RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Lowongan Kerja AS Tembus 7,6 Juta di Mei, Tapi Pas...

Ekonomi

Lowongan Kerja AS Tembus 7,6 Juta di Mei, Tapi Pasar Belum Benar-Benar Bergerak

Data JOLTS Mei 2026 menunjukkan pasar tenaga kerja AS naik ke level tertinggi dalam dua tahun, melampaui ekspektasi ekonom yang justru memproyeksikan penurunan tajam. Tapi di balik angka itu, ada dinamika yang lebih kompleks.

Pasar Tenaga Kerja AS Bangkit, Lowongan Kerja Tembus 7,6 Juta

Pasar tenaga kerja Amerika Serikat mematahkan prediksi ekonom di Mei 2026. Jumlah lowongan kerja naik ke hampir 7,6 juta posisi, level tertinggi dalam dua tahun terakhir, jauh di atas proyeksi konsensus yang memperkirakan penurunan ke sekitar 6,975 juta. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang dirilis Bureau of Labor Statistics pada 30 Juni itu sekaligus mematahkan narasi bahwa lonjakan April hanya anomali sesaat. Dua bulan berturut-turut angka lowongan menguat, dan pasar mulai merevisi asumsinya.

"Resesi perekrutan telah berakhir, dan kita mulai melihat lebih banyak industri kembali mencari pekerja. Itu merupakan kabar yang sangat baik," kata Heather Long, Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union.

Sektornya beragam. Rekreasi dan perhotelan, perdagangan grosir, konstruksi, hingga manufaktur tercatat menambah lowongan. Tapi tidak semua cerita berakhir manis. Layanan kesehatan, teknologi, dan keuangan justru mencatat penurunan, tertekan oleh adopsi kecerdasan buatan yang menggerus kebutuhan tenaga kerja di segmen-segmen tertentu. Long menyebutnya sebagai cerita tentang pihak yang menang dan yang kalah, beberapa sektor padat karya tampak bangkit, sementara teknologi dan keuangan masih tertekan.

Lalu ada paradoks yang tidak sederhana. Jumlah perekrutan baru justru turun untuk bulan ketiga berturut-turut, meski lowongan meningkat. Kontradiksi? Agaknya tidak, menurut Sneha Puri, ekonom dari Indeed. Pertumbuhan lapangan kerja belakangan ini lebih banyak didorong oleh berkurangnya pekerja yang keluar atau kehilangan pekerjaan, bukan dari gelombang rekrutmen baru. "Lebih sedikit orang kehilangan atau meninggalkan pekerjaannya, tetapi belum banyak tambahan orang yang memperoleh pekerjaan baru," kata Puri.

Angka-angkanya datar. Perekrutan stagnan di 5,2 juta, total separasi kerja stabil di 5,1 juta, pengunduran diri sukarela berkisar 3,1 juta, dan PHK tercatat 1,7 juta. Keseimbangan, bisa jadi, atau bisa juga stagnasi yang menunggu katalis.

Noah Yosif dari American Staffing Association mengingatkan bahwa menyusutnya jumlah penduduk usia kerja turut menekan pasokan tenaga kerja secara struktural. Jadi sebagian dari "keseimbangan" ini bukan semata permintaan yang bangkit, tapi juga pasokan yang makin tipis.

Rendahnya angka pengunduran diri sukarela punya makna lain. Karyawan yang enggan resign biasanya belum cukup yakin kondisi pasar aman untuk berpindah. Kepercayaan diri yang belum pulih sepenuhnya.

Sentimen publik pun masih terbelah. Consumer Confidence Index dari Conference Board naik tipis di Juni, ditopang harga bahan bakar yang lebih rendah. Tapi Dana Peterson, Kepala Ekonom Conference Board, mencatat bahwa persepsi masyarakat terhadap kondisi lapangan kerja justru melemah. Persentase konsumen yang menyebut pekerjaan "sulit diperoleh" naik ke 22,5 persen, tertinggi sejak Januari 2021. Peterson juga mencatat mayoritas responden memperkirakan tidak akan terjadi banyak perubahan pada pasar tenaga kerja dalam enam bulan ke depan. Angka yang patut dicermati.

172.000. Itulah lapangan kerja yang ditambahkan ekonomi AS di Mei 2026, menjadikannya bulan ketiga berturut-turut dengan tambahan di atas 100.000. Tingkat pengangguran bertahan di 4,3 persen. Laporan ketenagakerjaan Juni dijadwalkan rilis lebih awal pada Kamis, 2 Juli, karena libur Hari Kemerdekaan, dengan proyeksi tambahan sekitar 100.000 pekerjaan dan pengangguran yang diperkirakan tetap di angka yang sama.

Bagi investor dan trader yang mengikuti pasar global, data ini bersifat netral dengan tendensi positif. Dolar AS cenderung terdukung oleh stabilitas ini, sementara potensi pergerakan impulsif pada aset safe haven seperti yen atau emas relatif terbatas selama narasi tidak bergeser ke arah resesi. Pertanyaannya, berapa lama keseimbangan ini bertahan sebelum katalis berikutnya datang mengubah gambaran? Pasar tenaga kerja AS, kalau data ini bisa dipercaya, hampir selalu lebih kompleks dari sekadar satu angka headline.