MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Asing Cabut Rp73,6 Triliun: IHSG Ketinggalan Orbit...

Bisnis

Asing Cabut Rp73,6 Triliun: IHSG Ketinggalan Orbit AI Global

Booming investasi AI global mengalihkan likuiditas dari pasar berkembang seperti Indonesia. IHSG ambles dari puncak 9.174 ke 5.643 dalam enam bulan, sementara kepemilikan asing di SBN menyentuh level terendah dua dekade.

Likuiditas Global Minati AI, Bagaimana Nasib Pasar Keuangan RI?

Rp73,60 triliun. Itu nilai bersih yang ditarik investor asing dari pasar saham Indonesia sepanjang semester pertama 2026. Bukan sekadar statistik jual-beli biasa, angka itu cermin retak dari satu kenyataan: Indonesia sedang ketinggalan dari perlombaan perebutan modal global yang kini sepenuhnya berputar di orbit kecerdasan buatan.

Sepanjang tahun berjalan, S&P 500, Nasdaq, TAIEX Taiwan, hingga KOSPI Korea Selatan mencetak rekor tertinggi baru berkali-kali. Di pasar berkembang, modal asing di Korea, Taiwan, India, dan China melesat dua hingga tiga digit sejak Januari. Indonesia? Justru sebaliknya. IHSG yang sempat menyentuh puncak sepanjang masa di 9.174 pada Januari 2026 kini tergerus keras di bawah 6.000, bahkan ditutup di 5.643 pada akhir Juni dengan koreksi harian 3,05 persen.

Yang berubah bukan hanya sentimen pasar. Kriteria seleksi modal global itu sendiri sudah berganti wajah. Laporan Kiwoom Market Outlook 2026 mencatat pergeseran struktural yang tidak bisa diabaikan: investor institusional kini tidak lagi memberi bobot besar pada pertumbuhan ekonomi yang stabil, eksposur komoditas, atau bonus demografi. Kriteria baru yang mereka uji adalah kapasitas komputasi, kedalaman ekosistem teknologi, dan posisi strategis sebuah negara dalam rantai pasok AI global.

Indonesia, agaknya, tidak memenuhi sebagian besar kriteria itu.

DBS Group Research dalam outlook triwulan III-2026 menyebut dunia tengah memasuki "siklus super belanja modal baru" yang digerakkan oleh dua mesin: investasi AI dan sektor energi. Para hyperscaler terus menggenjot pengeluaran secara agresif karena permintaan komputasi global jauh melampaui pasokan yang tersedia. Gelombang inisiatif sovereign AI dari penjuru dunia, kata DBS, menambah lapisan strategis investasi teknologi global yang makin tebal dan makin sulit ditembus oleh pasar yang tidak punya posisi di rantai nilainya.

Booming ini punya sisi gelap. Pembangunan infrastruktur AI yang serentak dan masif mendorong permintaan global terhadap komponen elektronik, perangkat lunak, hingga konsumsi listrik skala industri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memperburuk kerentanan pasokan energi. China yang perlahan keluar dari zona deflasi turut menambah tekanan harga komoditas input. Kombinasi ini membuat The Fed, ECB, dan Bank of England berbalik ke arah yang lebih hawkish, dengan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan sebelum tutup tahun. Cukup untuk bikin pasar obligasi mana pun gelisah.

Kepemilikan asing atas Surat Berharga Negara sudah susut dari lebih dari 40 persen pada 2019 menjadi hanya 13-14 persen sekarang, level terendah dalam dua dekade. Klaim bahwa Indonesia menawarkan yield yang menarik sulit dipertahankan ketika dana global lebih nyaman parkir di obligasi korporasi berkualitas tinggi yang tersebar di pasar maju. Setidaknya itu yang terbaca dari arah aliran modal saat ini.

Di pasar saham, situasinya paradoksal. Saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan konsumer kini diperdagangkan pada PE ratio yang secara historis tergolong sangat murah, jauh di bawah rata-rata lima tahun. Pertumbuhan ekonomi domestik masih terjaga di kisaran 5 persen. Secara teori, ini seharusnya sudah cukup untuk memancing net buy asing. Tapi teori itu batal demi hukum ketika likuiditas global punya magnet yang jauh lebih kuat. Begitulah.

Ada satu beban tambahan yang menggantung: penilaian MSCI. Bobot Indonesia di indeks MSCI telah terkikis dari sekitar 85 persen sepuluh tahun lalu menjadi hanya sekitar 0,4 persen kini, buntut dari pembekuan evaluasi dan penghapusan sejumlah saham terkait kebijakan transparansi pasar modal. MSCI menetapkan tenggat November 2026 untuk menilai dampak reformasi. Ini bukan soal angka bobot indeks semata. Ini soal apakah fund manager global yang wajib tracking MSCI punya alasan teknis untuk masuk ke Indonesia.

DBS memasang target IHSG 8.000 di akhir 2026. Kiwoom lebih konservatif, di kisaran 7.250-7.700. Dua angka itu sama-sama mensyaratkan pemulihan yang tidak kecil dari posisi sekarang, dan keduanya bergantung pada katalis yang belum tentu datang sesuai jadwal. Pertanyaannya, berapa lama pasar mau menunggu?

Narasi komoditas dan populasi yang selama ini menjadi andalan pitch Indonesia ke investor asing kini terasa usang, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin arah modal jangka panjang. Pertanyaan yang lebih relevan untuk paruh kedua 2026 adalah: apa yang bisa Indonesia tawarkan kepada dunia yang sedang membangun infrastruktur AI? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah capital inflow kembali, atau kita hanya menonton dari pinggir lapangan.