SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Korea Selatan Tarik Dubes dari Ukraina di Tengah K...

Internasional

Korea Selatan Tarik Dubes dari Ukraina di Tengah Krisis Diplomatik Berlapis

Seoul menarik pulang duta besarnya dari Kyiv di tengah sengketa tahanan perang Korea Utara dan tuduhan pengiriman bahan bakar ke Rusia, memperumit harapan Ukraina atas pasokan senjata dari Korea Selatan.

Ribut soal Tahanan Korut, Korsel Tarik Dubes dari Ukraina

Hubungan Seoul dan Kyiv sedang tidak baik-baik saja. Korea Selatan resmi menarik pulang duta besarnya dari Ukraina pada Jumat (9/10/2026), sebuah langkah yang menegaskan betapa dalamnya retakan diplomatik antara dua negara yang mestinya berada di pihak yang sama dalam konteks perang Rusia-Ukraina.

Pangkal masalahnya: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka mengungkap, bulan lalu, bahwa sejumlah tahanan perang asal Korea Utara telah dipindahkan ke Seoul. Bagi pemerintah Korea Selatan, pengungkapan itu bukan sekadar blunder protokol. Seoul menilai langkah tersebut berpotensi membahayakan keselamatan keluarga para tahanan yang masih tinggal di Korea Utara, dan itu menyentuh titik yang sangat sensitif.

"Pemerintah telah memutuskan untuk memanggil pulang Duta Besarnya untuk Ukraina," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, seperti dilansir AFP. "Pemerintah berharap seluruh masalah yang belum terselesaikan antara kedua negara dapat diselesaikan secara damai," imbuh pernyataan itu. Sebelum langkah ini diambil, Seoul sudah lebih dulu memanggil duta besar Ukraina dan memperingatkan akan ada "langkah-langkah lebih lanjut" tanpa merinci apa itu. Presiden Lee Jae Myung bahkan secara eksplisit menuntut permintaan maaf resmi dari Kyiv.

Ukraina memilih jalur deeskalasi verbal. Juru bicara Kemenlu Ukraina Georgiy Tykhy menyebut bahwa diplomasi seharusnya mengungguli emosi, dan Kyiv tetap terbuka untuk memulihkan dialog yang konstruktif, meski mengakui hal itu butuh waktu. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Andriy Sybiga sudah menyebut insiden ini sebagai "kesalahpahaman diplomatik". Framing yang, agaknya, belum cukup memuaskan Seoul.

Krisis ini makin pelik karena bersamaan dengan laporan The Guardian yang mengungkap pengiriman lebih dari 176 ribu ton bahan bakar, sebagian besar solar, dari sejumlah pelabuhan Korea Selatan ke wilayah Timur Jauh Rusia pada Juli dan Agustus lalu. Seoul kini tengah menyelidiki dugaan tersebut. Tiga dari tujuh kapal tanker yang terlibat dalam 14 pelayaran itu tercatat berada di bawah sanksi Inggris dan Uni Eropa. Satu kapal bahkan mengangkut sekitar 26 ribu ton bahan bakar lewat mekanisme transfer antarkapal di dekat Yeosu, pola klasik untuk menyamarkan tujuan akhir pengiriman.

Dua isu ini menekan Seoul dari arah yang berlawanan. Dari satu sudut, Seoul merasa dipermalukan Ukraina soal tahanan. Dari sudut lain, Seoul harus menjelaskan ke publik internasional mengapa bahan bakar dari pelabuhannya bisa berakhir di tangan Rusia yang sedang berperang. Tidak mudah.

Dalam konteks yang lebih besar, Korea Utara memang telah mengirimkan pasukan ke Rusia sejak invasi 2022, dengan imbalan keuntungan ekonomi dan transfer teknologi militer. Badan intelijen Korea Selatan memperkirakan sekitar 2.000 tentara Korea Utara tewas dalam konflik itu, sementara penilaian terbaru menyebut angka korban tewas dan luka-luka sudah mencapai sekitar 6.000 personel.

Bagi Ukraina, krisis ini datang di waktu yang paling tidak menguntungkan. Selama ini Seoul memang belum pernah memasok senjata mematikan ke Ukraina, dengan alasan larangan domestik terkait bantuan militer ke negara yang sedang berkonflik. Harapan bahwa suatu saat Korea Selatan bisa berubah sikap kini tampak semakin jauh. Bisa jadi penarikan duta besar ini bukan puncak dari ketegangan, melainkan awal dari babak yang lebih panjang.