KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  AADI Tebar Dividen USD450 Juta, Sekaligus Siapkan...

Bisnis

AADI Tebar Dividen USD450 Juta, Sekaligus Siapkan Buy Back Rp5 T

Di tengah koreksi laba bersih 36 persen, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk tetap menggelontorkan dividen total USD450 juta untuk tahun buku 2025, plus menyetujui buy back saham senilai maksimal Rp5 triliun.

AADI Bukukan Saldo Laba USD758 Juta di RUPST Jakarta

Laba turun lebih dari sepertiga, tapi AADI tidak pelit dividen. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) resmi mengetok pembagian dividen total USD450 juta atau sekitar Rp7,9 triliun untuk tahun buku 2025, setelah pemegang saham memberikan restu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Gedung Cyber 2, Kuningan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Angka itu setara rasio pembayaran 59 persen dari laba bersih perseroan yang tercatat USD760 juta sepanjang 2025. Laba itu sendiri sudah terkoreksi 36 persen secara tahunan, tertekan penyusutan pendapatan usaha sebesar 7,7 persen menjadi USD4,91 miliar. Bukan kondisi ideal, tapi manajemen afiliasi Garibaldi "Boy" Thohir ini agaknya memilih menjaga kepercayaan investor ketimbang menahan kas.

Mekanisme pembayaran dibagi dua. Dividen interim USD250 juta sudah lebih dulu dicairkan pada November 2025, setara Rp538 per saham. Sisanya, USD200 juta, akan dibagikan sebagai dividen final senilai USD0,026 per saham atau sekitar Rp453 per saham, dihitung pada kurs Rp17.654 per dolar. Jadwal cum dividen dan tanggal pembayaran final masih akan diumumkan. Stockbit Sekuritas mencatat dividen final ini merepresentasikan imbal hasil 5,6 persen berdasarkan harga intraday Jumat di Rp8.100.

Saldo laba yang belum dicadangkan justru melonjak hampir dua kali lipat, dari USD394,8 juta di akhir 2024 menjadi USD758,5 juta per akhir 2025. Dari total laba bersih tahun buku, sebesar USD300,2 juta dibukukan sebagai saldo laba perseroan guna memperkuat struktur permodalan internal.

Yang bikin RUPST kali ini lebih ramai dari biasanya: pemegang saham juga menyetujui rencana pembelian kembali saham beranggaran maksimal Rp5 triliun. Direktur Utama AADI Julius Aslan menegaskan, buy back tidak akan dilakukan sekaligus, melainkan bertahap selama 12 bulan, disesuaikan dengan kondisi pasar dan pergerakan harga saham. "Kalau harga saham turun, sementara fundamental perusahaan bagus, ya kita beli. Supaya menaikkan kepercayaan investor," ujar Julius.

Jumlah saham yang dapat dibeli kembali dibatasi tidak lebih dari 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor, sesuai POJK 29. Julius menambahkan, buy back berpotensi mendongkrak nilai dividen per saham karena jumlah saham beredar yang menyusut otomatis memperbesar porsi per lembar. "Kalau buy back dilakukan, jumlah saham menjadi lebih kecil. Jika dividen dibagikan, nilai per sahamnya bisa menjadi lebih tinggi," katanya. Langkah ini juga diambil dalam konteks regulasi yang sedang bergerak: BEI dan OJK mulai mengerek standar free float secara bertahap menuju 12,5 persen pada 2027 dan 15 persen pada 2028 untuk emiten besar tertentu.

Di lantai bursa, saham AADI melesat 5,79 persen ke Rp8.225 pada sesi perdagangan Jumat. Kenaikan itu memang layak disambut, tapi perlu diletakkan dalam perspektif lebih lebar. Dalam sepekan terakhir saham ini masih terpangkas 10,3 persen, meski secara year-to-date sudah menguat 17,9 persen.

Rekomendasi analis pun terbelah. KB Valbury Sekuritas memilih trading buy dengan entry price Rp7.925 hingga Rp8.225, target harian di Rp8.425, dan stop loss di Rp7.425. MNC Sekuritas lebih ambisius, mempertahankan rekomendasi beli jangka panjang dengan target Rp13.750 berbasis estimasi PE 6,6 kali dan PBV 1,4 kali untuk 2026. Sekuritas yang sama, entah kebetulan atau tidak, juga mencatat realisasi laba bersih kuartal pertama AADI baru menyentuh 15 persen dari target setahun penuh, di bawah estimasi mereka maupun konsensus. Angka yang patut dicermati.

Sisi operasional diperkirakan mulai pulih di kuartal II-2026 seiring meredanya dampak El Nino. Volume produksi ditargetkan 68,6 juta ton tahun ini. Meski volume penjualan diproyeksikan sedikit turun ke 71,8 juta ton, kenaikan harga jual rata-rata gabungan diharapkan bisa menopang margin. Klaim yang masih perlu dibuktikan, terutama bila harga batu bara global kembali bergejolak.