MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Asia Masih Menarik, tapi Pilih-Pilih: Semikondukto...

Finansial

Asia Masih Menarik, tapi Pilih-Pilih: Semikonduktor dan AI Tetap Jadi Andalan

Di tengah meredanya tensi geopolitik global, pasar saham Asia dinilai masih punya daya tarik struktural, terutama emiten yang terhubung dengan rantai pasok AI. Indonesia sendiri menyimpan potensi, tapi butuh katalis lebih lanjut.

Pasar Saham Asia masih Menarik, Emiten AI Lebih Diuntungkan

Futures Wall Street bergerak stabil dalam beberapa sesi terakhir, ditopang perburuan saham teknologi seiring perkembangan diplomasi Iran yang mulai meredam ketegangan di Selat Hormuz. Sinyal deeskalasi itu agaknya cukup untuk memberi napas bagi pasar. Asia yang selama ini paling rentan terhadap fluktuasi harga energi dari kawasan tersebut pun mulai bernapas lebih lega.

Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia Freddy Tedja menyebut Asia sebagai salah satu kawasan yang paling diuntungkan dari meredanya tensi geopolitik ini. Logikanya sederhana: negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi lewat Selat Hormuz mendapat kelonggaran dari risiko kenaikan inflasi, tekanan suku bunga, dan membengkaknya defisit fiskal akibat tagihan energi yang mahal.

Bukan cuma soal energi. Dari sisi sektoral, Freddy mengarahkan perhatian ke tema yang sudah lama beredar di kalangan analis: rantai pasok teknologi dan AI. Negara-negara Asia yang masuk dalam ekosistem ini, mulai dari produsen semikonduktor, penyedia data center, hingga pemain cloud dan cybersecurity, dinilai masih punya runway panjang seiring siklus AI yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

"Dampaknya tidak berhenti di perusahaan pembuat chip saja," ungkap Freddy. Ekosistem AI sudah melebar ke banyak sektor, dan investor yang hanya menatap nama-nama besar di segmen fabrikasi chip bisa jadi melewatkan peluang di lapisan bawahnya.

Narasi tech bubble pun makin sering terdengar, bak bayangan yang mengikuti reli teknologi ini ke mana pun ia melangkah. Freddy tidak menampiknya. Ia justru menegaskan bahwa pemilihan pasar serta pengelolaan portofolio secara aktif menjadi krusial saat euforia semacam ini memuncak. "Seiring kenaikan kinerja sektor teknologi yang akan sejalan juga dengan meningkatnya pandangan skeptis dan narasi tech bubble," kata dia. Peringatan yang relevan, kalau data ini bisa dipercaya.

Bagaimana posisi Indonesia? Ceritanya sedikit berbeda. IHSG diwarnai sejumlah reformasi regulasi sejak awal tahun, Bank Indonesia aktif menopang rupiah, dan dari sisi valuasi, angkanya memang menggiurkan. Forward P/E MSCI Indonesia per akhir Juni tercatat di 8,7 kali, jauh di bawah rata-rata lima tahun terakhirnya yang menyentuh 13,2 kali. Murah sekali, kalau mau dibilang begitu.

Tapi Freddy mengingatkan bahwa valuasi murah bukan serta-merta tiket masuk. "Valuasi murah juga dapat mencerminkan pandangan pasar yang belum memiliki keyakinan terhadap outlook jangka pendek," katanya. Dua kondisi yang terlihat sama dari luar, tapi sangat berbeda implikasinya bagi investor. Pertanyaannya, mana yang sedang terjadi sekarang?

Dua kunci yang ia tawarkan buat investor lokal: seleksi dan disiplin alokasi. Tidak semua saham murah layak diakumulasi, dan membangun posisi sembarangan di tengah volatilitas tinggi ibarat menangkap pisau jatuh tanpa melihat gagangnya. Untuk obligasi, naiknya imbal hasil memberi peluang, terutama jika stabilitas rupiah terjaga beberapa bulan mendatang.

Katalis yang lebih konkret masih dinantikan pasar. Kebijakan ekonomi yang jelas dan tidak bolak-balik, sinyal pemulihan konsumsi domestik, serta pembenahan pasar modal yang sudah lama jadi sorotan lembaga indeks internasional. Serangkaian rekalibrasi kebijakan yang diumumkan pemerintah sejak Juni, kata Freddy, diharapkan bisa diterima investor secara positif. Harapan yang masuk akal. Pasar, seperti biasa, lebih percaya pada bukti daripada pengumuman.