Sepanjang April 2026, saat banyak negara berkembang sibuk mengamankan likuiditas, Indonesia justru mencatat arus masuk bersih di pasar Surat Berharga Negara sebesar Rp13,4 triliun. Angka yang tidak main-main, terutama kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin kepercayaan investor jangka menengah, bukan sekadar efek momentum.
SUN tercatat oversubscribed 2,4 kali. SBSN lebih tinggi lagi: 2,8 kali. Dalam kondisi ketidakpastian global yang masih membayangi, kelebihan permintaan sebesar itu menunjukkan investor tidak sedang lari dari Indonesia.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memaparkan, strategi pembiayaan 2026 bertumpu pada tiga prinsip yang ia sebut sederhana tapi disiplin: 70 hingga 75 persen utang dalam rupiah, 25 hingga 30 persen dalam valuta asing, dan active liability management. "Strategi pembiayaan 2026 kami memiliki tiga prinsip. Pertama, kami memprioritaskan utang domestik hingga 70 persen dalam rupiah. Kedua, campuran mata uang yang cermat 25 hingga 30 persen dalam mata uang asing. Ketiga, pengelolaan active liability," jelasnya dalam forum Indonesia Credit Spotlight 2026 pekan lalu.
Di pasar internasional, capaiannya tidak kalah solid. Sukuk global senilai 2 miliar dolar AS mengalami oversubscription hampir dua kali lipat. Samurai Bond senilai 172 miliar yen Jepang sudah diterbitkan. Pemerintah kini tengah menyiapkan obligasi Panda di pasar China dan obligasi Kangaroo di Australia, dua instrumen yang selama ini belum banyak dieksplorasi. Tujuannya jelas: memperluas basis investor global dan menekan ketergantungan pada dolar AS yang kursnya kerap jadi variabel liar bagi rupiah.
Rp420 triliun. Itulah Saldo Anggaran Lebih, setara sekitar 26,4 miliar dolar AS, yang dikonfirmasi pemerintah per akhir April 2026. Dana ini tidak menumpuk di satu tempat: Rp300 triliun ditempatkan di Himpunan Bank Milik Negara, Rp120 triliun di Bank Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons spekulasi yang beredar di pasar dengan menegaskan dana cadangan itu intak. "The media misunderstood the situation. The SAL is intact; nothing has been eroded," katanya. Ia juga mengingatkan bahwa posisi kas negara bersifat dinamis. "APBN funds are not static. With incoming revenue and outgoing expenditures, the position will continue to move," tambah Purbaya.
Skenario stres pun sudah dihitung. Kalau harga minyak mentah dunia tembus 100 dolar AS per barel, defisit anggaran masih bisa dijaga di kisaran 2,9 persen dari PDB, setidaknya itu klaim Kemenkeu. Pembayaran bunga utang dibatasi di bawah Rp599,44 triliun untuk mengantisipasi pergeseran suku bunga global. Pemerintah juga memangkas anggaran kementerian Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun, termasuk penyesuaian dana program Makan Bergizi Gratis sebesar Rp50 triliun.
Di level kawasan, posisi Indonesia agaknya relatif nyaman. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut Indonesia sebagai "good bargain" di ASEAN, frasa yang terdengar sederhana tapi maknanya lumayan substantif. Defisit 2,9 persen di akhir 2025 dan target 2,68 persen tahun ini, dikombinasikan dengan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal pertama 2026, memang sukar ditemukan di negara tetangga. Filipina mencatat PDB tumbuh hanya 2,8 persen di kuartal I 2026, terendah dalam lima tahun terakhir, sementara defisit anggarannya mendekati 5 persen. Thailand dan Malaysia punya tekanan tersendiri.
Ini bukan berarti semua berjalan mulus. Volatilitas global belum reda, rupiah masih rentan terhadap sentimen eksternal, dan target pertumbuhan menuju 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo adalah klaim yang masih perlu dibuktikan angka per angka. Koordinasi antara Kemenkeu, Bank Indonesia, dan OJK melalui forum KSSK jadi faktor kunci. Pertanyaannya, berapa lama bantalan fiskal ini cukup kalau tekanan eksternal tidak segera mereda?
Bagi investor ritel yang memegang SBN atau sedang mempertimbangkan, data ini setidaknya memberi satu kepastian: pemerintah tidak kekurangan peluru untuk menjaga stabilitas fiskal dalam jangka pendek.