Sepanjang perdagangan Rabu ini, rupiah menyentuh Rp17.783 per dolar AS. Level yang belum pernah tercatat sebelumnya. Bukan sekadar angka baru, eh, bukan sekadar rekor teknis: ini bagian dari tren panjang yang, kalau ditarik ke belakang 10 tahun, membentuk gambaran cukup suram. Rupiah sudah terdepresiasi hampir 29% sejak akhir 2015, ketika kurs masih bertengger di kisaran Rp13.788.
Katalis jangka pendeknya sudah dikenal luas: konflik Iran yang belum benar-benar selesai, harga minyak Brent yang kini melayang di sekitar 110 dolar AS per barel (sekitar Rp1,95 juta), dan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve bakal mulai mengetatkan kebijakan moneter sebelum tahun ini berakhir. Peluang kenaikan suku bunga Fed di Desember kini dipatok di atas 50%, berbalik total dari posisi sebelum perang Iran pecah, ketika investor justru memperkirakan dua kali pemangkasan.
Lonjakan harga energi punya dua efek yang sama-sama menyakitkan bagi negara berkembang. Inflasi impor merangkak naik. Seiring itu, imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sudah menyentuh level tertinggi sejak 2007, memicu pelarian modal dari aset berisiko. Hasilnya? Rupiah dan rupee India jadi dua mata uang yang paling babak belur hari ini.
Bicara soal rupee, agaknya nasibnya lebih berat kalau dilihat dari kacamata satu dekade. Dari INR66.153 per dolar di akhir 2015, mata uang India kini berada di INR95.347, mencerminkan pelemahan 44% yang jauh lebih dalam dari rupiah. Peso Filipina terdepresiasi sekitar 30,5% dalam periode yang sama, dari PHP47.170 ke PHP61.565. Secara relatif, rupiah bukan yang paling hancur di kawasan, tapi juga bukan yang paling tangguh.
Singapura, seperti biasa, bermain di liga berbeda. Dolar Singapura tercatat sebagai satu-satunya mata uang Asia yang bertahan relatif stabil, cermin dari fundamental fiskal dan cadangan devisa yang memang tak sebanding dengan tetangga-tetangganya.
Tekanan hari ini sebenarnya bukan cuma soal Asia. Euro tergelincir ke 1,16025 dolar, mendekati titik terendah sejak April. Poundsterling bertahan di 1,34, tidak jauh dari posisi terlemah enam minggu. Dolar Australia dan Selandia Baru, barometer klasik selera risiko global, sama-sama mendekat ke level terendah lima minggu. Indeks dolar AS sendiri bertahan di 99,306 dan sudah naik lebih dari 1% sepanjang Mei.
Yen Jepang punya dinamika tersendiri. Kini diperdagangkan di sekitar 158,93 yen per dolar, mendekati lagi level psikologis 160 yang bulan lalu memaksa pemerintah Tokyo turun tangan di pasar valuta asing. Intervensi itu sempat memperkuat yen, tapi efeknya tidak bertahan lama. Strategi mata uang OCBC Christopher Wong menyebut level 160-161 tetap jadi ambang yang perlu dicermati. "Risiko intervensi seharusnya membuat pasar lebih berhati-hati dalam mengejar kenaikan dolar terhadap yen, tetapi kecuali imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar AS secara luas melemah, tindakan resmi mungkin hanya akan memperlambat pergerakan tersebut untuk sementara waktu, bukan membalikkannya," kata Wong.
Risalah rapat Federal Reserve terakhir dijadwalkan rilis hari ini, dan pasar sudah terlanjur mengantisipasi nada hawkish. Ahli strategi Commonwealth Bank of Australia Carol Kong memperkirakan semakin banyak pejabat Fed yang mulai mengangkat risiko inflasi pasca-konflik Iran dalam risalah tersebut. "Kami terus memperkirakan FOMC akan memulai siklus pengetatan pada bulan Desember," ujar Kong. Setidaknya itu proyeksi resminya sekarang.
Untuk investor ritel yang memegang aset dengan eksposur mata uang asing, pertanyaannya bukan lagi apakah dolar akan terus menguat jangka pendek. Yang lebih relevan: seberapa dalam ruang pelemahan rupiah masih tersisa, dan adakah katalis yang cukup kuat untuk membalik arus sebelum akhir tahun? Kalau data ini bisa dipercaya, jawabannya belum terlihat.