RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IHSG Ambruk 5,2% Sepekan, MSCI dan FTSE Russell Ja...

Finansial

IHSG Ambruk 5,2% Sepekan, MSCI dan FTSE Russell Jadi Biang Kerok

Rebalancing MSCI yang mencoret enam saham besar dari indeks globalnya, diikuti pengumuman serupa dari FTSE Russell, memicu tekanan jual asing yang menghajar IHSG hingga amblas 5,2% dalam sepekan.

IHSG Ambruk 5,2%, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing Sepekan Terakhir

Enam saham berkapitalisasi besar dilempar keluar dari MSCI Global Standard Indexes, dan pasar bereaksi dengan cara yang paling tidak menyenangkan bagi investor domestik. IHSG kehilangan 5,2% dalam sepekan perdagangan terakhir, dengan pukulan terakhir pada Rabu (13/5/2026) saat indeks ditutup melemah 1,98% ke level 6.723,32.

Saham-saham yang dikeluarkan MSCI dari indeks globalnya adalah AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Khusus AMRT masih masuk ke MSCI Small Cap Indexes, tapi sisanya kena singkirkan penuh. Belum cukup, ada 13 saham tambahan yang terlempar dari MSCI Small Cap Indexes, termasuk ANTM, BSDE, MIKA, dan AALI. Pada hari pengumuman, koreksi saham-saham terdampak bukan sekadar turun tipis. TPIA dihajar 14,85% ke Rp 4.300, DSSA anjlok 11,16% ke Rp 1.035, BREN menyusut 11,36% ke Rp 3.200, dan CUAN terperosok 10,05% ke Rp 850. Trio saham milik Prajogo Pangestu kompak berdarah-darah dalam satu sesi.

Rabu malam, FTSE Russell menambah tekanan dengan mengumumkan penghapusan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari indeksnya, bahkan dengan mekanisme penilaian hingga nol atau price to zero. Sinyal keras. FTSE pada dasarnya bilang: kalau kepemilikan terlalu terkonsentrasi, likuiditas akan jadi masalah bagi investor global yang mengikuti indeks.

Arus keluar asing pada Rabu saja mencapai net sell Rp 1,53 triliun di seluruh pasar. Angka ini mendorong total net sell asing sejak awal tahun ke Rp 40,25 triliun. Secara sepekan asing masih membukukan net buy jumbo Rp 9,17 triliun, tapi catatan year-to-date itulah yang bikin kepala analis berdenyut.

Dari daftar net sell terbesar asing sepekan, BMRI memimpin dengan Rp 1,46 triliun. Disusul DSSA (Rp 358,91 miliar), CUAN (Rp 332,52 miliar), BRPT (Rp 277,99 miliar), dan BUMI (Rp 275,99 miliar). BBCA ikut kena jual Rp 274,02 miliar. Lalu AMMN (Rp 193,19 miliar), ANTM (Rp 180,23 miliar), BREN (Rp 139,08 miliar), hingga TPIA (Rp 137,77 miliar) melengkapi sepuluh besar. Saham-saham perbankan besar seperti BBCA dan BMRI masuk daftar ini bukan karena MSCI, melainkan karena investor asing yang memang sedang memangkas eksposur aset berisiko seiring penguatan dolar dan kenaikan yield US Treasury.

Maximilianus Nicodemus, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, menegaskan bahwa MSCI selalu jadi tolok ukur investor global dalam menentukan alokasi modal ke suatu negara. "Apabila saham-saham dari Indonesia semakin berkurang di MSCI, hal ini menjadi salah satu kerugian tersendiri bagi pelaku pasar dan investor untuk bisa menarik masuk dan berinvestasi di pasar saham Indonesia, meskipun MSCI bukan patokan mutlak," ungkapnya.

Apakah ini panik berlebihan, atau ada struktural yang perlu dibenahi? Hendra Wardana, Founder Republik Investor, menilai tekanan kali ini sebenarnya relatif terkendali karena pasar sudah mulai mengantisipasi sejak adanya sinyal pembekuan foreign inclusion factor beberapa pekan sebelumnya. Tapi ia juga mengingatkan bahwa potensi outflow tambahan masih terbuka hingga akhir Mei, mendekati tanggal efektif rebalancing. Saham-saham seperti BREN, AMMN, hingga TPIA disebutnya masih rentan volatil dalam jangka pendek.

Budi Frensidy dari Universitas Indonesia lebih blak-blakan. Langkah reformasi yang dijalankan OJK dan SRO dinilainya reaktif, bukan preventif. "Persoalan free float efektif, transparansi beneficial ownership, HSC, dan asimetri pengawasan harusnya ditangani lebih awal sebelum menjadi catatan MSCI-FTSE," imbuhnya. Pekerjaan rumah yang selama ini ditunda, agaknya.

Bagi investor yang kini sedang menghitung kerugian, Hans Kwee dari PasarDana menawarkan sudut pandang berbeda. Di balik volatilitas ini justru ada peluang akumulasi saham blue chip yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa oleh fund manager pasif. Hans memproyeksikan IHSG di kisaran 7.000-7.200 pada pertengahan tahun seiring efektifnya rebalancing MSCI di Juni, dan 7.600-7.800 hingga akhir 2026, dengan catatan konflik geopolitik ikut mereda.

Secara teknikal, area support IHSG berpotensi melebar ke 6.762-6.745, bahkan membuka gap di area 6.538-6.092. Resistance terdekat berada di 6.980-7.015 yang perlu ditembus untuk mulai menetralisir tekanan jual. Untuk saat ini, bagi yang belum siap akumulasi, hold dan wait and see bukan pilihan buruk.