Rupiah sudah di Rp17.400 per dolar AS. Bukan sekadar level psikologis, angka itu membuat kalangan ekonom mulai serius merevisi proyeksi kebijakan moneter Bank Indonesia.
Bank Permata termasuk yang paling gamblang mengubah arah pandangannya. Head of Macroeconomics and Market Research Bank Permata, Faisal Rachman, kini memperkirakan kenaikan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen bisa terjadi di Mei atau Juni 2026. Alasannya bertumpu pada pola historis: setiap kali rupiah melemah lebih dari 3 persen, BI cenderung merespons dengan pengetatan. Pelemahan saat ini sudah melampaui 4 persen. "Biasanya kalau rupiah melemah 3 persen ke atas, itu sudah ada potensi bisa kenaikan," ungkap Faisal.
Satu level di atas Faisal, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menegaskan bahwa ruang pemangkasan suku bunga praktis sudah menutup. Fokus BI kini bukan mendorong pertumbuhan lewat bunga murah, melainkan menjaga nilai tukar agar tidak makin amblas. Instrumen yang dipakai pun beragam: intervensi langsung di pasar valas, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), NDF, hingga operasi moneter lainnya. Semua digerakkan sebelum BI mau menyentuh angka BI rate-nya sendiri.
Strategi bertahan, bisa jadi. Tapi imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga terus merangkak naik belakangan ini, membuat selisihnya dengan BI rate dan imbal hasil obligasi jangka pendek kian menganga. Ekonom Senior DBS untuk kawasan Uni Eropa, India, dan Indonesia, Radhika Rao, menyebut tren ini sebagai "langkah terselubung" pengetatan moneter, cara BI menarik arus modal asing yang sensitif terhadap suku bunga tanpa harus secara resmi menaikkan rate. "Kami melihat peningkatan ini sebagai langkah terselubung untuk menaikkan suku bunga guna menarik arus yang sensitif terhadap suku bunga," tuturnya.
BI rate sendiri sudah bertahan di 4,75 persen sejak September 2025. Cukup lama.
Radhika memetakan dua pemicu yang bisa membuat BI akhirnya bergerak: tekanan depresiasi yang makin dalam, dan kenaikan harga BBM bersubsidi. Soal BBM, DBS menilai peluangnya masih kecil tahun ini. Tapi ada variabel yang patut dicermati: potensi penutupan Selat Hormuz. Kalau itu terjadi, tekanan harga energi global bisa merembet ke inflasi domestik dengan cepat, dan skenario kenaikan BI rate menjadi jauh lebih mungkin dari yang diperhitungkan sekarang.
Cadangan devisa juga masuk radar. Radhika mencatat tren moderasi dalam beberapa bulan terakhir, yang membuat BI agaknya makin berhati-hati menggunakan amunisi intervensi. Kombinasi cadangan devisa yang tidak bisa dipakai selamanya, rupiah yang tertekan, dan SRBI yang imbal hasilnya terus dipompa: gambaran bank sentral yang sedang berjalan di atas tali.
Buat investor obligasi dan pasar saham, sinyal ini tidak bisa diabaikan. Kenaikan BI rate, kalau betul terjadi di Mei atau Juni, akan mendorong yield obligasi naik dan menekan kinerja emiten berbeban utang besar. Deposito dan SBN justru jadi lebih menarik. Debitur dengan skema bunga mengambang perlu mulai menghitung ulang cicilan mereka.
Pasar sudah membaca arahnya. Pertanyaan yang tersisa hanya soal kapan BI mau mengakuinya secara resmi.