SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  SSIA Diobral di Harga Diskon 51%, RHB Pasang Targe...

Bisnis

SSIA Diobral di Harga Diskon 51%, RHB Pasang Target Rp2.200

Kuartal I-2026 menjadi momentum bagi PT Surya Semesta Internusa Tbk setelah segmen properti melonjak 202% dan hospitality kembali berdetak kencang. RHB Sekuritas menaikkan target harga ke Rp2.200, menyiratkan potensi cuan 29% dari level saat ini.

Saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) kini diperdagangkan dengan diskon 51% terhadap nilai aset bersihnya. Bagi sebagian investor, angka itu bukan alarm bahaya, justru sebaliknya.

RHB Sekuritas baru saja merevisi target harga SSIA dari Rp1.700 menjadi Rp2.200 per saham, setelah hasil kuartal I-2026 masuk dan ternyata lebih solid dari perkiraan. Dari level perdagangan saat ini, potensi penguatannya mencapai 29%. Target tersebut setara diskon RNAV 42%, berada di posisi plus satu standar deviasi dari rata-rata setahun.

Dua segmen sekaligus yang menggerakkan angka-angka itu: properti dan hospitality.

Segmen properti mencatat pertumbuhan 202% secara tahunan, membukukan pendapatan Rp495 miliar di kuartal pertama. Lonjakan ini ditopang oleh booking akuntansi lahan seluas 21 hektare senilai Rp406 miliar. Backlog penjualan lahan per akhir kuartal I tercatat Rp727 miliar, setara 46 hektare, dan sekitar 36 hektare di antaranya senilai Rp524 miliar sudah masuk pembukuan April 2026. Mesin pendapatan untuk sisa tahun ini mulai terisi.

Di segmen hospitality, pembukaan kembali Paradisus by Melia Bali pada Februari langsung menyumbang Rp42 miliar, setara 26% dari total pendapatan perhotelan kuartal I. Bukan angka kecil untuk satu properti di kuartal perdana operasinya. Kunjungan wisatawan mancanegara naik 8% menjadi 3,4 juta orang di awal tahun, dengan rata-rata pengeluaran per kunjungan US$1.345, sekitar Rp22 juta. Angin segar yang, kalau data ini bisa dipercaya, agaknya belum akan berbalik arah dalam waktu dekat.

Anak usaha konstruksi SSIA, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), memang kena tampar Lebaran di kuartal pertama. Tapi kontrak baru tetap tumbuh 30% menjadi Rp894 miliar, dengan proyek menonjol dari pabrik Pou Chen di Pekalongan dan Lampung City Mall Tahap 2. Pipeline-nya tidak mengecewakan.

Cerita terbesar SSIA bukan soal kuartal ini. Ada di Subang.

Selama bertahun-tahun, Cikarang dan Karawang menjadi pusat gravitasi ekspansi manufaktur Indonesia. Ketika tingkat hunian kawasan-kawasan itu mulai jenuh dan lahan kian langka, pergerakan industri mulai menoleh ke timur Jawa Barat. Subang, dengan Pelabuhan Patimban dan konektivitas Tol Trans Jawa, perlahan masuk radar.

Rp4,48 triliun. Itulah nilai tanah untuk pengembangan yang tercatat di neraca SSIA untuk 2.700 hektare Subang Smartpolitan. Kawasan ini dirancang sebagai ekosistem logistik dan manufaktur terintegrasi, dan tanda-tanda awal monetisasinya baru saja mulai kelihatan dari lonjakan penjualan lahan serta masuknya tenant baru di awal 2026. Bak gayung bersambut dengan pergeseran arus industri yang sudah lama dinantikan.

Manajemen menjalankan semua ini dengan disiplin modal yang cukup ketat. Beban utang berbunga dijaga di Rp2,35 triliun, rasio DER hanya 0,28 kali. Untuk ukuran konglomerat yang sedang membangun kawasan industri baru dari nol, angka itu konservatif, setidaknya itu yang terbaca dari laporan keuangan terakhir.

RHB merevisi naik proyeksi laba SSIA 2026 sebesar 4%, dengan asumsi ARR segmen hospitality yang lebih tinggi dan kontribusi penjualan lahan April yang akan mengalir ke laporan kuartal-kuartal berikutnya.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah Subang Smartpolitan akan benar-benar jadi mesin pertumbuhan berikutnya, atau masih babak awal dari siklus panjang yang hasilnya baru terasa lima tahun lagi? Pasar mulai membaca arahnya. Kesimpulan akhir belum ada.