RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Dolar Tak Lagi Senjata Pamungkas: Apa yang Terjadi...

Finansial

Dolar Tak Lagi Senjata Pamungkas: Apa yang Terjadi Setelah Xi-Trump Bertemu di Beijing

Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Great Hall of the People pada 14 Mei 2026 bukan sekadar jabat tangan diplomatik. Di baliknya, ada pergeseran tektonik yang langsung terasa di pasar keuangan global, termasuk bagi investor Indonesia.

Kunjungan Trump ke China: Jalan Keluar Akhiri Perang?

Sepuluh menit. Hanya selang sepuluh menit setelah Washington mengumumkan sanksi baru terhadap jaringan perusahaan perdagangan minyak Iran pada 2 Mei 2026, Beijing sudah membalas dengan sesuatu yang bukan sekadar protes diplomatis biasa: China melarang seluruh entitas domestiknya untuk mematuhi sanksi itu. Bukan gertakan. Ini perintah hukum.

Ritme inilah yang seharusnya membunyikan alarm bagi pelaku pasar di Jakarta. Geopolitik sudah lama ikut mewarnai portofolio, tapi kali ini skalanya beda. Pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump di Great Hall of the People, Beijing, 14 Mei 2026, mengkonfirmasi bahwa tatanan keuangan global yang selama ini kita anggap stabil sedang retak dari dalam.

Xi, dalam pertemuan itu, menyampaikan narasi yang terdengar melankolis sekaligus penuh kalkulasi. Ia menyebut hubungan kedua negara harus dibangun di atas kemitraan, bukan persaingan, dan secara eksplisit mengajak AS untuk bersama-sama membuktikan bahwa mereka mampu menghindari apa yang dikenal sebagai Thucydides' Trap, tesis lama yang meramalkan perang hampir tak terhindarkan ketika kekuatan baru menantang kekuatan lama. Konfrontasi, tegas Xi, hanya membawa kerugian bagi kedua pihak.

Di permukaan, pernyataan itu terdengar seperti pembukaan babak baru. Konteksnya jauh lebih dingin.

Trump tiba di Beijing bukan dari posisi kuat. Gencatan senjata AS-Iran yang diumumkan sejak 7 April 2026 terus diperpanjang tanpa kejelasan, negosiasi damai mandek, dan mediasi yang difasilitasi Pakistan pada 11 April berakhir buntu. Iran menutup Selat Hormuz, AS membalas dengan blokade laut, saling serang terus berlanjut. Tekanan domestik di Washington kian berat. Inilah kunjungan pertama presiden AS ke China dalam satu dekade terakhir, dan waktunya bukan kebetulan.

Kenapa Beijing punya daya tawar sebesar itu? Angkanya bicara sendiri: lebih dari 80% ekspor minyak Iran mengalir ke China, senilai sekitar US$32,5 miliar atau setara Rp549,3 triliun per tahun. Iran butuh pasar China untuk bertahan dari isolasi Washington. China, sebaliknya, butuh stabilitas Selat Hormuz demi menjaga pasokan energinya. Ketergantungan asimetris ini menempatkan Beijing di kursi lebih nyaman dibanding Washington di meja negosiasi mana pun. Ditambah rekam jejak konkret: normalisasi hubungan Iran-Arab Saudi pada 2023 lewat Joint Trilateral Statement di Beijing membuktikan bahwa pengaruh Beijing di Timur Tengah bukan sekadar omong kosong.

Tapi ada lapisan yang lebih dalam dari cerita geopolitik itu, dan inilah yang langsung relevan bagi investor.

Selama beberapa dekade, sanksi ekonomi AS efektif bukan karena kekuatan moralnya, melainkan karena satu hal sederhana: siapa pun yang tidak patuh akan kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis dolar. Bank-bank global mematuhi daftar sanksi Washington hampir secara otomatis karena risiko terputus dari SWIFT terlalu besar untuk ditanggung. Sistem itu bekerja bak gravitasi, tidak terlihat tapi selalu terasa.

China sedang memotong tali gravitasi itu secara sistematis. Blocking rules yang kini aktif di Beijing menciptakan kewajiban hukum bagi perusahaan China untuk mengabaikan sanksi asing yang dianggap tidak berdasar hukum internasional. Lebih jauh lagi, kalau sebuah perusahaan multinasional memutus kontrak dengan mitra China karena mengikuti sanksi AS, mitra China itu berhak menuntut ganti rugi di pengadilan domestik Beijing. Ini menciptakan apa yang bisa disebut dilema kepatuhan ganda: patuh ke Washington, kena hukum di Beijing; patuh ke Beijing, kena sanksi Washington. Perusahaan multinasional dengan eksposur di kedua pasar, jujur saja, sedang pusing tujuh keliling.

Infrastruktur pendukungnya pun sudah berdiri. CIPS, sistem pembayaran lintas batas milik China, menyediakan jalur transaksi internasional yang tidak melewati gerbang keuangan Washington. Volume CIPS memang belum mendekati SWIFT, tapi arahnya jelas: dunia sedang membangun rel kereta paralel. Dan rel itu makin panjang tiap tahun.

Bagi Indonesia, ini bukan pertunjukan yang bisa ditonton dari kursi penonton. Bayangkan skenario berikut: bank BUMN Indonesia mendapat tekanan dari Washington untuk membekukan aset tertentu yang terkait jaringan sanksi Iran, sementara mitra investasi China mengancam memotong aliran modal kalau perintah itu dijalankan. Tanpa payung hukum domestik yang fleksibel dan kebijakan Local Currency Settlement yang lebih kuat, Indonesia akan selalu berada di posisi pelanduk di antara dua gajah. Frasa klise, tapi sayangnya masih tepat.

Pertemuan Xi-Trump di Beijing bisa membuka ruang de-eskalasi konflik Iran dalam beberapa bulan mendatang. China kemungkinan akan mulai menggunakan pengaruhnya atas Teheran untuk mendorong kesepakatan damai. Kalau itu terjadi, harga minyak dunia dan sentimen pasar emerging market bisa bergerak cukup tajam. Pertanyaannya: berapa lama skenario optimistik itu bertahan?

Investor yang hanya fokus ke gambaran cerah itu mungkin melewatkan gambar yang lebih besar. Mekanisme sanksi global tengah mengalami perombakan struktural. Biaya transaksi untuk menavigasi dunia yang terfragmentasi ini akan terus mendaki, apa pun hasil akhir pertemuan Beijing. Itu bukan prediksi. Itu sudah berjalan.