion Market Association) pun dilaporkan menyusut, sinyal konkret bahwa permintaan fisik sedang bergerak.
Satu variabel yang masih bisa mengacaukan kalkulasi ini adalah suku bunga riil AS. SocGen memperkirakan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun masih akan bertahan di atas 2% hingga kuartal III-2026, yang berarti opportunity cost memegang emas tetap tidak murah. Baru ketika suku bunga riil mulai turun, ruang bagi kenaikan harga emas terbuka lebih lebar. Pertanyaannya, seberapa cepat itu terjadi?
Bagi investor ritel lokal, dinamika ini layak dicermati lebih dari sekadar berita makro. Rotasi struktural dari dolar ke emas di level bank sentral bukan siklus biasa yang selesai dalam beberapa kuartal, kalau data ini bisa dipercaya. Entah kebetulan atau tidak, narasi ini mencuat justru ketika IHSG sendiri sedang mencari arah dan aset berbasis komoditas mulai kembali masuk radar.