Rekor baru, peringkat turun. Paradoks itulah yang kini dialami Jepang di panggung keuangan global.
Kementerian Keuangan Jepang, dalam laporan yang dirilis 25 Mei lalu, mengonfirmasi bahwa aset luar negeri bersih negara tersebut tumbuh 4,4% dibanding tahun sebelumnya menjadi 561,75 triliun yen, atau setara sekitar US$3,525 triliun. Tahun kedelapan berturut-turut pertumbuhannya. Angka yang, jujur saja, tidak kecil. Namun di saat bersamaan, posisi Jepang sebagai kreditur terbesar dunia, gelar yang sudah disandangnya selama puluhan tahun, kini resmi berpindah tangan.
China menyalip dan mengunci posisi kedua. Jerman sudah lebih dulu bertakhta di urutan pertama. Jepang? Kini ada di urutan ketiga.
Aset luar negeri bersih sendiri, bagi yang belum familiar, adalah selisih antara total aset yang dimiliki warga dan entitas suatu negara di luar perbatasannya dengan total kewajiban negara tersebut kepada pihak asing. Negara dengan angka besar di sini berarti lebih banyak menginvestasikan uangnya ke luar ketimbang berutang ke luar. Selama ini Jepang dikenal sebagai semacam "bankir dunia", menyebarkan modal ke penjuru planet lewat investasi langsung, akuisisi perusahaan asing, hingga pembelian obligasi.
Pertumbuhan aset Jepang tahun ini terutama ditopang oleh ekspansi korporasi ke luar negeri, gelombang merger dan akuisisi, serta kenaikan nilai portofolio ekuitas dan obligasi internasional. Bukan kinerja yang buruk, sama sekali tidak.
Lantas, kenapa peringkatnya justru melorot? Di sinilah konteksnya mulai menggigit. China, dengan mesin manufaktur raksasanya dan surplus perdagangan yang terus menumpuk, agaknya mampu mengakumulasi kekayaan bersih luar negeri dalam laju yang jauh lebih agresif. Strategi investasi global Beijing yang ekspansif, dari Afrika hingga Amerika Latin, turut mendongkrak posisinya. Jepang, yang sudah lama bergumul dengan stagnasi domestik dan kebijakan suku bunga nyaris nol, menghadapi batasan struktural yang tidak mudah ditembus dalam waktu dekat. Pertanyaannya, berapa lama jarak itu terus melebar?
Bagi pelaku pasar, pergeseran ini bukan sekadar statistik tahunan yang bisa dilewati begitu saja. Geser-menggeser peringkat kreditur besar biasanya membawa implikasi pada persepsi terhadap kekuatan mata uang. Yen Jepang, yang secara historis masih dihormati sebagai aset safe-haven kala pasar global bergejolak, kini dihadapkan pada pertanyaan tambahan soal daya tahan fundamental ekonominya. Klaim status safe-haven itu, kalau kondisi struktural terus memburuk, masih perlu dibuktikan relevansinya di siklus berikutnya, setidaknya itu yang mulai dipertanyakan sebagian analis.
Meningkatnya bobot China sebagai kreditur global juga bisa berdampak tidak langsung pada mata uang negara-negara berkembang yang perdagangannya sangat bergantung ke Beijing. Bila aktivitas investasi China di luar negeri terus membesar, arus modal ke negara-negara mitra dagangnya bisa ikut terkerek, bak gayung bersambut.
Ironinya memang pedas: Jepang tidak sedang melemah dalam nilai absolut, mereka bahkan mencetak rekor. Tapi dalam permainan peringkat global, cukup atau tidaknya ditentukan oleh seberapa cepat orang lain berlari. Dan China berlari lebih cepat.