Rekor demi rekor. Itulah gambaran paling jujur dari apa yang sedang terjadi pada emas dalam strategi cadangan devisa bank sentral dunia saat ini, dan angka-angkanya cukup untuk membuat pelaku pasar berhenti sejenak.
Survei terbaru Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) yang dirilis 30 Juni 2026 mencatat temuan yang belum pernah terjadi sebelumnya: untuk pertama kalinya sejak survei strategi investasi bank sentral dimulai pada 2023, jumlah bank sentral yang berencana mengurangi eksposur terhadap dolar AS dalam satu dekade ke depan lebih banyak ketimbang yang ingin menambahnya. Survei ini melibatkan 74 bank sentral yang secara kolektif mengelola aset lebih dari US$ 10 triliun.
Faktor pendorongnya bukan semata-mata soal ekonomi. OMFIF menyebut geopolitik kini telah melampaui lingkungan politik domestik AS sebagai hambatan utama investasi dolar. Konflik di Timur Tengah yang sebagian melibatkan AS, ditambah kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang sulit diprediksi, membuat bank-bank sentral semakin ragu menumpuk aset berdenominasi dolar. "Tahun ini, geopolitik telah melampaui lingkungan politik AS dalam menghambat investasi pada dolar, mencerminkan persepsi mengenai peran Amerika Serikat dalam meningkatkan risiko geopolitik," demikian bunyi laporan OMFIF.
Tren dedollarisasi ini bukan cerita baru. Data dari JPMorgan yang dikutip OMFIF menunjukkan porsi dolar dalam cadangan devisa global sudah menyentuh level terendah dalam dua dekade pada tahun lalu. Meski begitu, Kepala Riset OMFIF Andrea Correa mengingatkan bahwa dominasi dolar belum akan tumbang dalam waktu dekat, mata uang AS masih menyumbang sekitar 58 persen dari total alokasi portofolio cadangan devisa bank sentral selama lima tahun terakhir.
Yang bergerak cepat justru emas. 82% responden survei OMFIF kini menyimpan emas fisik, naik dari 71% pada tahun sebelumnya. Secara bersih, 30% responden berencana menambah alokasi emas dalam satu hingga dua tahun mendatang. Angka yang tidak main-main. Dan yang agaknya lebih mengejutkan: minat itu tidak surut meski harga emas sudah melonjak lebih dari 20% dalam setahun terakhir.
"Emas tidak akan ke mana-mana. Meskipun nilainya terus meningkat, permintaannya tetap kuat," ujar Correa kepada Kitco News. Sebanyak 51% bank sentral menyebut perlindungan dari risiko geopolitik sebagai alasan utama menambah kepemilikan emas, naik 11 poin persentase dibanding survei 2024.
World Gold Council (WGC) menambahkan data yang memperkuat gambaran ini. Marissa Salim, Pemimpin Riset Senior APAC di WGC, mencatat bank sentral kembali agresif berbelanja emas pada Mei 2026, mencapai level tertinggi kedua sepanjang tahun ini. Salah satu yang paling aktif: Bank Rakyat Tiongkok, yang tercatat menyerap 8,1 ton emas hanya dalam satu bulan.
Dengan fondasi permintaan sekuat itu, proyeksi harga emas pun melambung. OMFIF menyebut sebagian besar bank sentral memperkirakan harga emas akan berada di kisaran US$ 5.000 hingga US$ 6.000 per troy ounce dalam 12 bulan ke depan. State Street Global Advisors memasang skenario dasar di US$ 4.750 hingga US$ 5.500 per troy ounce dalam enam hingga sembilan bulan ke depan, dengan probabilitas 70%.
HSBC merilis pandangan serupa. Kepala Investasi Global Willem Sels dan Kepala Wawasan Kekayaan Global Lucia Ku memperkirakan emas mungkin bergerak terbatas dalam jangka pendek akibat imbal hasil riil yang masih tinggi dan dolar yang menguat. Namun tren jangka menengah, kata mereka, tetap positif, ditopang permintaan diversifikasi, pembelian bank sentral, dan arus masuk ETF yang konsisten.
Data ETF sempat memberi sinyal peringatan. Sepanjang Juni, ETF emas yang terdaftar di AS mencatat penarikan dana bulanan sekitar US$ 5,3 miliar, setelah arus yang relatif seimbang pada April dan Mei. Harga spot pun tergerus 11,7% ke kisaran US$ 4.000 per troy ounce. Tapi koreksi itu tidak bertahan lama: per Jumat (3/7/2026), harga emas kembali menguat 1,38% ke US$ 4.180,85 per troy ounce.
Euro dan yuan mulai mengisi ruang yang ditinggalkan dolar. Sekitar dua pertiga responden OMFIF kini menilai euro semakin menarik untuk perdagangan internasional, melonjak dari 43% pada survei tahun sebelumnya. Direktur Jenderal Pasar Bundesbank Jerman Karsten Stroborn bahkan mencatat utang internasional berdenominasi euro mencetak rekor tertinggi sepanjang 2025. Yuan pun dinilai positif oleh hampir seluruh responden untuk tujuan diversifikasi, bersama mata uang-mata uang yang selama ini jarang disorot: dolar Singapura, won Korea, hingga rand Afrika Selatan.
Bagi investor ritel yang memegang saham tambang emas atau produk berbasis emas, momentum ini bisa jadi angin segar. Tapi dengan harga yang sudah di level US$ 4.000-an, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi apakah emas akan naik. Melainkan seberapa jauh daya beli yang tersisa, kalau bank sentral dunia sudah lebih dulu memborong habis.